Wednesday, June 3, 2015

Peluk Aku, Tuhan.

Ya Allah, aku lelah…

Sudah dua setengah tahun lamanya aku dan dia mengarungi waktu. Menghabiskan waktu berdua untuk berbagi pengalaman, berbagi kasih sayang dan berbagi hati satu sama lain. Sudah berkali-kali kami melewati kerikil kecil hingga batu terbesar pun. Sudah berkali-kali juga kami memandangi bersama indahnya pelangi dalam hubungan kami. Bagian tersulit ialah, saat kami sama-sama saling dibalut oleh keegoisan kami. Tidak mau mengalah satu sama lain, hanya ingin menang atas diri kami sendiri. Namun pada akhirnya, kami sadar apa yang kami lakukan ialah hal yang salah. Pada akhirnya kami berdamai, begitu pun dengan hati kami.

Namun tidak dengan beberapa hari ini…

Aku menahan tangisku rapat-rapat, bukan karena tidak ingin menangis. Aku sangat amat ingin menangis, hanya saja aku tidak menemukan tempat  yang tepat untukku menumpahkan tangisku. Aku butuh kesunyian, aku hanya butuh Tuhan yang memelukku erat agar ku bisa tersedu dengan hebat. Sejujurnya, aku terlalu lelah. Sejujurnya, hatiku kini remuk redam atas segala hal yang terjadi antara aku dengannya. Sejujurnya, aku ingin berteriak lepas. Namun aku tahu, sekeras apapun aku berteriak, dia akan tetap jadi dia.

Ada satu teman yang bilang “kalau hakmu ingin dipenuhi, penuhi dulu kewajibanmu buat dia. Jangan keburu nuntut hak dulu.” Lalu, aku mencoba melakukan kewajibanku sebagai manusia kepadanya. Bagaimana harusnya perempuan bersikap, bagaimana harusnya perempuan bertingkah, dan lain sebagainya. Aku melakukannya. Aku mengalah, aku berkata lembut, walau sempat terjadi kesalahpahaman aku mencoba menyikapi dengan halus, aku mencoba ini dan itu sekuat yang aku mampu. Namun pada kenyataannya, kenapa aku yang selalu diinjak seperti semut kecil yang tak berdaya?

Ya Allah, aku tertekan.
Aku lelah terus menerus mengalah.
Maaf jika aku terus menerus mengeluh...

Ya Allah, aku menulis karena aku tak bisa menceritakan kepada makhluk Mu. Aku menulis karena aku sudah tak bisa berkata banyak. Bolehkah aku menyerahkan segalanya pada Mu? Bolehkah aku menangis tersedu dalam peluk Mu? Engkau melihatku. Di sampingku, di manapun Engkau, tentu kini Kau sedang membaca tulisan yang tak berarti ini. Tolong aku...

Entah mengapa, terkadang aku bisa sangat mengenalnya. Mengenal dirinya yang lembut tutur katanya. Mengenal dirinya yang halus perilakunya. Namun juga, aku bisa sangat tidak mengenalnya ketika ia berlaku kasar, seakan aku bukan kekasihnya, seakan aku bukan sosok wanita yang dicintainya. Seperti saat ini, apa aku masih jadi sosok yang sangat kau cintai? Jika ia, mengapa kau bersikap sekasar ini?

Nafasku tercekat. Tahu, bagaimana rasanya ingin menangis tapi tertahan, kan? Ya seperti itulah diriku sekarang.

Mungkin aku akan terus mengalah.
Walau aku juga tak bisa menjamin nantinya aku yang akan menang,
Kamu tetap yang ku sayang.
Sadarlah, bukalah mata hatimu, aku di sini tersiksa.
Hanya Tuhan yang tahu seberapa kuat aku bisa menahan.
Aku memang kecil dihadapanmu, tapi sadarlah,
Mungkin kau juga kecil di hadapan Tuhan.



Tertanda,

Aku yang—sangat—mencintaimu.

Tuesday, June 2, 2015

Tolong, Hormati Wanitamu.

Sakit rasanya, ingin bicara namun membisu.
Nyeri rasanya, ingin bersuara namun terbungkam.
Perih rasanya, ingin menangis namun tertahan.

Tawaku semakin, semakin dan semakin keras tat kala tangisku tak bisa ku luapkan. Tawaku juga semakin terbahak-bahak ketika lukaku juga semakin menganga lebar. Kamu, tentu tidak akan bisa mendengar kerasnya tawaku, apalagi tangisku yang tersedu-sedu itu. Telingamu pasti tertutup rapat untuk mendengar segala suara yang munculnya dari pita suara bahkan hatiku. Entahlah, sudah terlalu lelah raga ini. Sudah terlalu letih hati ini.

Aku tidak pernah mengalami sebelumnya kejadian dimana aku dipandang sebelah mata oleh kekasihku sendiri. Jika aku tanyakan padamu, apa kamu juga pernah dipandang sebelah mata oleh mantan kekasihmu saat masih menjalin kasih bersama? Menurutmu, tidakkah itu menyakitkan?

Seakan aku benar-benar kecil di hadapanmu. Seakan aku hanya seekor semut yang tak berteman hingga bisa kau injak dan aku hanya bisa pasrah akan apa yang kau perbuat. Sekecil itu kah aku di hadapanmu? Kau bilang aku harus belajar mengusahakan seseorang yang sedang marah dan tak bisa menurunkan egonya. Lalu, bagaimana dengan aku yang sedang berada di posisimu saat ini? Kira-kira bagaimana caramu mengusahakan aku? Apa sudah sesuai dengan apa yang aku inginkan? Belum. Apa dengan mengatakan “Yaudah, kalau kamu masih marah, terserah kamu :*” itu sudah membuat segalanya baik-baik saja? Apa menurutmu itu sudah menyelesaikan masalah yang muncul di antara kita?

Kau bilang, kau sudah lelah, maka dari itu kau “menterserahkan” jika aku marah. Lalu bagaimana dengan aku yang harus mengirim puluhan teks permintaan maaf padamu saat posisi kita ditukar? Rasanya berdarah-darah menghadapimu demikian. Rasanya aku seperti memanjat tebing curam tanpa alas kaki namun puncak yang ku tuju masih sangat jauh. Lalu bagaimana denganmu yang dengan semudah itu menyerah?

Memang benar, entah kenapa laki-laki hanya berjuang saat ingin mendapatkan, bukan saat ingin mempertahankan. Apa kamu salah satu dari sekian banyak laki-laki yang bertingkah demikian? Lalu, menurutmu aku perempuan yang bagaimana? Apa aku memang perempuan yang pantas dengan seenak hati diinjak dan dipandang sebelah mata?

Aku diam saja. Aku tidak ingin masalah semakin berkembang biak. Aku tidak ingin melahirkan masalah baru yang semakin runyam. Aku tidak ingin memperkeruh keadaan dan suasana. Tapi bagaimana jika inginku yang demikian justru tak didukung olehmu? Bagaimana jika memang kamu sendiri belum bisa berdamai dengan emosi yang berkecamuk dalam benakmu? Haruskah aku terus yang salah? Haruskah aku terus yang kau jadikan objek kesalahan?

Banyak pertanyaan yang tak bisa ku jawab sendiri, sayang. Banyak pertanyaan yang tak bisa aku pikir secara rasional. Dan tolong, jangan salahkan aku saat aku menulis di sini. I write because I think no body listen.

Mengertilah, aku wanita.
Dan semua wanita harus dihormati.

Tertanda,

Kekasihmu yang sedang sakit hati.