Tuesday, January 13, 2015

Tempat Ini

Guntur sedang bergemuruh ketika aku sampai di tempat ini. Ku arahkan pandanganku ke setiap sudut di tempat yang akhir-akhir ini sangat jarang ku jenguk. Tempat dimana aku selalu mencurahkan segala rasa yang ada di hati dan perasaanku, tempat di mana aku mendapatkan inspirasi yang muncul secara tiba-tiba ke otakku, dan tentu, tempat dimana aku berkarya. Ah, betapa malangnya tempat ini, berusaha merawat diri sendirian tanpa aku ada di sekelilingnya. Sekarang tempat ini tampak lusuh, usang dan banyak sekali debu. Namun entah mengapa, ada perasaan bahagia saat aku sampai kembali ke tempat ini.

Ku buka perlahan pintunya. Lagi-lagi, aku meluangkan diriku untuk mengedarkan pandanganku yang kali ini bukan menuju ke teras, namun ke bagian dalam tempat ini. Tetap sama, hanya sedikit terlihat usang dan banyak sarang laba-laba yang bergelantungan di sana-sini. Bibirku melengkungkan senyum. Tempat ini tetap indah. Tempat ini tetap menyimpan dengan rapi kenangan-kenangan yang sudah lama aku letakkan di dalamnya. Kebahagiaan, kesedihan, keharuan dan segala emosi lain yang pernah melintas di hidupku, tersimpan rapat di dalam tempat ini. Namun sayang, untuk beberapa waktu aku meninggalkannya, tidak menyentuh bahkan hanya melintas di depan tempat ini. Kini aku kembali, kembali ke tempat yang telah lama ku tinggali.

Kemudian, aku ingat akan sesuatu. Tubuhku berbalik dan kembali keluar dari tempat nan sunyi dan damai itu. Aku meneruskan langkahku menuju ke jalan depan. Dan aku dibuat menganga. Aku ingat betul jalanan ini masih berupa aspal yang tidak teratur. Masih banyak batu di sana-sini yang bisa mencelakai si pengguna jalan. Namun yang ku lihat sekarang, jauh berbeda dengan beberapa bulan yang lalu. Jalan sudah rapi. Tidak terlihat lagi lubang-lubang yang bisa menjadi ranjau bagi yang berjalan. Dan entah mungkin sudah dua puluh ribu lebih batu yang telah dihabiskan untuk memperbaiki jalan ini.

Aku bahagia. Kembali aku ke tempat itu, ku bersihkan lantai dan sarang laba-laba yang bergelantungan, ku pastikan bahwa tidak ada lagi debu yang menempel di perabotannya dan entah untuk ke berapa kalinya aku mengucap syukur karena Tuhan masih berbaik hati mengizinkanku bertandang ke tempat ini.

Ku lihat sudut favorit ku di tempat ini. Kursi yang nyaman, meja yang proporsional, buku-buku yang tertata dengan rapi dan tak lupa, cangkir kosong yang terbalik. Semua sudah bersih, tidak ada lagi debu-debu yang bertengger di sana. Aku mencoba kembali duduk di kursi yang nyaman dan tada! Benar-benar nyaman. Aku tidak berlama-lama lagi duduk di kursi itu. Ku ambil cangkir yang sudah sekian lama ku telungkupkan itu kemudian ku langkahkan kakiku menuju ke dapur. Tak lama, coklat panas yang menjadi minuman favoritku terhidangkan dengan manis. Kembali aku duduk, ku ambil laptop dari dalam tasku dan kembali aku menulis. Menulis segala emosi yang menderaku beberapa bulan terakhir ini, momen indah dan segalanya.

Di tempat ini aku kembali, menuliskan segala yang tak pernah abadi dalam hidup ini.



Aku kembali menulis.
Pasuruan, 13 Januari 2015.