Tuesday, June 2, 2015

Tolong, Hormati Wanitamu.

Sakit rasanya, ingin bicara namun membisu.
Nyeri rasanya, ingin bersuara namun terbungkam.
Perih rasanya, ingin menangis namun tertahan.

Tawaku semakin, semakin dan semakin keras tat kala tangisku tak bisa ku luapkan. Tawaku juga semakin terbahak-bahak ketika lukaku juga semakin menganga lebar. Kamu, tentu tidak akan bisa mendengar kerasnya tawaku, apalagi tangisku yang tersedu-sedu itu. Telingamu pasti tertutup rapat untuk mendengar segala suara yang munculnya dari pita suara bahkan hatiku. Entahlah, sudah terlalu lelah raga ini. Sudah terlalu letih hati ini.

Aku tidak pernah mengalami sebelumnya kejadian dimana aku dipandang sebelah mata oleh kekasihku sendiri. Jika aku tanyakan padamu, apa kamu juga pernah dipandang sebelah mata oleh mantan kekasihmu saat masih menjalin kasih bersama? Menurutmu, tidakkah itu menyakitkan?

Seakan aku benar-benar kecil di hadapanmu. Seakan aku hanya seekor semut yang tak berteman hingga bisa kau injak dan aku hanya bisa pasrah akan apa yang kau perbuat. Sekecil itu kah aku di hadapanmu? Kau bilang aku harus belajar mengusahakan seseorang yang sedang marah dan tak bisa menurunkan egonya. Lalu, bagaimana dengan aku yang sedang berada di posisimu saat ini? Kira-kira bagaimana caramu mengusahakan aku? Apa sudah sesuai dengan apa yang aku inginkan? Belum. Apa dengan mengatakan “Yaudah, kalau kamu masih marah, terserah kamu :*” itu sudah membuat segalanya baik-baik saja? Apa menurutmu itu sudah menyelesaikan masalah yang muncul di antara kita?

Kau bilang, kau sudah lelah, maka dari itu kau “menterserahkan” jika aku marah. Lalu bagaimana dengan aku yang harus mengirim puluhan teks permintaan maaf padamu saat posisi kita ditukar? Rasanya berdarah-darah menghadapimu demikian. Rasanya aku seperti memanjat tebing curam tanpa alas kaki namun puncak yang ku tuju masih sangat jauh. Lalu bagaimana denganmu yang dengan semudah itu menyerah?

Memang benar, entah kenapa laki-laki hanya berjuang saat ingin mendapatkan, bukan saat ingin mempertahankan. Apa kamu salah satu dari sekian banyak laki-laki yang bertingkah demikian? Lalu, menurutmu aku perempuan yang bagaimana? Apa aku memang perempuan yang pantas dengan seenak hati diinjak dan dipandang sebelah mata?

Aku diam saja. Aku tidak ingin masalah semakin berkembang biak. Aku tidak ingin melahirkan masalah baru yang semakin runyam. Aku tidak ingin memperkeruh keadaan dan suasana. Tapi bagaimana jika inginku yang demikian justru tak didukung olehmu? Bagaimana jika memang kamu sendiri belum bisa berdamai dengan emosi yang berkecamuk dalam benakmu? Haruskah aku terus yang salah? Haruskah aku terus yang kau jadikan objek kesalahan?

Banyak pertanyaan yang tak bisa ku jawab sendiri, sayang. Banyak pertanyaan yang tak bisa aku pikir secara rasional. Dan tolong, jangan salahkan aku saat aku menulis di sini. I write because I think no body listen.

Mengertilah, aku wanita.
Dan semua wanita harus dihormati.

Tertanda,

Kekasihmu yang sedang sakit hati.

2 comments: