Wednesday, April 29, 2015

Gerbong Penataran

Throwback, April, 25th 2015.

Kedatanganku siang bolong di stasiun itu tampaknya menjadi kedatangan yang tidak beruntung. Mataku terbelalak saat mengetahui jadwal kereta yang ku tumpangi mundur satu jam. Akhirnya, aku berusaha berdamai dengan jadwal yang sedikit merugikan itu. Aku menganggap tidak apa-apa, yang penting aku bisa pulang. Satu hal lagi yang membuatku terkejut ialah saat petugas loket bilang, “Jurusan ke Bangil tinggal yang berdiri, Mbak.” How pity I am... akhirnya, lagi-lagi aku kembali me-tidak apa-apa-kan sesuatu yang lagi-lagi membuatku tidak beruntung itu. Namun lagi-lagi aku berpikir, ini tidaklah buruk.

Akhirnya, karena pemberangkatan keretaku masih 5 jam lagi, ku putuskan untuk kembali pulang ke kost. Ah... gagal menghemat untuk kesekian kalinya.

Setelah usai aku menunggu di kost, aku kembali berangkat ke stasiun pukul 5 sore sedangkan keretaku akan berangkat pukul 5 lewat 40 menit. Sudah 3 kali aku naik taksi dalam sehari. Itu bukanlah suatu hal yang keren, ketahuilah bahwa itu merupakan pemborosan yang amat sangat karena argo tarif menunjukkan biaya perjalanan pulang dan pergi yang sangat berbeda jauh. Andaikan aku tidak trauma naik angkutan umum yang ada di kota ini, pasti aku sudah memutuskan untuk naik kendaraan murah meriah itu saja. Tidak perlu memusatkan perhatian lebih pada ongkos, angkutan umum akan tetap meminta tarif yang sama pulang dan pergi.

Aku kembali ke stasiun tua ini dan langsung memasuki peron. Karena baru pertama kalinya naik kereta “tanpa tempat duduk”, jadilah aku menanyai petugas peron yang bertugas memeriksa tiket saat itu. Dan akhirnya, aku menemukan jawabannya. “Kalo tanpa tempat duduk, bisa bebas pilih gerbong mana aja kok, Mbak. Kalo ada kursi yang belum ada orangnya, mbaknya duduk situ aja dulu.” Yep! Jawaban yang memuaskan, hehe. Aku tak lantas lega, aku semakin deg-degan detik-detik penyambutan datangnya keretaku. Self talk, selalu jadi obat ampuh ketika sedang dalam keadaan seperti ini. Setidaknya aku bisa bilang “Semua akan baik-baik saja” pada diriku sendiri.

Tidak pernah ku sangka, aku berhasil menaiki kereta “tanpa tempat duduk” yang tertera dalam karcisku ini. Dalam detik-detikku naik ke atas kereta, aku mengekor di belakang ibu-ibu seumuran ibuku. Beliau sama-sama tidak mendapatkan kursi dalam kereta. Yap! Seperti yang dikatakan petugas peron, aku duduk di sembarang tempat yang aku inginkan asal tak ada orang yang menempati. Benar saja. Aku yang tetap mengekor dan sedikit berbincang dengan ibu yang ku kenal dengan nama “Bu Nunuk” itu duduk di tempat yang kosong dengan berharap mudah-mudahan tidak ada yang datang lalu menagih haknya. Bu Nunuk seorang yang sangat ramah. Ya walaupun kami tidak berbincang tentang hal yang bersifat terlalu pribadi, namun beliau menjelaskan cukup rinci atas dasar apa datang ke kota metropolis ini. Di tengah perjalanan, kami diusir untuk kali pertama. Selang 2 stasiun yang kami lewati, kami kembali diusir untuk yang kedua kalinya. Kemudian sudah tinggal 2 stasiun lagi sebelum stasiun yang ku tuju tiba, lagi-lagi kami diusir si pemilik hak duduk. “Apa mau dikata.” Pikirku.

Kepindahan tempat dudukku yang ketiga ini merupakan kepindahan yang mengesankan. Aku mengenal seorang wanita, tomboy, paling tidak usianya sekitar 23 tahun, namanya Tinggar. Ia merupakan wanita asli kota Malang. Tujuannya ke Surabaya ialah untuk menemui saudaranya. Spesialnya, mbak Tinggar ini tak enggan untuk merelakan tempat duduk yang sebenarnya bukan haknya, untuk aku tempati. Padahal aku, juga tak punya hak untuk duduk, kan? Pada akhirnya karena kursinya sudah ku tempati, ia lantas menduduki tas ranselnya yang terlihat padat di samping kursi keretaku. Tentu hatiku tergerak untuk mengembalikan tempat duduk yang tak seberapa empuk itu. Namun mbak Tinggar tetap bersikukuh memberikannya padaku. Karena itulah, kami lantas terlibat dalam sebuah pembicaraan. Dalam percakapan kami, yang aktif bercerita ialah mbak Tinggar. Aku hanya menjadi pendengar yang baik. Ia menceritakan kisah hidupnya dengan gamblang kepada orang asing yang baru ia kenal yaitu aku. Aku tidak mengerti mengapa itu bisa terjadi. Tapi kembali ku pikir, mungkin mbak Tinggar sudah lelah dengan rentetan beban hidup yang ia ceritakan padaku. Mulai dari masalah keluarga, tempat tinggal hingga finansial dan pekerjaan. Semuanya ku dengar.

Kisah tetaplah kisah. Layaknya psikolog yang sedang menangani seorang client, tentu bukan hakku membeberkan kisahnya di sini. Yang bisa aku petik dari kisah hidup mbak Tinggar ialah, “Hidup dengan apa adanya, kerja belum dapat uang banyak pun syukuri saja, ya karena yang apa adanya, memang demikian wujudnya. Kita tidak pernah bisa tahu kapan Tuhan akan menolong kita lewat hamba-hambaNya yang baik. Yaitu tadi, kita harus apa adanya.” Sampai sekarang masih ku simpan dan ku pegang erat-erat apa yang disampaikan mbak Tinggar. Sebelum aku turun di stasiun tujuanku pun, aku sempat berpamitan padanya. Ia juga berkata, “Semoga kita ketemu lagi ya, Dik! Wallahualam!” ujarnya sambil melambaikan tangan padaku. Manis sekali tampaknya perpisahan kami malam itu.

Seiring langkah kakiku keluar dari stasiun, seiring juga pikiranku tak henti mengingat dengan jelas pesan yang disampaikan oleh mbak Tinggar. Aku selalu tersenyum sendiri tiap kali ingat dia, dan pesannya.



Kapan-kapan, semoga kita ketemu lagi ya, Mbak.
Semoga, Mbak juga dpertemukan dengan secarik tulisanku ini.
Aku kagum sama Mbak.
Tertanda, Linda, orang asing yang bertemu denganmu di Gerbong Penataran.

Saturday, April 11, 2015

Percuma Merindukan Orang yang Kau Rindu

Asdfghjkl.

Aku bingung harus menuliskan apa di kertas putih ini. Perasaanku campur aduk. Namun tidak ada bahagia-bahagianya. Layar ponselku menunjukkan percakapanku denganmu via whatsapp. Tiba-tiba kamu cuek. Tiba-tiba dalam waktu yang tidak biasanya kamu berpamitan tidur. Tiba-tiba kamu berubah. Kamu ini sebenarnya apa? Power rangers?

Percuma aku menyatakan kerinduanku jika tak berbalas sedikitpun. Percuma aku menulis panjang lebar pesan untukmu jika ujung-ujungnya kau tertawakan. Percuma aku menuliskan cerita tentang kamu jika kamu tidak mengerti kalau aku merindukanmu. Aku tidak tahu apa maksudmu sebentar menjadi A dan sebentar menjadi B dalam waktu yang singkat. Aku sedang tidak ingin digoda. Aku sedang tidak bisa diajak bercanda.

Bahagia sekali menjadi seorang kamu yang selalu dihujani kerinduan dari orang-orang sekitarmu. Bahagia sekali menjadi kamu, seorang laki-laki yang selalu dirindukan kekasihnya. Sedangkan kekasihmu di sini sangat ingin dirindukan oleh lelakinya sendiri. Sedangkan disini ada kekasihmu yang sedang mengungkapkan kerinduan tapi hanya kau anggap sebagai lelucon belaka.

Aku yang hanya bermaksud ingin kau balas pesannya, kemudian kau balas, “Nyepam mulu -_-“. Lalu jika seperti itu, bagaimana caramu menghargai seseorang yang benar-benar merindukanmu? Setahuku cara yang biasa kamu pakai tidak seperti ini. Jujur saja, aku seperti angin yang lewat begitu saja di hadapanmu. Tidak digubris.

Sedih rasanya. Tapi, yasudah. Mungkin waktuku merindumu yang tidak tepat. Bukan salahmu untuk tak menggubrisku demikian. Bukan salahmu juga tidak menghiraukanku seperti itu. Itu hakmu, seutuhnya. Mungkin suatu saat kamu akan menetahui bagaimana rasanya jadi aku. Bagaimana rasanya rindu, sekaligus rasa percuma merindukan orang yang kau rindu.



Selamat Malam.

Tertanda, perindumu yang percuma. 

Jarak

Aku menamatkan novel itu semalam. Air mata tidak berhenti berderai membayangkan akhir cerita dari novel tersebut. Memang benar, membaca membuat imajinasi kita lebih liar daripada hanya menonton film. Ah, sudahlah. Ini hanya cerita yang tidak berakhir bahagia. Ini hanya novel. Ini hanya cerita yang sengaja dibuat untuk kepuasan imajinasi. Begitu terus yang terngiang di kepalaku, namun aku tetap tidak bisa berhenti menangis.

Mengapa ada pertemuan bila nantinya ada perpisahan? Mengapa ada awal bila nantinya ada akhir? Mengapa tidak bertemu saja agar perpisahan dan akhir tidak terjadi kepada kita? Pertanyaan semacam itu yang terus menggaung di kepalaku. Hingga akhirnya aku sadar, aku hidup nantinya juga pasti akan mati. Akhir, perpisahan dan kematian memang bukanlah sesuatu yang kita inginkan. Namun itu merupakan hukum alam yang sudah tidak bisa diganggu gugat bagaimana mestinya.

Novel ini membawaku ingat akan suatu hal yang pernah ada di antara kita. Ya, di antara aku dan kamu. Tepat setahun yang lalu, kita menjalani hubungan jarak jauh. Orang bilang, “Ah, hanya Pasuruan-Surabaya.” Atau, “Alah, Surabaya Pasuruan deket kali.” Dan kalimat-kalimat yang serupa dengan itu. Jika kamu tahu, aku sebal saat mereka mengatakan demikian kepadaku. Aku sangat sebal. Aku merasa seakan orang-orang di sekitarku selalu melihat sisi berlebihanku. Aku merasa diperlakukan tidak adil karena mereka yang mengataiku mungkin belum pernah merasakan apa yang aku alami saat itu. Mereka tidak tahu rasanya hanya berjumpa lewat kata dan suara. Mereka tidak tahu rasanya mendapat kesempatan emas bertatap muka hanya dalam seminggu sekali dan bisa jadi tidak lebih dari satu atau dua jam. Mereka tidak mengerti bagaimana sebuah kepercayaan dan pengertian bisa menjadi satu kunci keberhasilan dalam hubungan ini. Mereka tidak mengerti banyak hal. Yang mereka tahu ialah hubungan jarak jauh antara Pasuruan-Surabaya itu, dekat.

Di tengah derai tangisku malam tadi, mendadak aku merindukanmu. Aku menyebut-nyebut namamu dalam tangisku. Aku banyak menyebutkan jika “aku tidak ingin seperti itu.” Aku seakan dibuat trauma akan hubungan jarak jauh ini. Aku seakan dibuat takut apabila hubungan semacam itu kembali terulang. Dan jika memang suatu saat terulang dengan jarak puluhan, ratusan atau ribuan kilometer, apa yang harus aku lakukan? Apa yang akan kamu lakukan juga? Aku memejamkan mata, masih ada air mata yang menetes dari pelupuk mataku. Tidak, semua tidak akan menjadi rumit dan sulit apabila kita punya kuncinya. Semuanya tidak akan menjadi beban jika kita tidak menganggap jarak sebagai penghalang. Aku meyakinkan diriku bahwa, dulu kita pernah melewati masa-masa yang tidak kita inginkan itu. Kita bisa. Kita akhirnya dipertemukan kembali di kota yang sama dengan cerita yang lebih indah. Dari sini aku mulai bisa berpikir jernih. Tuhan menyayangiku, dan akan selalu memberikan cerita indah setelah hujan badai yang menerpaku. Pun Tuhan sangat amat menyayangimu.

Aku mulai bisa tenang. Aku mulai bisa mengatur napas dengan teratur. Mataku masih sembab, namun air mata tampaknya sudah mulai surut. Setelah menangis pun, aku masih tidak bisa tidur. Beda dengan biasanya, aku justru akan mengantuk begitu dalam apabila usai menangis. Ku letakkan novel yang sedari tadi ku pegang, dan aku mengalihkan perhatianku ke ponselku. Iseng, aku membuka akun media sosial instagram. Aku ingat, kamu bukan tipikal orang yang social addict, namun kamu juga pernah sesekali waktu mengunggah foto-foto ke akun instagram mu. Iseng, aku bertandang menuju akunmu walaupun aku tahu aku tidak akan menemukan hal baru di sana. Dan benar, tidak ada posting baru, namun hal itu bukan masalah bagiku. Ku perhatikan, sebagian besar foto yang kamu unggah ialah foto berdua kita. Foto perdanamu di akunmu ini adalah fotoku. Sederhana, tapi itu cukup membuat air mataku menetes (lagi). Tidak deras, namun tetap saja menetes. Cengeng.

Aku memperhatikan setiap detil foto yang kamu unggah. Aku memperhatikan senyummu, membayangkan tawamu, membayangkan bagaimana gayamu berbicara, bagaimana cara berjalanmu, dan bagaimana kamu memperlakukanku sebagai wanitamu saat ini. Di balik segala keluhanku akan perubahan sikapmu, di balik segala ketidakterimaanku akan caramu mempetuahiku, dan di balik segala yang aku rasakan kepadamu, ada satu hal yang melekat dalam hatiku. Aku bersyukur dipertemukan oleh sosokmu. Banyak hal yang tidak dipunyai orang lain, ada pada dirimu. Banyak hal yang tidak ku dapatkan dari orang lain, ku temukan hal itu pada dirimu. Namun sayangnya, aku seakan kurang menyukuri hal itu.

Ku seka air mataku yang kembali meleleh. Keadaan tidak untuk dihindari, namun dihadapi. Kamu yang selalu menyemangatiku, kita bisa melewati walau berujuta kilometer pun jarak yang akan kita tempuh. Jarak bukanlah penghambat, jarak juga bukan sesuatu yang menakutkan. Ketika kita bisa saling menyadari, jarak itu satu-satunya penghubung antara dua insan yang saling menjaga hatinya. Jarak yang jauh akan bisa mendekat dengan sendirinya jika kita naik kendaraan bernama doa. Jika doa sudah di tangan Sang Empunya langit dan bumi, maka suatu hal mana lagi yang bisa menghalangi?


Nikmati saja detik yang tak pernah berhenti. Syukuri saja menit yang terus melaju. Dan, hargai setiap momen yang kita sendiri tidak tahu kapan akan berakhir di setiap harinya. Percayalah, Tuhan sangat menyayangiku, pun Tuhan sangat menyayangimu.




Tertanda, aku yang mendadak merindukanmu.

Thursday, April 9, 2015

Semoga Sukses, Adikku.

Beberapa jam yang lalu, ponselku berbunyi menandakan ada pesan BBM masuk. Broadcast message, pesan ber-icon toa yang sebetulnya tak penting untuk dibaca. Namun, ada sesuatu yang menarik mataku saat itu. Pesan yang masuk berasal dari adik kelasku semasa SMA. Dan isinya, permohonan maaf dan doa jelang Ujian Nasional 2015. Aku membaca detil demi detil pesan itu. Ada yang bergemuruh dalam hatiku. Ada yang mengoyak emosiku. Otakku kembali me-recall ingatan tepat setahun yang lalu.

Senin, 14 April 2014.
Aku dan ratusan teman seangkatanku, menghadapi hari dimana kami harus berperang dengan puluhan pertanyaan disertai beberapa pilihan. Kami menghadapi hari dimana perjuangan kami selama 3 tahun dipertaruhkan. Wajah-wajah tegang banyak melintas di setiap mataku memandang. Tak terkecuali aku. Hal ini kerap berlangsung selama 4 hari berturut-turut dengan dinamika yang berbeda-beda. Dan pada saat itu, hanya satu hal yang aku bawa erat-erat, yaitu doaku dan doa orang-orang yang menyayangiku.

Rasanya, aku tidak sanggup melanjutkan bagaimana situasi kami berperang saat itu. Menegangkan, mengharukan, bahkan dramatis. Mengingat bagaimana perjuangan yang kami lakukan sebelum hari H. Tutor sebaya, belajar di rumah teman bahkan les dimulai sejak pulang sekolah hingga hampir tengah malam pun kami lakukan hanya untuk peperangan selama 4 hari itu. Sungguh luar biasa. Ada dari kami yang tidak mempedulikan apa arti sebuah tanggal merah, ada dari kami yang tak mempedulikan kesehatan hanya untuk belajar bahkan ada dari kami yang sering singgah di rumah kawan hanya untuk mempelajari apa yang kami belum bisa. Tidak ada gengsi, tidak ada rasa pamer akan siapa yang lebih pintar dan siapa yang lebih bisa. Yang kami junjung ialah berjuang bersama. Kami ingat bagaimana kami telah masuk ke sekolah ini bersama, dan kami juga harus ingat bahwa kami harus lulus secara bersama-sama juga.

Yang paling tidak aku sanggupkan untuk ku ingat ialah bagaimana kenangan manis semasa SMA bisa melekat hebat hingga saat ini dalam ingatanku. Dari kelas 1 hingga kelas 3, mereka mempunyai tempat sendiri-sendiri di dalam dan otakku. Memang, aku akui, bahwa kuliah itu menyenangkan, lulus itu hal yang menggembirakan, namun sayangnya, aku lupa bahwa masa-masa dimana aku masih berseragam putih abu-abu itulah masa-masa yang paling tidak bisa ku lupakan. Sungguh bagaikan langit dan bumi ketika dibandingkan saat aku sudah tak berseragam. Sangat jauh.

Aku tidak ingin menjadi spoiler tentang bagaimana masa setelah SMA itu terjadi. Cukuplah aku berpesan, masa SMA ialah masa yang tak akan pernah tergantikan. Masa ini akan membawamu mengingat segala hal yang takkan kau temui setelah kau keluar dari zonanya. Cinta, persahabatan, persaudaraan, kekompakan bahkan kekeluargaan, dalam masa ini akan terbentuk secara natural dan tentu dramatis.

Untuk adik-adikku, yang sekarang sedang bersiap-siap untuk maju ke medan pertempuran, jaga semangatmu. Serahkan segalanya pada Sang Maha Kuasa. Luruskan niat, fokuskan pandangan. Doa orang-orang yang menyayangimu akan selalu mengiringi langkahmu. Aamiin.



Semoga sukses, adikku.

Dari seseorang yang kau sebut kakak.

Tuesday, April 7, 2015

Aku Ekstrovert

Lagi-lagi hari ini tidak semenyenangkan yang aku inginkan.
Lagi-lagi aku dibuat kecewa atas tindakan yang tak pernah ku lakukan kepada siapapun.
Lagi-lagi aku merasa aku merasa sebal karenamu.

Aku mengenalmu bukan dengan proses yang singkat.
Aku belajar memahamimu bukan dengan rentetan detik yang berjalan terpisah-pisah.
Aku mengenalmu sebagai pribadi yang mengajarkanku apa itu menepati janji, dan apa itu konsisten.

Namun hari ini bagaimana?
Setelah aku sudah bersolek serapi mungkin untuk pergi bersamamu, namun kau dengan ringan hati mengatakan batal. Menurutmu, bagaimana perasaan seorang wanita saat itu?

Sudah ku sisihkan waktuku untuk menemanimu.
Sudah ku luangkan waktu istirahatku hanya untuk kebahagiaanmu.
Namun, aku masih tidak percaya kau juga menyingkirkan waktumu bersamaku dengan cara yang paling ku benci.

Ah, mengeluh lagi.

Aku masih sebal padamu.
Aku masih ingin meluapkan kekesalan namun aku tahu disini bukan tempat yang tepat.




Maaf, aku bukan introvert yang handal.

Surat untuk Tuan

Aku membuka kembali laptopku di tengah malam yang sunyi ini. Aku ingin bercerita banyak. Aku ingin meluapkan apa yang ingin aku luapkan melalui tulisan pendek tak berarti ini.

Hari ini, ada satu pelajaran penting yang harus aku ingat sepanjang hidupku, bahwa seseorang bisa terlihat integritasnya setelah kita mengetahui bagaimana kualitas tulisannya, bukan setelah kita mengetahui berapa nilai yang ia dapat selepas ujian. Hatiku rasanya bergetar mendengar rentetan kalimat itu. Aku sadar bahwa aku yang sekarang tidak se-ber-kualitas aku yang dulu saat masih duduk di bangku SMA. Kata yang mengalir seperti layaknya tetesan air hujan, saat ini tak bisa keluar lagi seperti air keran yang mampet. Masalahnya ialah, aku sudah tidak lagi hobi membaca. Hobiku satu itu sudah terkikis oleh waktu dan segala deadline yang menghimpitku. Harusnya, aku bisa meluangkan beberapa jamku untuk sekedar membaca apa yang aku suka. Namun kali ini, sukar.

Aku ingin kembali menulis apapun disini.
Aku ingin kembali menuangkan segala suka dan dukaku disini.
Aku ingin tetap berkarya lewat tulisan yang berangsur mulai membaik.

Kali ini, aku akan mencoba menulis. Menulis sebuah surat yang aku tujukan untuk Tuan terkasihku.

                Selamat pagi, Tuan. Tengah malam begini, sudah sampai dimana mimpimu? Pasti sungguh indah hingga ketika aku menelponmu pun, tak kau jawab. Masih ingat pertengkaran kita tadi? Berawal dari masalah yang sepele “menurutku”, namun tidak sepele mungkin “menurutmu”. Menurutku, tidak usah kujelaskan apa masalahnya supaya Tuan tidak marah ketika tahu saya menulis ini untuk Tuan.

              Layaknya luka sehabis terjatuh, masih sakit dan perih. Yang terjatuh hatiku, Tuan. Hati ini jatuh ketika kau mengataiku seenaknya yang tidak sesuai dengan realita yang ada. Aku tidak seperti yang kau pikir. Kau tentu tahu bagaimana jika aku disalahkan namun tak salah, aku akan berlaku seperti anak kecil. Memberontak dan menangis. Tidakkah kau lelah terus menerus membuatku menangis, Tuan? Apakah setiap aku menitihkan air mata hal itu bisa membuat hatimu merasa lega?

                Sejujurnya, dalam percakapanku dengan Tuhan, aku menanyakan, mengapa perlakuan yang tak aku suka selalu terjadi padaku? Lebih-lebih itu darimu. Kenapa cara memberitahu yang tak kusuka selalu diberikan padaku? Padahal aku selalu berhati-hati akan cara bicaraku. Padahal aku selalu berusaha bagaimana memperhalus kalimatku agar nantinya aku juga mendapatkan hal yang demikian. Namun ternyata, hal tersebut tidak merubah segalanya. Jika aku berkata keras, membentak atau yang lainnya pada saat yang benar-benar sudah keterlaluan, kau tidak demikian. Entah kenapa aku merasa bahwa kata-katamu sungguh semakin keras di telingaku. Menyakitkan.

             Rasanya, aku tidak ingin tidur semalaman ini. Walaupun aku lelah, walaupun aku sangat ingin mengistirahatkan ragaku, namun otakku memerintahkan bahwa tubuhku masih kuat untuk duduk dan bercerita. Apa ini cerita yang ingin kau dengar, Tuan? Ini kisah sedih, bukan kisah bahagia. Aku ingin menceritakan kisah bahagiaku juga. Namun sayang, yang terlintas sekarang ialah serpihan-serpihan tangisku yang tadi karenamu.

                Maafkan aku menumpahkan keluh kesahku dalam tulisan ini. Tidak semuanya salahmu, jika aku patuh akan dirimu, mungkin tidak akan ada pertengkaran yang terjadi di antara kita. Bukan begitu, Tuan? Maafkan aku jika memang selama ini aku sering meminta dan menuntutmu untuk melakukan banyak hal. Dari yang bisa dinalar hingga yang tak bisa sekalipun. Maaf sudah sering merepotkanmu dengan keluh kesahku. Hanya satu pintaku kali ini, hargailah setiap perubahan baik yang terjadi di lingkungan sekitarmu. Berikan apresiasimu agar orang-orang di sekitarmu bisa termotivasi melakukan yang lebih baik. Jaga emosimu juga, Tuan.

                Sekian dulu, surat dariku.
                Selamat tidur, Tuan terkasihku.

Ya, mungkin tulisan di atas tidaklah berbobot atau berkualitas seperti tulisan-tulisanku sebelumnya. Tapi setidaknya, ada perubahan baik yang kali ini aku tampakkan, dan semoga ini bisa bertahan lama. Aamiin.


Selamat pagi, Fellas.