Sunday, May 24, 2015

Sebatas Mimpi

                “Bim, aku balik dulu ya.” Pamitku dengan mengulurkan juga tangan kananku. Bima membalas salamku, dengan menggenggam erat jemariku. Sangat erat.

                “Bim, kam...” belum sempat aku melanjutkan tanyaku, ia sudah menarik tubuhku ke pelukannya. Aku tercengang. Aku diam membisu. Lidahku rasanya kelu untuk berkata walau hanya sepatah kata. Dadaku merasakan adanya kehangatan pribadinya pada saat itu juga. Tubuhku serasa terbenam.

                Bima melepaskan aku yang masih diam seribu bahasa. “Kita jalan dulu, yuk. Bentar aja.” Ajaknya.

                “Tap...” lagi-lagi, ia membuatku diam tanpa kata. Tangannya yang masih menggenggam tanganku mampu menarik tubuhku mengikuti langkahnya. Aku tidak tahu kemana ia akan membawaku pergi.

                “Bim, kita mau kemana?” tanyaku.

                “Ikut aja, aku nggak ada niatan culik kamu kok.” Jawabnya.

                Aku pasrah mengikutinya. Dan tak lama, kami tiba di suatu tempat. Bukan tempat umum, namun dari situ kami bisa melihat matahari membenamkan dirinya. Sungguh menakjubkan. Tidak pernah terpikir, Bima si manusia tak banyak berbicara itu bisa membawaku ke tempat seindah ini. Untuk kesekian kalinya, aku hanya bisa terdiam. Bingung mau berkata apa.

                “Kenapa kamu ajak aku kesini?” tanyaku tanpa sedikit pun menoleh ke arahnya. Khawatir pipiku yang memerah seperti senja sore ini kepergok olehnya.

                “Pengen aja. Bagus kan?”

                “Bagus, Bim. Bagus banget. Tapi kenapa?”

                “Kepo.” Jawabnya singkat, sambil tertawa sedikit. Aku meliriknya sejenak, terlihat gigi taring yang gingsul itu nampak saat ini. Aku tertarik juga tuk ikut tersenyum. Dia selalu begitu. Manis sekali.

                “Yuk balik, salah-salah aku nanti yang dituduh culik kamu.” Katanya mengajakku kembali.

                “Emang udah diculik, Bim.” Jawabku.

                “Iya, yang aku culik hatimu doang.” Dengan tiba-tiba mengejutkan lagi.

                “Apa?”

                “Hehe, nggak lupain aja.” Begitu saja jawabannya, lalu kemudian tangan kirinya menggantung di pundak kiriku. Aku tak bisa mengelak. Yang aku bisa hanya menoleh seketika ke arahnya, lalu mengarahkan pandanganku lagi ke depan jalan dan tentunya, berjalan bersamanya.

                “Jangan pergi, po.o.” pintanya dengan logat khas Surabaya-nya.

                “Maunya juga gitu, keleus.” Jawabku.

                Tak lama, sampailah kami ditempat perpisahan. Aku masuk mobil, kemudian membuka cendelanya. Aku melambaikan tanganku ketika mobil mulai berjalan menjauh. Ku lihat Bima tak hentinya melambaikan tangannya untukku. Hingga ku benar-benar tak melihat dia lagi. Lenyap.

---

                Subhanallah, mimpinya.
               
                Pagi itu aku bangun dengan terkejut sekaligus tercengang akan mimpi yang ku alami semalam. Berkali-kali aku menarik nafas panjang untuk meyakinkan diriku bahwa semuanya hanya mimpi. Tidak. Aku tidak dekat benaran dengan dia. Dia tetap menjadi seonggok rasa yang aku sembunyikan rapat-rapat. Aku akan tetap jadi teman, tak lebih. Ya, tak lebih.

                Ah, aku ingat. Semalam, mataku yang sebenarnya sudah mulai terlelap kembali terbelalak melihat status yang ia buat saat itu juga. Jadilah aku stalking. Jadilah aku tak tidur hingga sepertiga malam. Jadilah aku terlelap tak sengaja dengan foto profilnya yang masih terbuka dan tergengam dalam tanganku. “Pantas aku mimpi seperti itu.” Batinku.

                Begini ya rasanya dekat denganmu. Begini ya rasanya berada terus-terusan di sampingmu. Begini ya rasanya memperhatikan senyummu dari dekat. Begini ya rasanya memimpikanmu. Serasa hangat seperti kepribadianmu.

                Pagi itu, kau berhasil membuatku tersenyum di awal hariku. Tak perlu bertemu denganmu untuk tersenyum. Hanya memimpikanmu saja sudah membuatku terkekeh seperti ini. Hanya memimpikanmu saja, ingatannya tak kunjung hilang mungkin untuk 3 hari ke depan. Syukurlah kau masih bisa menemuiku via mimpi, daripada tidak sama sekali.

                Tapi yang jadi pertanyaan, pertanda apa?
                Apa kamu benar-benar tak ingin ku tinggalkan?
                Jika di mimpi kamu terasa dekat dan hangat, mengapa nyatanya tak demikian?

                Cinta memang unik.
                Kadang percaya diri, kadang juga sembunyi.

Thursday, May 21, 2015

Bintang Malam Ini

Langit Surabaya malam ini sedang cerah-cerahnya. Bintang ada dimana-mana, bulan sedang tersenyum dengan manisnya. Sama persis dengan hatiku. Sedang cerah secerah-cerahnya. Andai dia tahu…

Dari balkon kamarku, aku memandangi langit malam ini dengan suasana hati yang tenang. Sesekali aku tersenyum. Aku membayangkan sesuatu yang lagi-lagi ku temui hari ini. Kamu. Iya, kamu. Aku tersenyum kepada langit luas karena membayangkanmu. Aku ingat bagaimana sudut-sudut yang terbentuk dari lekukan senyummu. Aku ingat setiap detik yang kau habiskan hanya untuk menertawakan betapa konyolnya aku. Aku ingat juga cara berjalanmu yang khas. Aku ingat semuanya, tentu saja. Kalau tidak tentang dirimu, hal apa lagi yang membuat otakku sesak hingga kemudian bisa tersenyum sendiri ketika melihat bintang?

Di antara beribu bintang, hanya kaulah yang paling terang
Di antara beribu cinta,pilihanku hanya kau sayang…

Lagu itu yang entah sudah berapa kali aku senandungkan malam ini. Tidak ada rasa bosan untuk terus menerus melantunkannya. Skema tentangmu seakan terus terkonsep seiring dengan alunan laguku dan tatapan mataku pada bintang. Jantungku sesekali berdegup lebih kencang ketika ada pesan masuk walau aku tak tahu siapa pengirimnya, dan aku harap itu adalah kau, si Tuan super sibuk.

Sayangnya, aku ini introvert. Sulit bagiku untuk mengemukakan secara gamblang kesukaanku pada sosokmu. Sulit bagiku untuk terbuka tentang bagaimana rasaku. Hanya lewat secarik kertas ini ku tuliskan dengan jelas dan tak terbata-bata, aku menyukaimu.

Campur aduk rasanya ada di posisiku. Bahagia saat dekat, namun ketika kamu bersama yang lain, kelabu rasanya. Ah tidak. Aku bersyukur dengan jarak yang diberikan Tuhan untukku saat ini bersama bintang—kejora—ku. Jika aku bisa melihat ribuan bintang di langit yang seakan diam dan ikut menatapku, hal tersebut juga terjadi saat aku menatap gambarmu. Kau tak bergerak, namun aku akan terus merasa bahwa kau juga terus menatapku—kita saling menatap.





Manusia bisa memilih seperti apa psychologycal well-being yang mereka inginkan.
Pun aku.
Psychologycal well-being yang ku pilih ialah, sosokmu.