Thursday, April 9, 2015

Semoga Sukses, Adikku.

Beberapa jam yang lalu, ponselku berbunyi menandakan ada pesan BBM masuk. Broadcast message, pesan ber-icon toa yang sebetulnya tak penting untuk dibaca. Namun, ada sesuatu yang menarik mataku saat itu. Pesan yang masuk berasal dari adik kelasku semasa SMA. Dan isinya, permohonan maaf dan doa jelang Ujian Nasional 2015. Aku membaca detil demi detil pesan itu. Ada yang bergemuruh dalam hatiku. Ada yang mengoyak emosiku. Otakku kembali me-recall ingatan tepat setahun yang lalu.

Senin, 14 April 2014.
Aku dan ratusan teman seangkatanku, menghadapi hari dimana kami harus berperang dengan puluhan pertanyaan disertai beberapa pilihan. Kami menghadapi hari dimana perjuangan kami selama 3 tahun dipertaruhkan. Wajah-wajah tegang banyak melintas di setiap mataku memandang. Tak terkecuali aku. Hal ini kerap berlangsung selama 4 hari berturut-turut dengan dinamika yang berbeda-beda. Dan pada saat itu, hanya satu hal yang aku bawa erat-erat, yaitu doaku dan doa orang-orang yang menyayangiku.

Rasanya, aku tidak sanggup melanjutkan bagaimana situasi kami berperang saat itu. Menegangkan, mengharukan, bahkan dramatis. Mengingat bagaimana perjuangan yang kami lakukan sebelum hari H. Tutor sebaya, belajar di rumah teman bahkan les dimulai sejak pulang sekolah hingga hampir tengah malam pun kami lakukan hanya untuk peperangan selama 4 hari itu. Sungguh luar biasa. Ada dari kami yang tidak mempedulikan apa arti sebuah tanggal merah, ada dari kami yang tak mempedulikan kesehatan hanya untuk belajar bahkan ada dari kami yang sering singgah di rumah kawan hanya untuk mempelajari apa yang kami belum bisa. Tidak ada gengsi, tidak ada rasa pamer akan siapa yang lebih pintar dan siapa yang lebih bisa. Yang kami junjung ialah berjuang bersama. Kami ingat bagaimana kami telah masuk ke sekolah ini bersama, dan kami juga harus ingat bahwa kami harus lulus secara bersama-sama juga.

Yang paling tidak aku sanggupkan untuk ku ingat ialah bagaimana kenangan manis semasa SMA bisa melekat hebat hingga saat ini dalam ingatanku. Dari kelas 1 hingga kelas 3, mereka mempunyai tempat sendiri-sendiri di dalam dan otakku. Memang, aku akui, bahwa kuliah itu menyenangkan, lulus itu hal yang menggembirakan, namun sayangnya, aku lupa bahwa masa-masa dimana aku masih berseragam putih abu-abu itulah masa-masa yang paling tidak bisa ku lupakan. Sungguh bagaikan langit dan bumi ketika dibandingkan saat aku sudah tak berseragam. Sangat jauh.

Aku tidak ingin menjadi spoiler tentang bagaimana masa setelah SMA itu terjadi. Cukuplah aku berpesan, masa SMA ialah masa yang tak akan pernah tergantikan. Masa ini akan membawamu mengingat segala hal yang takkan kau temui setelah kau keluar dari zonanya. Cinta, persahabatan, persaudaraan, kekompakan bahkan kekeluargaan, dalam masa ini akan terbentuk secara natural dan tentu dramatis.

Untuk adik-adikku, yang sekarang sedang bersiap-siap untuk maju ke medan pertempuran, jaga semangatmu. Serahkan segalanya pada Sang Maha Kuasa. Luruskan niat, fokuskan pandangan. Doa orang-orang yang menyayangimu akan selalu mengiringi langkahmu. Aamiin.



Semoga sukses, adikku.

Dari seseorang yang kau sebut kakak.

No comments:

Post a Comment