Saturday, April 11, 2015

Percuma Merindukan Orang yang Kau Rindu

Asdfghjkl.

Aku bingung harus menuliskan apa di kertas putih ini. Perasaanku campur aduk. Namun tidak ada bahagia-bahagianya. Layar ponselku menunjukkan percakapanku denganmu via whatsapp. Tiba-tiba kamu cuek. Tiba-tiba dalam waktu yang tidak biasanya kamu berpamitan tidur. Tiba-tiba kamu berubah. Kamu ini sebenarnya apa? Power rangers?

Percuma aku menyatakan kerinduanku jika tak berbalas sedikitpun. Percuma aku menulis panjang lebar pesan untukmu jika ujung-ujungnya kau tertawakan. Percuma aku menuliskan cerita tentang kamu jika kamu tidak mengerti kalau aku merindukanmu. Aku tidak tahu apa maksudmu sebentar menjadi A dan sebentar menjadi B dalam waktu yang singkat. Aku sedang tidak ingin digoda. Aku sedang tidak bisa diajak bercanda.

Bahagia sekali menjadi seorang kamu yang selalu dihujani kerinduan dari orang-orang sekitarmu. Bahagia sekali menjadi kamu, seorang laki-laki yang selalu dirindukan kekasihnya. Sedangkan kekasihmu di sini sangat ingin dirindukan oleh lelakinya sendiri. Sedangkan disini ada kekasihmu yang sedang mengungkapkan kerinduan tapi hanya kau anggap sebagai lelucon belaka.

Aku yang hanya bermaksud ingin kau balas pesannya, kemudian kau balas, “Nyepam mulu -_-“. Lalu jika seperti itu, bagaimana caramu menghargai seseorang yang benar-benar merindukanmu? Setahuku cara yang biasa kamu pakai tidak seperti ini. Jujur saja, aku seperti angin yang lewat begitu saja di hadapanmu. Tidak digubris.

Sedih rasanya. Tapi, yasudah. Mungkin waktuku merindumu yang tidak tepat. Bukan salahmu untuk tak menggubrisku demikian. Bukan salahmu juga tidak menghiraukanku seperti itu. Itu hakmu, seutuhnya. Mungkin suatu saat kamu akan menetahui bagaimana rasanya jadi aku. Bagaimana rasanya rindu, sekaligus rasa percuma merindukan orang yang kau rindu.



Selamat Malam.

Tertanda, perindumu yang percuma. 

No comments:

Post a Comment