Saturday, October 24, 2015

Sore Senduku

Sore yang sendu,
Di dalam kamarku.
Menahan tangis sekuat tenagaku,
Karena hati yang tak kunjung bertemu.

Aku duduk di dinginnya ubin kamarku. Terpaku memandang monitor laptop yang putih, bersih, belum ada sepatah katah pun. Mataku bergerak kesana kemari tanda aku sedang berpikir, akan menulis apa hari ini. Sesekali aku merasakan panas di pelupuknya, dan sedikit rasa sesak di dadaku. Ku seka, kemudian aku berkata, “Tidak, aku kuat.” Demikian hingga aku mulai menemukan titik terang, lalu ku tuliskan sebait puisi sendu. Ada apa denganku akhir-akhir ini? Kenapa terlalu mudah untuk sakit? Kenapa terlalu mudah untuk luka? Siapa gerangan yang kira-kira membuat awan dalam relungku?

Hari ini, aku kembali berseteru dengan lelakiku. Sedih rasanya ketika pagi tadi kami masih bercanda seru, lalu mengakhiri siang dengan saling seteru. Tak berbeda dengan hari-hari yang lalu. Atau mungkin, minggu dan bulan-bulan yang lalu? Entahlah. Kapanpun itu yang jelas, aku seakan ingin menyerah saja sore ini. Menyerah atas tahun-tahun yang ku lewati bersamanya, menyerah atas hari-hari yang sudah indah dengannya. Kenapa harus menyerah? Kenapa harus kalah sebelum perang? Justru aku menyerah karena aku sudah kalah dalam perang. Perang sudah kulalui sedemikian lamanya sehingga aku tidak tahu strategi apa lagi, tak-tik yang bagaimana lagi yang harus ku gunakan untuk melawan keadaan yang tidak menyenangkan ini.

Setiap ada chat yang masuk ke ponselku, aku mencoba menjawabnya kemudian kusertakan kata “Hehehe” setelahnya. Begitu keras aku untuk mencoba kuat hingga aku harus pura-pura bahagia meskipun tidak. Tak terkecuali pesan darimu. Tidakkah kamu memperhatikan itu? Tidakkah kamu menengok sedikit saja bagaimana aku menguatkan diriku sendiri yang kehilangan jiwamu? Ketika kuliahku mengajarkanku mengintervensi orang lain, tampaknya kini aku mengintervensi diriku sendiri. Artinya, aku harus mengatasi apa yang menjadi problemku, tanpa bantuan orang lain. Menyakitkan.

Kali ini, kamu kembali jadi laki-laki asing dalam hidupku. Laki-laki yang sepertinya tidak mengenal bagaimana aku. Laki-laki yang sepertinya sudah lelah menjalani hari-hari dengan orang sepertiku. Laki-laki yang tampaknya bosan dengan ratusan hari yang telah dilewati dengan orang sepertiku. Lalu, seperti apakah aku? Aku adalah orang yang butuh didengar, dipahami dan dimengerti. Dan seperti apakah kamu? Kamu adalah orang yang selalu mendengarkanku, memahamiku dan mengerti akan aku. Tapi itu dulu. Lalu bagaimana aku menurutmu sekarang? Aku menurutmu sekarang adalah seseorang yang segala maunya harus menemukan kata iya, artinya menurutmu segala yang kumau harus terpenuhi. Mari, Kak, kita tengok bersama-sama bagaimana perjalanan kita selama ini.

Ketika aku sangat ingin kita jalan-jalan dan kamu tidak bisa, apakah aku tidak bisa mengerti? Ketika aku sangat ingin kita makan di suatu tempat dan kamu inginnya ke tempat lain, apa itu membuatku marah? Ketika aku sangat ingin membeli sesuatu yang menurutku lucu dan kamu melarangnya karena alasan hemat, apa aku juga sulit untuk memahami? Apakah ini yang kamu sebut sebagai “kemauanku harus terpenuhi”?

Aku sudah lelah jika harus meminta bantuan orang lain terus hanya untuk menyelesaikan segala permasalahan kita. Aku sudah terbiasa menghadapimu sendirian, mereka, teman-temanku, orang-orang sekitarku, hanya sebagai pendengar yang baik. Paling tidak, aku punya wadah untuk bercerita karena aku tahu, kamu tidak bisa menjadi seperti mereka.

Ketika aku butuh dukunganmu untuk membangunkanku di saat aku jatuh, kamu bukan orang yang bisa demikian. Ketika aku butuh dukunganmu untuk menjalankan usaha kecil-kecilanku, justru kamulah orang yang menyiutkan semangatku. Ketika kamu yang kuharapkan jadi sandaran empuk ketika aku menangis, hanya bonekamu yang menjadi demikian. Lalu kamu kapan? Bahkan aku sendiri pun jadi bagian yang mendukungmu habis-habisan disetiap langkahmu. Justru aku yang selalu ada untuk menyemangatimu ketika semangatmu luntur. Dan aku yang ikut menangis ketika kamu terjatuh.

Walaupun ragamu selalu ada untukku, walaupun keberadaanmu masih terlihat, aku sudah tidak bisa memeluk jiwamu, dan aku sudah tidak mengenali ada atau tidaknya keberadaan hatimu. Yang aku tau hanyalah apa yang aku lakukan adalah dominan salah dalam kognisimu. Yang aku tau hanyalah aku sudah berbeda ruang denganmu.

Jika aku ekstrovert, kamu introvert. Jika aku mampu menjadi diriku yang sekarang, jika aku masih bisa terjamah oleh hatimu, kamu tidak. Sayangnya dirimu yang dulu hanyalah euforia awal untuk mengambil hatiku, Kak. Tidak untuk sekarang. Jika dulu kita mampu berjalan bersama, berjuang bersama, tampaknya sekarang kamu lebih dulu berjalan dengan aku di belakangmu. Melindungimu jika kamu mulai resah, mulai meletup. Lalu, siapa yang akan melindungiku, di sampingku? Siapa yang akan menjadi temanku untuk berjalan bersama, bercanda akan suatu hal bersama, bercakap hangat dan menyenangkan seperti dulu?

Kak, walaupun aku tahu bahwa kamulah yang aku butuhkan, walaupun aku tahu bahwa kamulah yang selalu aku cari, apakah aku juga menjadi apa yang kamu butuhkan dan kamu cari?

Kak, aku selalu menghibur sendiri diriku tanpa bantuan orang lain, lho. Aku sudah bisa menahan tangisku agar tidak cengeng lagi, lho. Apakah kamu lihat itu?

Cerita ini, apakah kembali menemui ujung?




Aku menunggu suatu waktu dimana kamu dan aku, bisa kembali menjadi raja dan ratu yang bersanding, bukan raja yang mendahului sedangkan ratu yang melindungi.

Thursday, August 20, 2015

You're My Abstractness

Ketika rindu terhalang waktu,
Segalanya seakan lebih tak menentu.

Sejak ditutupnya deadline tugas beberapa minggu yang lalu, tanganku kembali kaku untuk menulis. Otakku kembali beku. Rasanya tidak ada inspirasi yang datang untuk sekadar singgah mencairkan kebekuan dalam pikiranku.

Hai, kamu.
Kali ini, kamu tiba-tiba menyeruak masuk dalam pikiranku. Kamu tiba-tiba mencairkan bongkahan es yang beku dalam otakku. Canda, tawa, suka, duka, tangis segalanya tumpah ruah menjadi satu. Hanya karenamu. Ajaib, tapi nyata. Bahagia kemudian sedih, sedih kemudian bahagia. Bersamamu segalanya bisa menjadi abstrak dan indah.

Maafkan aku jika selama 32 bulan bersamamu sudah menjadi seseorang yang menjengkelkan, menyebalkan, seseorang yang selalu membuatmu gemas, dan apapun itu. Aku menyayangimu dengan sangat, Tuan. Cinta? Tak usah ditanya. Rasanya aku sudah kehabisan kalimat untuk menjelaskan dengan gamblang bagaimana aku mencintaimu.

Selamat datang, 20 ke 32, Tuanku.
Terimakasihku pada Tuhan yang sudah mengutusmu menemaniku selama ini.
Terimakasihku pada mu yang sudah segan untuk menemaniku dalam kondisi apapun.
Walau diterpa hujan badai halilintar yang tak pernah lelah,
Bahkan kita selalu percaya selalu akan muncul pelangi setelahnya. Bukan begitu?

Perlukah aku menulis panjang lebar lagi untuk menjelaskan bahwa aku menyayangimu?
Ku pikir tidak. Karena sedunia tampaknya sudah tahu bahwa kita bertemu untuk disatukan, bukan diduakan atau ditigakan.

Kita bertemu, untuk menanti takdir Tuhan selanjutnya, apakah kita hanya akan sekedar langgeng, atau berjodoh.



Teruntuk pelangiku,
Irsandha Bakti Pratama.
Selamat tanggal 20, Pangeran :)

Friday, July 3, 2015

Warna-warni Kepribadian

Dasar, kepribadian ganda!
“Ah, dia mah emang gitu. Punya kepribadian yang aneh.”
“Subhanallah, kepribadiannya bagus banget... ramah, sopan, nggak neko-neko...”

Adakah di antara kita yang pernah mengatakan hal serupa seperti kalimat di atas pada orang-orang di sekeliling kita? Memang, berbicara tentang kepribadian tidak akan tuntas jika dibahas hanya satu atau dua jam. Tidak akan habis juga diulas dalam beberapa lembaran kertas. Tapi sebenarnya, apakah kita benar-benar sudah mengerti tentang apa yang dimaksud dengan kepribadian? Kita perlu menyadari bahwa, sebagai seseorang yang berada di posisi “awam”, kita punya banyak persepsi tentang kepribadian. Mungkin kita menganggap bahwa kepribadian merupakan sesuatu yang mencerminkan diri kita di hadapan orang lain. Atau bisa jadi, kita mengasumsikan bahwa kepribadian merupakan sebuah tolok ukur penilaian sikap orang lain yang berada di sekitar kita.

Banyak tokoh psikologi yang mendefinisikan kepribadian. Salah satu di antaranya ialah definisi dari Hall & Gardner Lindzey (dalam Sunaryo, 2004), yang menyatakan bahwa kepribadian adalah segala sesuatu yang menciptakan tata tertib dan keharmonisan terhadap segala bentuk perilaku yang dilakukan oleh individu. Singkatnya, kepribadian adalah segala sikap, emosi, ekspresi, perasaan dan karakteristik yang khas dari perilaku seseorang. Kepribadian individu yang satu dengan yang lain jelas berbeda. Setiap individu cenderung memunculkan perilaku yang konsisten terus menerus tergantung situasi yang ia hadapi saat itu. Hal ini lah yang membentuk sebuah ciri khas pada diri individu.

Kepribadian tidaklah hanya berujung sebuah istilah kepribadian. Maksudnya bagaimana? Kepribadian tidak hanya berujung satu macam, namun banyak sekali tipe kepribadian yang bisa kita temukan di sekitar kita. Banyak para tokoh psikologi yang mencetuskan berbagai tipe kepribadian ini. Tipe kepribadian tidak muncul begitu saja ketika kita beranjak remaja, kemudian dewasa hingga kita tua. Kita selama ini tidak menyadari bahwa pembentukan kepribadian dimulai sejak kita berumur 0 tahun. Dan dari pembentukan kepribadian ini pada saat individu beranjak dewasa, pasti akan terlihat beberapa karakter khas yang melekat pada diri individu tersebut

Salah satu karakter kepribadian yang bisa terbentuk ialah ekstrovert dan introvert. Sekilas, kita mengetahui bahwa seseorang yang ekstrovert merupakan orang yang secara umum mudah bergaul, aktif dan lain sebagainya. Namun berbeda dengan seseorang yang introvert. Secara umum, mungkin kita pernah menganggap seseorang yang introvert merupakan tipikal orang yang misterius. Seseorang yang introvert cenderung tertutup dan menarik diri dari lingkungan sekitarnya. Namun pernyataan-pernyataan ini merupakan asumsi-asumsi umum yang biasa kita dengar dari orang-orang di sekitar kita. Faktanya, setiap individu punya kedua sisi tersebut dalam dirinya. Jadi ringkasnya, seseorang yang ekstrovert punya sisi introvert dan begitu sebaliknya. Seseorang yang introvert juga punya sisi ekstrovert. Kedua sisi ini tentu mempunyai kadar yang berbeda. Pasti ada satu sisi yang mendominasi, kemudian sisi yang lain tetap ada namun mempunyai kadar yang sedikit.

Bagi kita yang belum mengerti ekstrovert dan introvert, pasti belum begitu ngeh  dengan apa yang saya paparkan di atas. Jadi, yuk kita perhatikan fakta di bawah ini tentang ekstrovert dan introvert.

Ekstrovert
Dalam artikel yang dipublikasikan oleh Rahajeng (2014), karakter ini biasanya dimiliki oleh orang-orang yang cenderung membuka dirinya pada dunia. Mereka yang punya karakter kepribadian ini biasanya suka keramaian, banyak melakukan interaksi dengan orang-orang sekitar dan sering terjun dalam aktivitas sosial. Kalian yang berada pada tipe kepribadian ini pasti lebih mudah mengungkapkan perasaan dengan kata-kata, cepat bosan apabila sedang sendirian dan cenderung lebih suka mengungkapkan dan bercerita daripada mendengarkan orang lain yang sedang bercerita. Namun, walaupun lebih suka bercerita, bukan berarti seseorang yang ekstrovert tidak bisa menjadi pendengar yang baik. Seseorang dengan tipe kepribadian ini tentu bisa menjadi pendengar sekaligus pemberi saran dan solusi yang baik. Seseorang yang ekstrovert juga cenderung sangat aktif, bersemangat dan easy going.

Adapun asumsi yang mengatakan bahwa ekstrovert bisa menjalani hidup lebih bahagia daripada introvert. Hal itu merupakan mitos, bukan fakta. Baik seseorang yang ekstrovert maupun introvert pasti meiliki caranya sendiri untuk bahagia. Mitos ini dimunculkan karena adanya pandangan orang awam tentang introvert yang menyukai ketenangan dan kesendirian sehingga disalahartikan bahwa introvert merupakan orang yang tak berteman, selalu menarik diri dan hal tersebut dianggap sebagai suatu keprihatinan tersendiri bagi orang-orang awam (Rahajeng, 2014).

Seseorang yang ekstrovert juga menyukai suasana yang tenang. Pada suatu waktu mereka akan membutuhkan kesendirian untuk dirinya sendiri mungkin hanya sekedar untuk beristirahat dari hingar bingar dunia. Walaupun jangka waktunya tidak lama, tapi pasti ekstrovert membutuhkan waktu untuk menyendiri. Kemudian, ada juga yang beranggapan bahwa seseorang dengan tipe kepribadian ekstrovert berpikiran dangkal (Rahajeng, 2014). Sekali lagi, ini juga merupakan salah satu dari sekian banyak mitos yang beredar. Dangkal atau tidaknya seseorang dalam berpikir tidak diukur dari ekstrovert atau introvertnya seseorang.

Dari penjelasan di atas, apa di antara kalian sudah ada yang memposisikan diri dengan tipe kepribadian ekstrovert?

Introvert
Yap, kebalikan dari ekstrovert, seseorang dengan tipe kepribadian introvert juga memiliki keistimewaan. Faktanya memang seseorang yang introvert cenderung menutup diri dari dunia luar, lebih menyukai suasana yang tenang dengan kegiatan-kegiatan yang sifatnya damai, seperti membaca buku atau menulis (Rahajeng, 2014). Orang-orang yang introvert lebih menyukai bekerja dalam suasana yang tenang, tidak terganggu oleh lalu lalang banyak orang. Dari segi interaksi pun, seseorang yang introvert merasa lebih nyaman berkomunikasi 1 by 1 dengan orang lain (Rahajeng, 2014). Namun, hal ini bukan berarti introvert tidak pernah berinteraksi dengan banyak orang. Seseorang introvert bisa memposisikan dirinya sebagai seseorang yang profesional. Apabila ada suatu hal yang menuntut untuk bekerja sama dengan orang lain, introvert bisa mengatasinya dengan pemikiran analitisnya. Ia bisa bekrja sama dengan orang lain, hanya saja jika ditinjau dari hubungan yang lebih dekat, seseorang yang introvert pasti lebih nyaman berbicara dengan perseorangan.

Beberapa asumsi mengatakan bahwa introvert adalah seseorang yang pemalu (Rahajeng, 2014). Ya, itu benar. Beberapa dari mereka pasti ada yang pemalu. Namun, dari sini kita perlu membedakan bahwa introvert itu berbeda dengan pemalu. Seseorang yang ekstrovert pun beberapa pasti ada yang mengakui dirinya sebagai pemalu. Namun perlu diketahui, seorang introvert dianggap pemalu karena orang-orang istimewa ini kebanyakan berpikir sebelum bertindak. Sehingga lagi-lagi banyak orang yang menyalahartikan hal ini sebagai pemalu. Kemudian, dikarenakan adanya asumsi introvert merupakan seorang yang pemalu, banyak juga yang mengasumsikan bahwa seorang introvert tidak bisa menjadi public speaker. Padahal, setengah dari public speaker dunia merupakan seorang introvert (Rahajeng, 2014). Seorang introvert akan bisa menjadi public speaker yang baik apabila mereka sudah mempersiapkan dengan matang dan dengan latihan yang berulang. Bagi mereka slogan “Practice makes perfect” merupakan slogan yang sangat memotivasi agar perannya sebagai public speaker bisa berjalan dengan baik.

Jadi, apakah di antara kalian sudah bisa memposisikan diri sebagai  seseorang yang introvert?

Kesimpulannya, manusia diciptakan dengan berbagai macam rupa, budaya, dan ciri khasnya masing-masing. Begitu pun dalam dirinya, manusia pasti mempunyai warna kepribadiannya yang khas. Kepribadian yang sifatnya dinamis akan membawa kita untuk menghargai individual differences yang terdapat pada diri masing-masing orang. Paling tidak, tulisan ini bisa membawa kita untuk mengetahui bahwa ekstrovert dan introvert sama-sama punya sisi keistimewaan masing-masing. Mereka bisa bahagia dengan caranya sendiri. Maka dari itu, diharapkan apabila nantinya menjalin interaksi dengan orang lain, kita sudah bisa merinci bagaimana tipe kepribadiannya sehingga komunikasi yang kita gunakan juga bisa pas dan sesuai pada tempatnya.

Jika aku seorang ekstrovert, tetap ada bagian yang tenang dalam diriku.
Jika kamu seorang introvert, kamu pasti punya sesuatu yang menyenangkan dalam dirimu.
Sungguh menyenangkan bukan apabila kita saling melengkapi satu sama lain?

Tertanda,
Linda Rahmadhani Febrian.



Daftar pustaka:
Sunaryo. (2004). Psikologi untuk Keperawatan. Jakarta: EGC
Rahajeng (2014, 14 Juli). Introvert, Ekstrovert dan Ambievert. PsikologID [on-line]. Diakses pada tanggal 2 Juli 2015 dari http://psikologid.com/introvert-ekstrovert-dan-ambievert/

Wednesday, June 3, 2015

Peluk Aku, Tuhan.

Ya Allah, aku lelah…

Sudah dua setengah tahun lamanya aku dan dia mengarungi waktu. Menghabiskan waktu berdua untuk berbagi pengalaman, berbagi kasih sayang dan berbagi hati satu sama lain. Sudah berkali-kali kami melewati kerikil kecil hingga batu terbesar pun. Sudah berkali-kali juga kami memandangi bersama indahnya pelangi dalam hubungan kami. Bagian tersulit ialah, saat kami sama-sama saling dibalut oleh keegoisan kami. Tidak mau mengalah satu sama lain, hanya ingin menang atas diri kami sendiri. Namun pada akhirnya, kami sadar apa yang kami lakukan ialah hal yang salah. Pada akhirnya kami berdamai, begitu pun dengan hati kami.

Namun tidak dengan beberapa hari ini…

Aku menahan tangisku rapat-rapat, bukan karena tidak ingin menangis. Aku sangat amat ingin menangis, hanya saja aku tidak menemukan tempat  yang tepat untukku menumpahkan tangisku. Aku butuh kesunyian, aku hanya butuh Tuhan yang memelukku erat agar ku bisa tersedu dengan hebat. Sejujurnya, aku terlalu lelah. Sejujurnya, hatiku kini remuk redam atas segala hal yang terjadi antara aku dengannya. Sejujurnya, aku ingin berteriak lepas. Namun aku tahu, sekeras apapun aku berteriak, dia akan tetap jadi dia.

Ada satu teman yang bilang “kalau hakmu ingin dipenuhi, penuhi dulu kewajibanmu buat dia. Jangan keburu nuntut hak dulu.” Lalu, aku mencoba melakukan kewajibanku sebagai manusia kepadanya. Bagaimana harusnya perempuan bersikap, bagaimana harusnya perempuan bertingkah, dan lain sebagainya. Aku melakukannya. Aku mengalah, aku berkata lembut, walau sempat terjadi kesalahpahaman aku mencoba menyikapi dengan halus, aku mencoba ini dan itu sekuat yang aku mampu. Namun pada kenyataannya, kenapa aku yang selalu diinjak seperti semut kecil yang tak berdaya?

Ya Allah, aku tertekan.
Aku lelah terus menerus mengalah.
Maaf jika aku terus menerus mengeluh...

Ya Allah, aku menulis karena aku tak bisa menceritakan kepada makhluk Mu. Aku menulis karena aku sudah tak bisa berkata banyak. Bolehkah aku menyerahkan segalanya pada Mu? Bolehkah aku menangis tersedu dalam peluk Mu? Engkau melihatku. Di sampingku, di manapun Engkau, tentu kini Kau sedang membaca tulisan yang tak berarti ini. Tolong aku...

Entah mengapa, terkadang aku bisa sangat mengenalnya. Mengenal dirinya yang lembut tutur katanya. Mengenal dirinya yang halus perilakunya. Namun juga, aku bisa sangat tidak mengenalnya ketika ia berlaku kasar, seakan aku bukan kekasihnya, seakan aku bukan sosok wanita yang dicintainya. Seperti saat ini, apa aku masih jadi sosok yang sangat kau cintai? Jika ia, mengapa kau bersikap sekasar ini?

Nafasku tercekat. Tahu, bagaimana rasanya ingin menangis tapi tertahan, kan? Ya seperti itulah diriku sekarang.

Mungkin aku akan terus mengalah.
Walau aku juga tak bisa menjamin nantinya aku yang akan menang,
Kamu tetap yang ku sayang.
Sadarlah, bukalah mata hatimu, aku di sini tersiksa.
Hanya Tuhan yang tahu seberapa kuat aku bisa menahan.
Aku memang kecil dihadapanmu, tapi sadarlah,
Mungkin kau juga kecil di hadapan Tuhan.



Tertanda,

Aku yang—sangat—mencintaimu.

Tuesday, June 2, 2015

Tolong, Hormati Wanitamu.

Sakit rasanya, ingin bicara namun membisu.
Nyeri rasanya, ingin bersuara namun terbungkam.
Perih rasanya, ingin menangis namun tertahan.

Tawaku semakin, semakin dan semakin keras tat kala tangisku tak bisa ku luapkan. Tawaku juga semakin terbahak-bahak ketika lukaku juga semakin menganga lebar. Kamu, tentu tidak akan bisa mendengar kerasnya tawaku, apalagi tangisku yang tersedu-sedu itu. Telingamu pasti tertutup rapat untuk mendengar segala suara yang munculnya dari pita suara bahkan hatiku. Entahlah, sudah terlalu lelah raga ini. Sudah terlalu letih hati ini.

Aku tidak pernah mengalami sebelumnya kejadian dimana aku dipandang sebelah mata oleh kekasihku sendiri. Jika aku tanyakan padamu, apa kamu juga pernah dipandang sebelah mata oleh mantan kekasihmu saat masih menjalin kasih bersama? Menurutmu, tidakkah itu menyakitkan?

Seakan aku benar-benar kecil di hadapanmu. Seakan aku hanya seekor semut yang tak berteman hingga bisa kau injak dan aku hanya bisa pasrah akan apa yang kau perbuat. Sekecil itu kah aku di hadapanmu? Kau bilang aku harus belajar mengusahakan seseorang yang sedang marah dan tak bisa menurunkan egonya. Lalu, bagaimana dengan aku yang sedang berada di posisimu saat ini? Kira-kira bagaimana caramu mengusahakan aku? Apa sudah sesuai dengan apa yang aku inginkan? Belum. Apa dengan mengatakan “Yaudah, kalau kamu masih marah, terserah kamu :*” itu sudah membuat segalanya baik-baik saja? Apa menurutmu itu sudah menyelesaikan masalah yang muncul di antara kita?

Kau bilang, kau sudah lelah, maka dari itu kau “menterserahkan” jika aku marah. Lalu bagaimana dengan aku yang harus mengirim puluhan teks permintaan maaf padamu saat posisi kita ditukar? Rasanya berdarah-darah menghadapimu demikian. Rasanya aku seperti memanjat tebing curam tanpa alas kaki namun puncak yang ku tuju masih sangat jauh. Lalu bagaimana denganmu yang dengan semudah itu menyerah?

Memang benar, entah kenapa laki-laki hanya berjuang saat ingin mendapatkan, bukan saat ingin mempertahankan. Apa kamu salah satu dari sekian banyak laki-laki yang bertingkah demikian? Lalu, menurutmu aku perempuan yang bagaimana? Apa aku memang perempuan yang pantas dengan seenak hati diinjak dan dipandang sebelah mata?

Aku diam saja. Aku tidak ingin masalah semakin berkembang biak. Aku tidak ingin melahirkan masalah baru yang semakin runyam. Aku tidak ingin memperkeruh keadaan dan suasana. Tapi bagaimana jika inginku yang demikian justru tak didukung olehmu? Bagaimana jika memang kamu sendiri belum bisa berdamai dengan emosi yang berkecamuk dalam benakmu? Haruskah aku terus yang salah? Haruskah aku terus yang kau jadikan objek kesalahan?

Banyak pertanyaan yang tak bisa ku jawab sendiri, sayang. Banyak pertanyaan yang tak bisa aku pikir secara rasional. Dan tolong, jangan salahkan aku saat aku menulis di sini. I write because I think no body listen.

Mengertilah, aku wanita.
Dan semua wanita harus dihormati.

Tertanda,

Kekasihmu yang sedang sakit hati.

Sunday, May 24, 2015

Sebatas Mimpi

                “Bim, aku balik dulu ya.” Pamitku dengan mengulurkan juga tangan kananku. Bima membalas salamku, dengan menggenggam erat jemariku. Sangat erat.

                “Bim, kam...” belum sempat aku melanjutkan tanyaku, ia sudah menarik tubuhku ke pelukannya. Aku tercengang. Aku diam membisu. Lidahku rasanya kelu untuk berkata walau hanya sepatah kata. Dadaku merasakan adanya kehangatan pribadinya pada saat itu juga. Tubuhku serasa terbenam.

                Bima melepaskan aku yang masih diam seribu bahasa. “Kita jalan dulu, yuk. Bentar aja.” Ajaknya.

                “Tap...” lagi-lagi, ia membuatku diam tanpa kata. Tangannya yang masih menggenggam tanganku mampu menarik tubuhku mengikuti langkahnya. Aku tidak tahu kemana ia akan membawaku pergi.

                “Bim, kita mau kemana?” tanyaku.

                “Ikut aja, aku nggak ada niatan culik kamu kok.” Jawabnya.

                Aku pasrah mengikutinya. Dan tak lama, kami tiba di suatu tempat. Bukan tempat umum, namun dari situ kami bisa melihat matahari membenamkan dirinya. Sungguh menakjubkan. Tidak pernah terpikir, Bima si manusia tak banyak berbicara itu bisa membawaku ke tempat seindah ini. Untuk kesekian kalinya, aku hanya bisa terdiam. Bingung mau berkata apa.

                “Kenapa kamu ajak aku kesini?” tanyaku tanpa sedikit pun menoleh ke arahnya. Khawatir pipiku yang memerah seperti senja sore ini kepergok olehnya.

                “Pengen aja. Bagus kan?”

                “Bagus, Bim. Bagus banget. Tapi kenapa?”

                “Kepo.” Jawabnya singkat, sambil tertawa sedikit. Aku meliriknya sejenak, terlihat gigi taring yang gingsul itu nampak saat ini. Aku tertarik juga tuk ikut tersenyum. Dia selalu begitu. Manis sekali.

                “Yuk balik, salah-salah aku nanti yang dituduh culik kamu.” Katanya mengajakku kembali.

                “Emang udah diculik, Bim.” Jawabku.

                “Iya, yang aku culik hatimu doang.” Dengan tiba-tiba mengejutkan lagi.

                “Apa?”

                “Hehe, nggak lupain aja.” Begitu saja jawabannya, lalu kemudian tangan kirinya menggantung di pundak kiriku. Aku tak bisa mengelak. Yang aku bisa hanya menoleh seketika ke arahnya, lalu mengarahkan pandanganku lagi ke depan jalan dan tentunya, berjalan bersamanya.

                “Jangan pergi, po.o.” pintanya dengan logat khas Surabaya-nya.

                “Maunya juga gitu, keleus.” Jawabku.

                Tak lama, sampailah kami ditempat perpisahan. Aku masuk mobil, kemudian membuka cendelanya. Aku melambaikan tanganku ketika mobil mulai berjalan menjauh. Ku lihat Bima tak hentinya melambaikan tangannya untukku. Hingga ku benar-benar tak melihat dia lagi. Lenyap.

---

                Subhanallah, mimpinya.
               
                Pagi itu aku bangun dengan terkejut sekaligus tercengang akan mimpi yang ku alami semalam. Berkali-kali aku menarik nafas panjang untuk meyakinkan diriku bahwa semuanya hanya mimpi. Tidak. Aku tidak dekat benaran dengan dia. Dia tetap menjadi seonggok rasa yang aku sembunyikan rapat-rapat. Aku akan tetap jadi teman, tak lebih. Ya, tak lebih.

                Ah, aku ingat. Semalam, mataku yang sebenarnya sudah mulai terlelap kembali terbelalak melihat status yang ia buat saat itu juga. Jadilah aku stalking. Jadilah aku tak tidur hingga sepertiga malam. Jadilah aku terlelap tak sengaja dengan foto profilnya yang masih terbuka dan tergengam dalam tanganku. “Pantas aku mimpi seperti itu.” Batinku.

                Begini ya rasanya dekat denganmu. Begini ya rasanya berada terus-terusan di sampingmu. Begini ya rasanya memperhatikan senyummu dari dekat. Begini ya rasanya memimpikanmu. Serasa hangat seperti kepribadianmu.

                Pagi itu, kau berhasil membuatku tersenyum di awal hariku. Tak perlu bertemu denganmu untuk tersenyum. Hanya memimpikanmu saja sudah membuatku terkekeh seperti ini. Hanya memimpikanmu saja, ingatannya tak kunjung hilang mungkin untuk 3 hari ke depan. Syukurlah kau masih bisa menemuiku via mimpi, daripada tidak sama sekali.

                Tapi yang jadi pertanyaan, pertanda apa?
                Apa kamu benar-benar tak ingin ku tinggalkan?
                Jika di mimpi kamu terasa dekat dan hangat, mengapa nyatanya tak demikian?

                Cinta memang unik.
                Kadang percaya diri, kadang juga sembunyi.

Thursday, May 21, 2015

Bintang Malam Ini

Langit Surabaya malam ini sedang cerah-cerahnya. Bintang ada dimana-mana, bulan sedang tersenyum dengan manisnya. Sama persis dengan hatiku. Sedang cerah secerah-cerahnya. Andai dia tahu…

Dari balkon kamarku, aku memandangi langit malam ini dengan suasana hati yang tenang. Sesekali aku tersenyum. Aku membayangkan sesuatu yang lagi-lagi ku temui hari ini. Kamu. Iya, kamu. Aku tersenyum kepada langit luas karena membayangkanmu. Aku ingat bagaimana sudut-sudut yang terbentuk dari lekukan senyummu. Aku ingat setiap detik yang kau habiskan hanya untuk menertawakan betapa konyolnya aku. Aku ingat juga cara berjalanmu yang khas. Aku ingat semuanya, tentu saja. Kalau tidak tentang dirimu, hal apa lagi yang membuat otakku sesak hingga kemudian bisa tersenyum sendiri ketika melihat bintang?

Di antara beribu bintang, hanya kaulah yang paling terang
Di antara beribu cinta,pilihanku hanya kau sayang…

Lagu itu yang entah sudah berapa kali aku senandungkan malam ini. Tidak ada rasa bosan untuk terus menerus melantunkannya. Skema tentangmu seakan terus terkonsep seiring dengan alunan laguku dan tatapan mataku pada bintang. Jantungku sesekali berdegup lebih kencang ketika ada pesan masuk walau aku tak tahu siapa pengirimnya, dan aku harap itu adalah kau, si Tuan super sibuk.

Sayangnya, aku ini introvert. Sulit bagiku untuk mengemukakan secara gamblang kesukaanku pada sosokmu. Sulit bagiku untuk terbuka tentang bagaimana rasaku. Hanya lewat secarik kertas ini ku tuliskan dengan jelas dan tak terbata-bata, aku menyukaimu.

Campur aduk rasanya ada di posisiku. Bahagia saat dekat, namun ketika kamu bersama yang lain, kelabu rasanya. Ah tidak. Aku bersyukur dengan jarak yang diberikan Tuhan untukku saat ini bersama bintang—kejora—ku. Jika aku bisa melihat ribuan bintang di langit yang seakan diam dan ikut menatapku, hal tersebut juga terjadi saat aku menatap gambarmu. Kau tak bergerak, namun aku akan terus merasa bahwa kau juga terus menatapku—kita saling menatap.





Manusia bisa memilih seperti apa psychologycal well-being yang mereka inginkan.
Pun aku.
Psychologycal well-being yang ku pilih ialah, sosokmu.

Wednesday, April 29, 2015

Gerbong Penataran

Throwback, April, 25th 2015.

Kedatanganku siang bolong di stasiun itu tampaknya menjadi kedatangan yang tidak beruntung. Mataku terbelalak saat mengetahui jadwal kereta yang ku tumpangi mundur satu jam. Akhirnya, aku berusaha berdamai dengan jadwal yang sedikit merugikan itu. Aku menganggap tidak apa-apa, yang penting aku bisa pulang. Satu hal lagi yang membuatku terkejut ialah saat petugas loket bilang, “Jurusan ke Bangil tinggal yang berdiri, Mbak.” How pity I am... akhirnya, lagi-lagi aku kembali me-tidak apa-apa-kan sesuatu yang lagi-lagi membuatku tidak beruntung itu. Namun lagi-lagi aku berpikir, ini tidaklah buruk.

Akhirnya, karena pemberangkatan keretaku masih 5 jam lagi, ku putuskan untuk kembali pulang ke kost. Ah... gagal menghemat untuk kesekian kalinya.

Setelah usai aku menunggu di kost, aku kembali berangkat ke stasiun pukul 5 sore sedangkan keretaku akan berangkat pukul 5 lewat 40 menit. Sudah 3 kali aku naik taksi dalam sehari. Itu bukanlah suatu hal yang keren, ketahuilah bahwa itu merupakan pemborosan yang amat sangat karena argo tarif menunjukkan biaya perjalanan pulang dan pergi yang sangat berbeda jauh. Andaikan aku tidak trauma naik angkutan umum yang ada di kota ini, pasti aku sudah memutuskan untuk naik kendaraan murah meriah itu saja. Tidak perlu memusatkan perhatian lebih pada ongkos, angkutan umum akan tetap meminta tarif yang sama pulang dan pergi.

Aku kembali ke stasiun tua ini dan langsung memasuki peron. Karena baru pertama kalinya naik kereta “tanpa tempat duduk”, jadilah aku menanyai petugas peron yang bertugas memeriksa tiket saat itu. Dan akhirnya, aku menemukan jawabannya. “Kalo tanpa tempat duduk, bisa bebas pilih gerbong mana aja kok, Mbak. Kalo ada kursi yang belum ada orangnya, mbaknya duduk situ aja dulu.” Yep! Jawaban yang memuaskan, hehe. Aku tak lantas lega, aku semakin deg-degan detik-detik penyambutan datangnya keretaku. Self talk, selalu jadi obat ampuh ketika sedang dalam keadaan seperti ini. Setidaknya aku bisa bilang “Semua akan baik-baik saja” pada diriku sendiri.

Tidak pernah ku sangka, aku berhasil menaiki kereta “tanpa tempat duduk” yang tertera dalam karcisku ini. Dalam detik-detikku naik ke atas kereta, aku mengekor di belakang ibu-ibu seumuran ibuku. Beliau sama-sama tidak mendapatkan kursi dalam kereta. Yap! Seperti yang dikatakan petugas peron, aku duduk di sembarang tempat yang aku inginkan asal tak ada orang yang menempati. Benar saja. Aku yang tetap mengekor dan sedikit berbincang dengan ibu yang ku kenal dengan nama “Bu Nunuk” itu duduk di tempat yang kosong dengan berharap mudah-mudahan tidak ada yang datang lalu menagih haknya. Bu Nunuk seorang yang sangat ramah. Ya walaupun kami tidak berbincang tentang hal yang bersifat terlalu pribadi, namun beliau menjelaskan cukup rinci atas dasar apa datang ke kota metropolis ini. Di tengah perjalanan, kami diusir untuk kali pertama. Selang 2 stasiun yang kami lewati, kami kembali diusir untuk yang kedua kalinya. Kemudian sudah tinggal 2 stasiun lagi sebelum stasiun yang ku tuju tiba, lagi-lagi kami diusir si pemilik hak duduk. “Apa mau dikata.” Pikirku.

Kepindahan tempat dudukku yang ketiga ini merupakan kepindahan yang mengesankan. Aku mengenal seorang wanita, tomboy, paling tidak usianya sekitar 23 tahun, namanya Tinggar. Ia merupakan wanita asli kota Malang. Tujuannya ke Surabaya ialah untuk menemui saudaranya. Spesialnya, mbak Tinggar ini tak enggan untuk merelakan tempat duduk yang sebenarnya bukan haknya, untuk aku tempati. Padahal aku, juga tak punya hak untuk duduk, kan? Pada akhirnya karena kursinya sudah ku tempati, ia lantas menduduki tas ranselnya yang terlihat padat di samping kursi keretaku. Tentu hatiku tergerak untuk mengembalikan tempat duduk yang tak seberapa empuk itu. Namun mbak Tinggar tetap bersikukuh memberikannya padaku. Karena itulah, kami lantas terlibat dalam sebuah pembicaraan. Dalam percakapan kami, yang aktif bercerita ialah mbak Tinggar. Aku hanya menjadi pendengar yang baik. Ia menceritakan kisah hidupnya dengan gamblang kepada orang asing yang baru ia kenal yaitu aku. Aku tidak mengerti mengapa itu bisa terjadi. Tapi kembali ku pikir, mungkin mbak Tinggar sudah lelah dengan rentetan beban hidup yang ia ceritakan padaku. Mulai dari masalah keluarga, tempat tinggal hingga finansial dan pekerjaan. Semuanya ku dengar.

Kisah tetaplah kisah. Layaknya psikolog yang sedang menangani seorang client, tentu bukan hakku membeberkan kisahnya di sini. Yang bisa aku petik dari kisah hidup mbak Tinggar ialah, “Hidup dengan apa adanya, kerja belum dapat uang banyak pun syukuri saja, ya karena yang apa adanya, memang demikian wujudnya. Kita tidak pernah bisa tahu kapan Tuhan akan menolong kita lewat hamba-hambaNya yang baik. Yaitu tadi, kita harus apa adanya.” Sampai sekarang masih ku simpan dan ku pegang erat-erat apa yang disampaikan mbak Tinggar. Sebelum aku turun di stasiun tujuanku pun, aku sempat berpamitan padanya. Ia juga berkata, “Semoga kita ketemu lagi ya, Dik! Wallahualam!” ujarnya sambil melambaikan tangan padaku. Manis sekali tampaknya perpisahan kami malam itu.

Seiring langkah kakiku keluar dari stasiun, seiring juga pikiranku tak henti mengingat dengan jelas pesan yang disampaikan oleh mbak Tinggar. Aku selalu tersenyum sendiri tiap kali ingat dia, dan pesannya.



Kapan-kapan, semoga kita ketemu lagi ya, Mbak.
Semoga, Mbak juga dpertemukan dengan secarik tulisanku ini.
Aku kagum sama Mbak.
Tertanda, Linda, orang asing yang bertemu denganmu di Gerbong Penataran.

Saturday, April 11, 2015

Percuma Merindukan Orang yang Kau Rindu

Asdfghjkl.

Aku bingung harus menuliskan apa di kertas putih ini. Perasaanku campur aduk. Namun tidak ada bahagia-bahagianya. Layar ponselku menunjukkan percakapanku denganmu via whatsapp. Tiba-tiba kamu cuek. Tiba-tiba dalam waktu yang tidak biasanya kamu berpamitan tidur. Tiba-tiba kamu berubah. Kamu ini sebenarnya apa? Power rangers?

Percuma aku menyatakan kerinduanku jika tak berbalas sedikitpun. Percuma aku menulis panjang lebar pesan untukmu jika ujung-ujungnya kau tertawakan. Percuma aku menuliskan cerita tentang kamu jika kamu tidak mengerti kalau aku merindukanmu. Aku tidak tahu apa maksudmu sebentar menjadi A dan sebentar menjadi B dalam waktu yang singkat. Aku sedang tidak ingin digoda. Aku sedang tidak bisa diajak bercanda.

Bahagia sekali menjadi seorang kamu yang selalu dihujani kerinduan dari orang-orang sekitarmu. Bahagia sekali menjadi kamu, seorang laki-laki yang selalu dirindukan kekasihnya. Sedangkan kekasihmu di sini sangat ingin dirindukan oleh lelakinya sendiri. Sedangkan disini ada kekasihmu yang sedang mengungkapkan kerinduan tapi hanya kau anggap sebagai lelucon belaka.

Aku yang hanya bermaksud ingin kau balas pesannya, kemudian kau balas, “Nyepam mulu -_-“. Lalu jika seperti itu, bagaimana caramu menghargai seseorang yang benar-benar merindukanmu? Setahuku cara yang biasa kamu pakai tidak seperti ini. Jujur saja, aku seperti angin yang lewat begitu saja di hadapanmu. Tidak digubris.

Sedih rasanya. Tapi, yasudah. Mungkin waktuku merindumu yang tidak tepat. Bukan salahmu untuk tak menggubrisku demikian. Bukan salahmu juga tidak menghiraukanku seperti itu. Itu hakmu, seutuhnya. Mungkin suatu saat kamu akan menetahui bagaimana rasanya jadi aku. Bagaimana rasanya rindu, sekaligus rasa percuma merindukan orang yang kau rindu.



Selamat Malam.

Tertanda, perindumu yang percuma. 

Jarak

Aku menamatkan novel itu semalam. Air mata tidak berhenti berderai membayangkan akhir cerita dari novel tersebut. Memang benar, membaca membuat imajinasi kita lebih liar daripada hanya menonton film. Ah, sudahlah. Ini hanya cerita yang tidak berakhir bahagia. Ini hanya novel. Ini hanya cerita yang sengaja dibuat untuk kepuasan imajinasi. Begitu terus yang terngiang di kepalaku, namun aku tetap tidak bisa berhenti menangis.

Mengapa ada pertemuan bila nantinya ada perpisahan? Mengapa ada awal bila nantinya ada akhir? Mengapa tidak bertemu saja agar perpisahan dan akhir tidak terjadi kepada kita? Pertanyaan semacam itu yang terus menggaung di kepalaku. Hingga akhirnya aku sadar, aku hidup nantinya juga pasti akan mati. Akhir, perpisahan dan kematian memang bukanlah sesuatu yang kita inginkan. Namun itu merupakan hukum alam yang sudah tidak bisa diganggu gugat bagaimana mestinya.

Novel ini membawaku ingat akan suatu hal yang pernah ada di antara kita. Ya, di antara aku dan kamu. Tepat setahun yang lalu, kita menjalani hubungan jarak jauh. Orang bilang, “Ah, hanya Pasuruan-Surabaya.” Atau, “Alah, Surabaya Pasuruan deket kali.” Dan kalimat-kalimat yang serupa dengan itu. Jika kamu tahu, aku sebal saat mereka mengatakan demikian kepadaku. Aku sangat sebal. Aku merasa seakan orang-orang di sekitarku selalu melihat sisi berlebihanku. Aku merasa diperlakukan tidak adil karena mereka yang mengataiku mungkin belum pernah merasakan apa yang aku alami saat itu. Mereka tidak tahu rasanya hanya berjumpa lewat kata dan suara. Mereka tidak tahu rasanya mendapat kesempatan emas bertatap muka hanya dalam seminggu sekali dan bisa jadi tidak lebih dari satu atau dua jam. Mereka tidak mengerti bagaimana sebuah kepercayaan dan pengertian bisa menjadi satu kunci keberhasilan dalam hubungan ini. Mereka tidak mengerti banyak hal. Yang mereka tahu ialah hubungan jarak jauh antara Pasuruan-Surabaya itu, dekat.

Di tengah derai tangisku malam tadi, mendadak aku merindukanmu. Aku menyebut-nyebut namamu dalam tangisku. Aku banyak menyebutkan jika “aku tidak ingin seperti itu.” Aku seakan dibuat trauma akan hubungan jarak jauh ini. Aku seakan dibuat takut apabila hubungan semacam itu kembali terulang. Dan jika memang suatu saat terulang dengan jarak puluhan, ratusan atau ribuan kilometer, apa yang harus aku lakukan? Apa yang akan kamu lakukan juga? Aku memejamkan mata, masih ada air mata yang menetes dari pelupuk mataku. Tidak, semua tidak akan menjadi rumit dan sulit apabila kita punya kuncinya. Semuanya tidak akan menjadi beban jika kita tidak menganggap jarak sebagai penghalang. Aku meyakinkan diriku bahwa, dulu kita pernah melewati masa-masa yang tidak kita inginkan itu. Kita bisa. Kita akhirnya dipertemukan kembali di kota yang sama dengan cerita yang lebih indah. Dari sini aku mulai bisa berpikir jernih. Tuhan menyayangiku, dan akan selalu memberikan cerita indah setelah hujan badai yang menerpaku. Pun Tuhan sangat amat menyayangimu.

Aku mulai bisa tenang. Aku mulai bisa mengatur napas dengan teratur. Mataku masih sembab, namun air mata tampaknya sudah mulai surut. Setelah menangis pun, aku masih tidak bisa tidur. Beda dengan biasanya, aku justru akan mengantuk begitu dalam apabila usai menangis. Ku letakkan novel yang sedari tadi ku pegang, dan aku mengalihkan perhatianku ke ponselku. Iseng, aku membuka akun media sosial instagram. Aku ingat, kamu bukan tipikal orang yang social addict, namun kamu juga pernah sesekali waktu mengunggah foto-foto ke akun instagram mu. Iseng, aku bertandang menuju akunmu walaupun aku tahu aku tidak akan menemukan hal baru di sana. Dan benar, tidak ada posting baru, namun hal itu bukan masalah bagiku. Ku perhatikan, sebagian besar foto yang kamu unggah ialah foto berdua kita. Foto perdanamu di akunmu ini adalah fotoku. Sederhana, tapi itu cukup membuat air mataku menetes (lagi). Tidak deras, namun tetap saja menetes. Cengeng.

Aku memperhatikan setiap detil foto yang kamu unggah. Aku memperhatikan senyummu, membayangkan tawamu, membayangkan bagaimana gayamu berbicara, bagaimana cara berjalanmu, dan bagaimana kamu memperlakukanku sebagai wanitamu saat ini. Di balik segala keluhanku akan perubahan sikapmu, di balik segala ketidakterimaanku akan caramu mempetuahiku, dan di balik segala yang aku rasakan kepadamu, ada satu hal yang melekat dalam hatiku. Aku bersyukur dipertemukan oleh sosokmu. Banyak hal yang tidak dipunyai orang lain, ada pada dirimu. Banyak hal yang tidak ku dapatkan dari orang lain, ku temukan hal itu pada dirimu. Namun sayangnya, aku seakan kurang menyukuri hal itu.

Ku seka air mataku yang kembali meleleh. Keadaan tidak untuk dihindari, namun dihadapi. Kamu yang selalu menyemangatiku, kita bisa melewati walau berujuta kilometer pun jarak yang akan kita tempuh. Jarak bukanlah penghambat, jarak juga bukan sesuatu yang menakutkan. Ketika kita bisa saling menyadari, jarak itu satu-satunya penghubung antara dua insan yang saling menjaga hatinya. Jarak yang jauh akan bisa mendekat dengan sendirinya jika kita naik kendaraan bernama doa. Jika doa sudah di tangan Sang Empunya langit dan bumi, maka suatu hal mana lagi yang bisa menghalangi?


Nikmati saja detik yang tak pernah berhenti. Syukuri saja menit yang terus melaju. Dan, hargai setiap momen yang kita sendiri tidak tahu kapan akan berakhir di setiap harinya. Percayalah, Tuhan sangat menyayangiku, pun Tuhan sangat menyayangimu.




Tertanda, aku yang mendadak merindukanmu.

Thursday, April 9, 2015

Semoga Sukses, Adikku.

Beberapa jam yang lalu, ponselku berbunyi menandakan ada pesan BBM masuk. Broadcast message, pesan ber-icon toa yang sebetulnya tak penting untuk dibaca. Namun, ada sesuatu yang menarik mataku saat itu. Pesan yang masuk berasal dari adik kelasku semasa SMA. Dan isinya, permohonan maaf dan doa jelang Ujian Nasional 2015. Aku membaca detil demi detil pesan itu. Ada yang bergemuruh dalam hatiku. Ada yang mengoyak emosiku. Otakku kembali me-recall ingatan tepat setahun yang lalu.

Senin, 14 April 2014.
Aku dan ratusan teman seangkatanku, menghadapi hari dimana kami harus berperang dengan puluhan pertanyaan disertai beberapa pilihan. Kami menghadapi hari dimana perjuangan kami selama 3 tahun dipertaruhkan. Wajah-wajah tegang banyak melintas di setiap mataku memandang. Tak terkecuali aku. Hal ini kerap berlangsung selama 4 hari berturut-turut dengan dinamika yang berbeda-beda. Dan pada saat itu, hanya satu hal yang aku bawa erat-erat, yaitu doaku dan doa orang-orang yang menyayangiku.

Rasanya, aku tidak sanggup melanjutkan bagaimana situasi kami berperang saat itu. Menegangkan, mengharukan, bahkan dramatis. Mengingat bagaimana perjuangan yang kami lakukan sebelum hari H. Tutor sebaya, belajar di rumah teman bahkan les dimulai sejak pulang sekolah hingga hampir tengah malam pun kami lakukan hanya untuk peperangan selama 4 hari itu. Sungguh luar biasa. Ada dari kami yang tidak mempedulikan apa arti sebuah tanggal merah, ada dari kami yang tak mempedulikan kesehatan hanya untuk belajar bahkan ada dari kami yang sering singgah di rumah kawan hanya untuk mempelajari apa yang kami belum bisa. Tidak ada gengsi, tidak ada rasa pamer akan siapa yang lebih pintar dan siapa yang lebih bisa. Yang kami junjung ialah berjuang bersama. Kami ingat bagaimana kami telah masuk ke sekolah ini bersama, dan kami juga harus ingat bahwa kami harus lulus secara bersama-sama juga.

Yang paling tidak aku sanggupkan untuk ku ingat ialah bagaimana kenangan manis semasa SMA bisa melekat hebat hingga saat ini dalam ingatanku. Dari kelas 1 hingga kelas 3, mereka mempunyai tempat sendiri-sendiri di dalam dan otakku. Memang, aku akui, bahwa kuliah itu menyenangkan, lulus itu hal yang menggembirakan, namun sayangnya, aku lupa bahwa masa-masa dimana aku masih berseragam putih abu-abu itulah masa-masa yang paling tidak bisa ku lupakan. Sungguh bagaikan langit dan bumi ketika dibandingkan saat aku sudah tak berseragam. Sangat jauh.

Aku tidak ingin menjadi spoiler tentang bagaimana masa setelah SMA itu terjadi. Cukuplah aku berpesan, masa SMA ialah masa yang tak akan pernah tergantikan. Masa ini akan membawamu mengingat segala hal yang takkan kau temui setelah kau keluar dari zonanya. Cinta, persahabatan, persaudaraan, kekompakan bahkan kekeluargaan, dalam masa ini akan terbentuk secara natural dan tentu dramatis.

Untuk adik-adikku, yang sekarang sedang bersiap-siap untuk maju ke medan pertempuran, jaga semangatmu. Serahkan segalanya pada Sang Maha Kuasa. Luruskan niat, fokuskan pandangan. Doa orang-orang yang menyayangimu akan selalu mengiringi langkahmu. Aamiin.



Semoga sukses, adikku.

Dari seseorang yang kau sebut kakak.

Tuesday, April 7, 2015

Aku Ekstrovert

Lagi-lagi hari ini tidak semenyenangkan yang aku inginkan.
Lagi-lagi aku dibuat kecewa atas tindakan yang tak pernah ku lakukan kepada siapapun.
Lagi-lagi aku merasa aku merasa sebal karenamu.

Aku mengenalmu bukan dengan proses yang singkat.
Aku belajar memahamimu bukan dengan rentetan detik yang berjalan terpisah-pisah.
Aku mengenalmu sebagai pribadi yang mengajarkanku apa itu menepati janji, dan apa itu konsisten.

Namun hari ini bagaimana?
Setelah aku sudah bersolek serapi mungkin untuk pergi bersamamu, namun kau dengan ringan hati mengatakan batal. Menurutmu, bagaimana perasaan seorang wanita saat itu?

Sudah ku sisihkan waktuku untuk menemanimu.
Sudah ku luangkan waktu istirahatku hanya untuk kebahagiaanmu.
Namun, aku masih tidak percaya kau juga menyingkirkan waktumu bersamaku dengan cara yang paling ku benci.

Ah, mengeluh lagi.

Aku masih sebal padamu.
Aku masih ingin meluapkan kekesalan namun aku tahu disini bukan tempat yang tepat.




Maaf, aku bukan introvert yang handal.

Surat untuk Tuan

Aku membuka kembali laptopku di tengah malam yang sunyi ini. Aku ingin bercerita banyak. Aku ingin meluapkan apa yang ingin aku luapkan melalui tulisan pendek tak berarti ini.

Hari ini, ada satu pelajaran penting yang harus aku ingat sepanjang hidupku, bahwa seseorang bisa terlihat integritasnya setelah kita mengetahui bagaimana kualitas tulisannya, bukan setelah kita mengetahui berapa nilai yang ia dapat selepas ujian. Hatiku rasanya bergetar mendengar rentetan kalimat itu. Aku sadar bahwa aku yang sekarang tidak se-ber-kualitas aku yang dulu saat masih duduk di bangku SMA. Kata yang mengalir seperti layaknya tetesan air hujan, saat ini tak bisa keluar lagi seperti air keran yang mampet. Masalahnya ialah, aku sudah tidak lagi hobi membaca. Hobiku satu itu sudah terkikis oleh waktu dan segala deadline yang menghimpitku. Harusnya, aku bisa meluangkan beberapa jamku untuk sekedar membaca apa yang aku suka. Namun kali ini, sukar.

Aku ingin kembali menulis apapun disini.
Aku ingin kembali menuangkan segala suka dan dukaku disini.
Aku ingin tetap berkarya lewat tulisan yang berangsur mulai membaik.

Kali ini, aku akan mencoba menulis. Menulis sebuah surat yang aku tujukan untuk Tuan terkasihku.

                Selamat pagi, Tuan. Tengah malam begini, sudah sampai dimana mimpimu? Pasti sungguh indah hingga ketika aku menelponmu pun, tak kau jawab. Masih ingat pertengkaran kita tadi? Berawal dari masalah yang sepele “menurutku”, namun tidak sepele mungkin “menurutmu”. Menurutku, tidak usah kujelaskan apa masalahnya supaya Tuan tidak marah ketika tahu saya menulis ini untuk Tuan.

              Layaknya luka sehabis terjatuh, masih sakit dan perih. Yang terjatuh hatiku, Tuan. Hati ini jatuh ketika kau mengataiku seenaknya yang tidak sesuai dengan realita yang ada. Aku tidak seperti yang kau pikir. Kau tentu tahu bagaimana jika aku disalahkan namun tak salah, aku akan berlaku seperti anak kecil. Memberontak dan menangis. Tidakkah kau lelah terus menerus membuatku menangis, Tuan? Apakah setiap aku menitihkan air mata hal itu bisa membuat hatimu merasa lega?

                Sejujurnya, dalam percakapanku dengan Tuhan, aku menanyakan, mengapa perlakuan yang tak aku suka selalu terjadi padaku? Lebih-lebih itu darimu. Kenapa cara memberitahu yang tak kusuka selalu diberikan padaku? Padahal aku selalu berhati-hati akan cara bicaraku. Padahal aku selalu berusaha bagaimana memperhalus kalimatku agar nantinya aku juga mendapatkan hal yang demikian. Namun ternyata, hal tersebut tidak merubah segalanya. Jika aku berkata keras, membentak atau yang lainnya pada saat yang benar-benar sudah keterlaluan, kau tidak demikian. Entah kenapa aku merasa bahwa kata-katamu sungguh semakin keras di telingaku. Menyakitkan.

             Rasanya, aku tidak ingin tidur semalaman ini. Walaupun aku lelah, walaupun aku sangat ingin mengistirahatkan ragaku, namun otakku memerintahkan bahwa tubuhku masih kuat untuk duduk dan bercerita. Apa ini cerita yang ingin kau dengar, Tuan? Ini kisah sedih, bukan kisah bahagia. Aku ingin menceritakan kisah bahagiaku juga. Namun sayang, yang terlintas sekarang ialah serpihan-serpihan tangisku yang tadi karenamu.

                Maafkan aku menumpahkan keluh kesahku dalam tulisan ini. Tidak semuanya salahmu, jika aku patuh akan dirimu, mungkin tidak akan ada pertengkaran yang terjadi di antara kita. Bukan begitu, Tuan? Maafkan aku jika memang selama ini aku sering meminta dan menuntutmu untuk melakukan banyak hal. Dari yang bisa dinalar hingga yang tak bisa sekalipun. Maaf sudah sering merepotkanmu dengan keluh kesahku. Hanya satu pintaku kali ini, hargailah setiap perubahan baik yang terjadi di lingkungan sekitarmu. Berikan apresiasimu agar orang-orang di sekitarmu bisa termotivasi melakukan yang lebih baik. Jaga emosimu juga, Tuan.

                Sekian dulu, surat dariku.
                Selamat tidur, Tuan terkasihku.

Ya, mungkin tulisan di atas tidaklah berbobot atau berkualitas seperti tulisan-tulisanku sebelumnya. Tapi setidaknya, ada perubahan baik yang kali ini aku tampakkan, dan semoga ini bisa bertahan lama. Aamiin.


Selamat pagi, Fellas.

Tuesday, February 17, 2015

Happy *late* Birthday, Sweetheart!


YEP!
Happy Birthday to me!

Sebenernya ini beneran telat. Cuman entah kenapa akhir-akhir ini aku merasa yang aku tulis di sini tidak seberbobot dulu. *emang dulunya berbobot?* bisa jadi juga. But, yay! Wish me all the best! Harapannya tentu harapan mainstreem setiap orang yang sedang berulang tahun. Sehat selalu. Semakin sukses. Lebih lagi sekarang udah nyampe di semester 2 yay! Ya walaupun bener-bener jauh dari apa yang ditargetkan, semoga untuk semester kali ini bisa lebih bersemangat lagi, dan bisa ngejar ketinggalan-ketinggalan yang lalu.

Yang lalu biarkan berlalu, sekarang buka lembaran yang baru. Inget orang tua, inget target, inget apa yang dicapai di hari-hari sebelumnya.

Dan juga harapannya… semoga makin nggak males menulis yaa. Biar blognya juga nggak nganggur :’) semoga makin kreatif, semoga makin giat dalam segala hal (menghapus segala bentuk kemalasan!), dan... bisa membanggakan orang tua di umur yang sekarang J aamiin.

Stay unyu, Linda! J

Thursday, February 12, 2015

Baru Ku Ungkapkan Rinduku

Entah mengapa jemariku selalu tergerak untuk menuliskan kisah sedih. Sudah tiga minggu lamanya sejak terakhir kali pertemuanku dengannya. Sudah tiga minggu lamanya kami tak saling menatap mata. Yang kami bisa lakukan ialah saling berkirim foto, atau sekedar telepon apabila malam tiba dengan dihalangi sinyal yang tak cukup kuat. Sungguh itu semua sebenarnya tidak cukup untuk meredakan kerinduan di benak kami.

Seminggu tak bertemu, masih bisa ku atasi. Dua minggu tak bertemu, aku memaksakan untuk selalu berkata “tidak apa-apa.” Namun semuanya berakhir ketika menginjak minggu ketiga. Ku putuskan untuk meluapkan kerinduanku. Ya, aku sangat amat rindu. Aku memang baru mengaku hari ini, detik ini. Namun sebenarnya segala yang ku akui sekarang merupakan tumpukan-tumpukan rindu yang belum mau ku sampaikan.

Terlalu banyak orang mengatakan berlebihan, tapi aku tidak pernah mempedulikan. Bagiku, hakku untuk merindukanmu. Tapi sejujurnya memang aku baru terasa harus mengungkapkan kerinduanku sekarang. Dan karena merindukanmu, saat ini juga aku menulis setelah satu bulan lamanya aku menanggalkan tulisan terakhirku. Terimakasih, sudah membuatku menulis lagi.




Tidakkah kamu ingin bertemu denganku? Aku merindukanmu.

Tuesday, January 13, 2015

Tempat Ini

Guntur sedang bergemuruh ketika aku sampai di tempat ini. Ku arahkan pandanganku ke setiap sudut di tempat yang akhir-akhir ini sangat jarang ku jenguk. Tempat dimana aku selalu mencurahkan segala rasa yang ada di hati dan perasaanku, tempat di mana aku mendapatkan inspirasi yang muncul secara tiba-tiba ke otakku, dan tentu, tempat dimana aku berkarya. Ah, betapa malangnya tempat ini, berusaha merawat diri sendirian tanpa aku ada di sekelilingnya. Sekarang tempat ini tampak lusuh, usang dan banyak sekali debu. Namun entah mengapa, ada perasaan bahagia saat aku sampai kembali ke tempat ini.

Ku buka perlahan pintunya. Lagi-lagi, aku meluangkan diriku untuk mengedarkan pandanganku yang kali ini bukan menuju ke teras, namun ke bagian dalam tempat ini. Tetap sama, hanya sedikit terlihat usang dan banyak sarang laba-laba yang bergelantungan di sana-sini. Bibirku melengkungkan senyum. Tempat ini tetap indah. Tempat ini tetap menyimpan dengan rapi kenangan-kenangan yang sudah lama aku letakkan di dalamnya. Kebahagiaan, kesedihan, keharuan dan segala emosi lain yang pernah melintas di hidupku, tersimpan rapat di dalam tempat ini. Namun sayang, untuk beberapa waktu aku meninggalkannya, tidak menyentuh bahkan hanya melintas di depan tempat ini. Kini aku kembali, kembali ke tempat yang telah lama ku tinggali.

Kemudian, aku ingat akan sesuatu. Tubuhku berbalik dan kembali keluar dari tempat nan sunyi dan damai itu. Aku meneruskan langkahku menuju ke jalan depan. Dan aku dibuat menganga. Aku ingat betul jalanan ini masih berupa aspal yang tidak teratur. Masih banyak batu di sana-sini yang bisa mencelakai si pengguna jalan. Namun yang ku lihat sekarang, jauh berbeda dengan beberapa bulan yang lalu. Jalan sudah rapi. Tidak terlihat lagi lubang-lubang yang bisa menjadi ranjau bagi yang berjalan. Dan entah mungkin sudah dua puluh ribu lebih batu yang telah dihabiskan untuk memperbaiki jalan ini.

Aku bahagia. Kembali aku ke tempat itu, ku bersihkan lantai dan sarang laba-laba yang bergelantungan, ku pastikan bahwa tidak ada lagi debu yang menempel di perabotannya dan entah untuk ke berapa kalinya aku mengucap syukur karena Tuhan masih berbaik hati mengizinkanku bertandang ke tempat ini.

Ku lihat sudut favorit ku di tempat ini. Kursi yang nyaman, meja yang proporsional, buku-buku yang tertata dengan rapi dan tak lupa, cangkir kosong yang terbalik. Semua sudah bersih, tidak ada lagi debu-debu yang bertengger di sana. Aku mencoba kembali duduk di kursi yang nyaman dan tada! Benar-benar nyaman. Aku tidak berlama-lama lagi duduk di kursi itu. Ku ambil cangkir yang sudah sekian lama ku telungkupkan itu kemudian ku langkahkan kakiku menuju ke dapur. Tak lama, coklat panas yang menjadi minuman favoritku terhidangkan dengan manis. Kembali aku duduk, ku ambil laptop dari dalam tasku dan kembali aku menulis. Menulis segala emosi yang menderaku beberapa bulan terakhir ini, momen indah dan segalanya.

Di tempat ini aku kembali, menuliskan segala yang tak pernah abadi dalam hidup ini.



Aku kembali menulis.
Pasuruan, 13 Januari 2015.