Tuesday, April 7, 2015

Surat untuk Tuan

Aku membuka kembali laptopku di tengah malam yang sunyi ini. Aku ingin bercerita banyak. Aku ingin meluapkan apa yang ingin aku luapkan melalui tulisan pendek tak berarti ini.

Hari ini, ada satu pelajaran penting yang harus aku ingat sepanjang hidupku, bahwa seseorang bisa terlihat integritasnya setelah kita mengetahui bagaimana kualitas tulisannya, bukan setelah kita mengetahui berapa nilai yang ia dapat selepas ujian. Hatiku rasanya bergetar mendengar rentetan kalimat itu. Aku sadar bahwa aku yang sekarang tidak se-ber-kualitas aku yang dulu saat masih duduk di bangku SMA. Kata yang mengalir seperti layaknya tetesan air hujan, saat ini tak bisa keluar lagi seperti air keran yang mampet. Masalahnya ialah, aku sudah tidak lagi hobi membaca. Hobiku satu itu sudah terkikis oleh waktu dan segala deadline yang menghimpitku. Harusnya, aku bisa meluangkan beberapa jamku untuk sekedar membaca apa yang aku suka. Namun kali ini, sukar.

Aku ingin kembali menulis apapun disini.
Aku ingin kembali menuangkan segala suka dan dukaku disini.
Aku ingin tetap berkarya lewat tulisan yang berangsur mulai membaik.

Kali ini, aku akan mencoba menulis. Menulis sebuah surat yang aku tujukan untuk Tuan terkasihku.

                Selamat pagi, Tuan. Tengah malam begini, sudah sampai dimana mimpimu? Pasti sungguh indah hingga ketika aku menelponmu pun, tak kau jawab. Masih ingat pertengkaran kita tadi? Berawal dari masalah yang sepele “menurutku”, namun tidak sepele mungkin “menurutmu”. Menurutku, tidak usah kujelaskan apa masalahnya supaya Tuan tidak marah ketika tahu saya menulis ini untuk Tuan.

              Layaknya luka sehabis terjatuh, masih sakit dan perih. Yang terjatuh hatiku, Tuan. Hati ini jatuh ketika kau mengataiku seenaknya yang tidak sesuai dengan realita yang ada. Aku tidak seperti yang kau pikir. Kau tentu tahu bagaimana jika aku disalahkan namun tak salah, aku akan berlaku seperti anak kecil. Memberontak dan menangis. Tidakkah kau lelah terus menerus membuatku menangis, Tuan? Apakah setiap aku menitihkan air mata hal itu bisa membuat hatimu merasa lega?

                Sejujurnya, dalam percakapanku dengan Tuhan, aku menanyakan, mengapa perlakuan yang tak aku suka selalu terjadi padaku? Lebih-lebih itu darimu. Kenapa cara memberitahu yang tak kusuka selalu diberikan padaku? Padahal aku selalu berhati-hati akan cara bicaraku. Padahal aku selalu berusaha bagaimana memperhalus kalimatku agar nantinya aku juga mendapatkan hal yang demikian. Namun ternyata, hal tersebut tidak merubah segalanya. Jika aku berkata keras, membentak atau yang lainnya pada saat yang benar-benar sudah keterlaluan, kau tidak demikian. Entah kenapa aku merasa bahwa kata-katamu sungguh semakin keras di telingaku. Menyakitkan.

             Rasanya, aku tidak ingin tidur semalaman ini. Walaupun aku lelah, walaupun aku sangat ingin mengistirahatkan ragaku, namun otakku memerintahkan bahwa tubuhku masih kuat untuk duduk dan bercerita. Apa ini cerita yang ingin kau dengar, Tuan? Ini kisah sedih, bukan kisah bahagia. Aku ingin menceritakan kisah bahagiaku juga. Namun sayang, yang terlintas sekarang ialah serpihan-serpihan tangisku yang tadi karenamu.

                Maafkan aku menumpahkan keluh kesahku dalam tulisan ini. Tidak semuanya salahmu, jika aku patuh akan dirimu, mungkin tidak akan ada pertengkaran yang terjadi di antara kita. Bukan begitu, Tuan? Maafkan aku jika memang selama ini aku sering meminta dan menuntutmu untuk melakukan banyak hal. Dari yang bisa dinalar hingga yang tak bisa sekalipun. Maaf sudah sering merepotkanmu dengan keluh kesahku. Hanya satu pintaku kali ini, hargailah setiap perubahan baik yang terjadi di lingkungan sekitarmu. Berikan apresiasimu agar orang-orang di sekitarmu bisa termotivasi melakukan yang lebih baik. Jaga emosimu juga, Tuan.

                Sekian dulu, surat dariku.
                Selamat tidur, Tuan terkasihku.

Ya, mungkin tulisan di atas tidaklah berbobot atau berkualitas seperti tulisan-tulisanku sebelumnya. Tapi setidaknya, ada perubahan baik yang kali ini aku tampakkan, dan semoga ini bisa bertahan lama. Aamiin.


Selamat pagi, Fellas.

No comments:

Post a Comment