Wednesday, April 29, 2015

Gerbong Penataran

Throwback, April, 25th 2015.

Kedatanganku siang bolong di stasiun itu tampaknya menjadi kedatangan yang tidak beruntung. Mataku terbelalak saat mengetahui jadwal kereta yang ku tumpangi mundur satu jam. Akhirnya, aku berusaha berdamai dengan jadwal yang sedikit merugikan itu. Aku menganggap tidak apa-apa, yang penting aku bisa pulang. Satu hal lagi yang membuatku terkejut ialah saat petugas loket bilang, “Jurusan ke Bangil tinggal yang berdiri, Mbak.” How pity I am... akhirnya, lagi-lagi aku kembali me-tidak apa-apa-kan sesuatu yang lagi-lagi membuatku tidak beruntung itu. Namun lagi-lagi aku berpikir, ini tidaklah buruk.

Akhirnya, karena pemberangkatan keretaku masih 5 jam lagi, ku putuskan untuk kembali pulang ke kost. Ah... gagal menghemat untuk kesekian kalinya.

Setelah usai aku menunggu di kost, aku kembali berangkat ke stasiun pukul 5 sore sedangkan keretaku akan berangkat pukul 5 lewat 40 menit. Sudah 3 kali aku naik taksi dalam sehari. Itu bukanlah suatu hal yang keren, ketahuilah bahwa itu merupakan pemborosan yang amat sangat karena argo tarif menunjukkan biaya perjalanan pulang dan pergi yang sangat berbeda jauh. Andaikan aku tidak trauma naik angkutan umum yang ada di kota ini, pasti aku sudah memutuskan untuk naik kendaraan murah meriah itu saja. Tidak perlu memusatkan perhatian lebih pada ongkos, angkutan umum akan tetap meminta tarif yang sama pulang dan pergi.

Aku kembali ke stasiun tua ini dan langsung memasuki peron. Karena baru pertama kalinya naik kereta “tanpa tempat duduk”, jadilah aku menanyai petugas peron yang bertugas memeriksa tiket saat itu. Dan akhirnya, aku menemukan jawabannya. “Kalo tanpa tempat duduk, bisa bebas pilih gerbong mana aja kok, Mbak. Kalo ada kursi yang belum ada orangnya, mbaknya duduk situ aja dulu.” Yep! Jawaban yang memuaskan, hehe. Aku tak lantas lega, aku semakin deg-degan detik-detik penyambutan datangnya keretaku. Self talk, selalu jadi obat ampuh ketika sedang dalam keadaan seperti ini. Setidaknya aku bisa bilang “Semua akan baik-baik saja” pada diriku sendiri.

Tidak pernah ku sangka, aku berhasil menaiki kereta “tanpa tempat duduk” yang tertera dalam karcisku ini. Dalam detik-detikku naik ke atas kereta, aku mengekor di belakang ibu-ibu seumuran ibuku. Beliau sama-sama tidak mendapatkan kursi dalam kereta. Yap! Seperti yang dikatakan petugas peron, aku duduk di sembarang tempat yang aku inginkan asal tak ada orang yang menempati. Benar saja. Aku yang tetap mengekor dan sedikit berbincang dengan ibu yang ku kenal dengan nama “Bu Nunuk” itu duduk di tempat yang kosong dengan berharap mudah-mudahan tidak ada yang datang lalu menagih haknya. Bu Nunuk seorang yang sangat ramah. Ya walaupun kami tidak berbincang tentang hal yang bersifat terlalu pribadi, namun beliau menjelaskan cukup rinci atas dasar apa datang ke kota metropolis ini. Di tengah perjalanan, kami diusir untuk kali pertama. Selang 2 stasiun yang kami lewati, kami kembali diusir untuk yang kedua kalinya. Kemudian sudah tinggal 2 stasiun lagi sebelum stasiun yang ku tuju tiba, lagi-lagi kami diusir si pemilik hak duduk. “Apa mau dikata.” Pikirku.

Kepindahan tempat dudukku yang ketiga ini merupakan kepindahan yang mengesankan. Aku mengenal seorang wanita, tomboy, paling tidak usianya sekitar 23 tahun, namanya Tinggar. Ia merupakan wanita asli kota Malang. Tujuannya ke Surabaya ialah untuk menemui saudaranya. Spesialnya, mbak Tinggar ini tak enggan untuk merelakan tempat duduk yang sebenarnya bukan haknya, untuk aku tempati. Padahal aku, juga tak punya hak untuk duduk, kan? Pada akhirnya karena kursinya sudah ku tempati, ia lantas menduduki tas ranselnya yang terlihat padat di samping kursi keretaku. Tentu hatiku tergerak untuk mengembalikan tempat duduk yang tak seberapa empuk itu. Namun mbak Tinggar tetap bersikukuh memberikannya padaku. Karena itulah, kami lantas terlibat dalam sebuah pembicaraan. Dalam percakapan kami, yang aktif bercerita ialah mbak Tinggar. Aku hanya menjadi pendengar yang baik. Ia menceritakan kisah hidupnya dengan gamblang kepada orang asing yang baru ia kenal yaitu aku. Aku tidak mengerti mengapa itu bisa terjadi. Tapi kembali ku pikir, mungkin mbak Tinggar sudah lelah dengan rentetan beban hidup yang ia ceritakan padaku. Mulai dari masalah keluarga, tempat tinggal hingga finansial dan pekerjaan. Semuanya ku dengar.

Kisah tetaplah kisah. Layaknya psikolog yang sedang menangani seorang client, tentu bukan hakku membeberkan kisahnya di sini. Yang bisa aku petik dari kisah hidup mbak Tinggar ialah, “Hidup dengan apa adanya, kerja belum dapat uang banyak pun syukuri saja, ya karena yang apa adanya, memang demikian wujudnya. Kita tidak pernah bisa tahu kapan Tuhan akan menolong kita lewat hamba-hambaNya yang baik. Yaitu tadi, kita harus apa adanya.” Sampai sekarang masih ku simpan dan ku pegang erat-erat apa yang disampaikan mbak Tinggar. Sebelum aku turun di stasiun tujuanku pun, aku sempat berpamitan padanya. Ia juga berkata, “Semoga kita ketemu lagi ya, Dik! Wallahualam!” ujarnya sambil melambaikan tangan padaku. Manis sekali tampaknya perpisahan kami malam itu.

Seiring langkah kakiku keluar dari stasiun, seiring juga pikiranku tak henti mengingat dengan jelas pesan yang disampaikan oleh mbak Tinggar. Aku selalu tersenyum sendiri tiap kali ingat dia, dan pesannya.



Kapan-kapan, semoga kita ketemu lagi ya, Mbak.
Semoga, Mbak juga dpertemukan dengan secarik tulisanku ini.
Aku kagum sama Mbak.
Tertanda, Linda, orang asing yang bertemu denganmu di Gerbong Penataran.

No comments:

Post a Comment