Saturday, April 11, 2015

Jarak

Aku menamatkan novel itu semalam. Air mata tidak berhenti berderai membayangkan akhir cerita dari novel tersebut. Memang benar, membaca membuat imajinasi kita lebih liar daripada hanya menonton film. Ah, sudahlah. Ini hanya cerita yang tidak berakhir bahagia. Ini hanya novel. Ini hanya cerita yang sengaja dibuat untuk kepuasan imajinasi. Begitu terus yang terngiang di kepalaku, namun aku tetap tidak bisa berhenti menangis.

Mengapa ada pertemuan bila nantinya ada perpisahan? Mengapa ada awal bila nantinya ada akhir? Mengapa tidak bertemu saja agar perpisahan dan akhir tidak terjadi kepada kita? Pertanyaan semacam itu yang terus menggaung di kepalaku. Hingga akhirnya aku sadar, aku hidup nantinya juga pasti akan mati. Akhir, perpisahan dan kematian memang bukanlah sesuatu yang kita inginkan. Namun itu merupakan hukum alam yang sudah tidak bisa diganggu gugat bagaimana mestinya.

Novel ini membawaku ingat akan suatu hal yang pernah ada di antara kita. Ya, di antara aku dan kamu. Tepat setahun yang lalu, kita menjalani hubungan jarak jauh. Orang bilang, “Ah, hanya Pasuruan-Surabaya.” Atau, “Alah, Surabaya Pasuruan deket kali.” Dan kalimat-kalimat yang serupa dengan itu. Jika kamu tahu, aku sebal saat mereka mengatakan demikian kepadaku. Aku sangat sebal. Aku merasa seakan orang-orang di sekitarku selalu melihat sisi berlebihanku. Aku merasa diperlakukan tidak adil karena mereka yang mengataiku mungkin belum pernah merasakan apa yang aku alami saat itu. Mereka tidak tahu rasanya hanya berjumpa lewat kata dan suara. Mereka tidak tahu rasanya mendapat kesempatan emas bertatap muka hanya dalam seminggu sekali dan bisa jadi tidak lebih dari satu atau dua jam. Mereka tidak mengerti bagaimana sebuah kepercayaan dan pengertian bisa menjadi satu kunci keberhasilan dalam hubungan ini. Mereka tidak mengerti banyak hal. Yang mereka tahu ialah hubungan jarak jauh antara Pasuruan-Surabaya itu, dekat.

Di tengah derai tangisku malam tadi, mendadak aku merindukanmu. Aku menyebut-nyebut namamu dalam tangisku. Aku banyak menyebutkan jika “aku tidak ingin seperti itu.” Aku seakan dibuat trauma akan hubungan jarak jauh ini. Aku seakan dibuat takut apabila hubungan semacam itu kembali terulang. Dan jika memang suatu saat terulang dengan jarak puluhan, ratusan atau ribuan kilometer, apa yang harus aku lakukan? Apa yang akan kamu lakukan juga? Aku memejamkan mata, masih ada air mata yang menetes dari pelupuk mataku. Tidak, semua tidak akan menjadi rumit dan sulit apabila kita punya kuncinya. Semuanya tidak akan menjadi beban jika kita tidak menganggap jarak sebagai penghalang. Aku meyakinkan diriku bahwa, dulu kita pernah melewati masa-masa yang tidak kita inginkan itu. Kita bisa. Kita akhirnya dipertemukan kembali di kota yang sama dengan cerita yang lebih indah. Dari sini aku mulai bisa berpikir jernih. Tuhan menyayangiku, dan akan selalu memberikan cerita indah setelah hujan badai yang menerpaku. Pun Tuhan sangat amat menyayangimu.

Aku mulai bisa tenang. Aku mulai bisa mengatur napas dengan teratur. Mataku masih sembab, namun air mata tampaknya sudah mulai surut. Setelah menangis pun, aku masih tidak bisa tidur. Beda dengan biasanya, aku justru akan mengantuk begitu dalam apabila usai menangis. Ku letakkan novel yang sedari tadi ku pegang, dan aku mengalihkan perhatianku ke ponselku. Iseng, aku membuka akun media sosial instagram. Aku ingat, kamu bukan tipikal orang yang social addict, namun kamu juga pernah sesekali waktu mengunggah foto-foto ke akun instagram mu. Iseng, aku bertandang menuju akunmu walaupun aku tahu aku tidak akan menemukan hal baru di sana. Dan benar, tidak ada posting baru, namun hal itu bukan masalah bagiku. Ku perhatikan, sebagian besar foto yang kamu unggah ialah foto berdua kita. Foto perdanamu di akunmu ini adalah fotoku. Sederhana, tapi itu cukup membuat air mataku menetes (lagi). Tidak deras, namun tetap saja menetes. Cengeng.

Aku memperhatikan setiap detil foto yang kamu unggah. Aku memperhatikan senyummu, membayangkan tawamu, membayangkan bagaimana gayamu berbicara, bagaimana cara berjalanmu, dan bagaimana kamu memperlakukanku sebagai wanitamu saat ini. Di balik segala keluhanku akan perubahan sikapmu, di balik segala ketidakterimaanku akan caramu mempetuahiku, dan di balik segala yang aku rasakan kepadamu, ada satu hal yang melekat dalam hatiku. Aku bersyukur dipertemukan oleh sosokmu. Banyak hal yang tidak dipunyai orang lain, ada pada dirimu. Banyak hal yang tidak ku dapatkan dari orang lain, ku temukan hal itu pada dirimu. Namun sayangnya, aku seakan kurang menyukuri hal itu.

Ku seka air mataku yang kembali meleleh. Keadaan tidak untuk dihindari, namun dihadapi. Kamu yang selalu menyemangatiku, kita bisa melewati walau berujuta kilometer pun jarak yang akan kita tempuh. Jarak bukanlah penghambat, jarak juga bukan sesuatu yang menakutkan. Ketika kita bisa saling menyadari, jarak itu satu-satunya penghubung antara dua insan yang saling menjaga hatinya. Jarak yang jauh akan bisa mendekat dengan sendirinya jika kita naik kendaraan bernama doa. Jika doa sudah di tangan Sang Empunya langit dan bumi, maka suatu hal mana lagi yang bisa menghalangi?


Nikmati saja detik yang tak pernah berhenti. Syukuri saja menit yang terus melaju. Dan, hargai setiap momen yang kita sendiri tidak tahu kapan akan berakhir di setiap harinya. Percayalah, Tuhan sangat menyayangiku, pun Tuhan sangat menyayangimu.




Tertanda, aku yang mendadak merindukanmu.

No comments:

Post a Comment