Friday, July 3, 2015

Warna-warni Kepribadian

Dasar, kepribadian ganda!
“Ah, dia mah emang gitu. Punya kepribadian yang aneh.”
“Subhanallah, kepribadiannya bagus banget... ramah, sopan, nggak neko-neko...”

Adakah di antara kita yang pernah mengatakan hal serupa seperti kalimat di atas pada orang-orang di sekeliling kita? Memang, berbicara tentang kepribadian tidak akan tuntas jika dibahas hanya satu atau dua jam. Tidak akan habis juga diulas dalam beberapa lembaran kertas. Tapi sebenarnya, apakah kita benar-benar sudah mengerti tentang apa yang dimaksud dengan kepribadian? Kita perlu menyadari bahwa, sebagai seseorang yang berada di posisi “awam”, kita punya banyak persepsi tentang kepribadian. Mungkin kita menganggap bahwa kepribadian merupakan sesuatu yang mencerminkan diri kita di hadapan orang lain. Atau bisa jadi, kita mengasumsikan bahwa kepribadian merupakan sebuah tolok ukur penilaian sikap orang lain yang berada di sekitar kita.

Banyak tokoh psikologi yang mendefinisikan kepribadian. Salah satu di antaranya ialah definisi dari Hall & Gardner Lindzey (dalam Sunaryo, 2004), yang menyatakan bahwa kepribadian adalah segala sesuatu yang menciptakan tata tertib dan keharmonisan terhadap segala bentuk perilaku yang dilakukan oleh individu. Singkatnya, kepribadian adalah segala sikap, emosi, ekspresi, perasaan dan karakteristik yang khas dari perilaku seseorang. Kepribadian individu yang satu dengan yang lain jelas berbeda. Setiap individu cenderung memunculkan perilaku yang konsisten terus menerus tergantung situasi yang ia hadapi saat itu. Hal ini lah yang membentuk sebuah ciri khas pada diri individu.

Kepribadian tidaklah hanya berujung sebuah istilah kepribadian. Maksudnya bagaimana? Kepribadian tidak hanya berujung satu macam, namun banyak sekali tipe kepribadian yang bisa kita temukan di sekitar kita. Banyak para tokoh psikologi yang mencetuskan berbagai tipe kepribadian ini. Tipe kepribadian tidak muncul begitu saja ketika kita beranjak remaja, kemudian dewasa hingga kita tua. Kita selama ini tidak menyadari bahwa pembentukan kepribadian dimulai sejak kita berumur 0 tahun. Dan dari pembentukan kepribadian ini pada saat individu beranjak dewasa, pasti akan terlihat beberapa karakter khas yang melekat pada diri individu tersebut

Salah satu karakter kepribadian yang bisa terbentuk ialah ekstrovert dan introvert. Sekilas, kita mengetahui bahwa seseorang yang ekstrovert merupakan orang yang secara umum mudah bergaul, aktif dan lain sebagainya. Namun berbeda dengan seseorang yang introvert. Secara umum, mungkin kita pernah menganggap seseorang yang introvert merupakan tipikal orang yang misterius. Seseorang yang introvert cenderung tertutup dan menarik diri dari lingkungan sekitarnya. Namun pernyataan-pernyataan ini merupakan asumsi-asumsi umum yang biasa kita dengar dari orang-orang di sekitar kita. Faktanya, setiap individu punya kedua sisi tersebut dalam dirinya. Jadi ringkasnya, seseorang yang ekstrovert punya sisi introvert dan begitu sebaliknya. Seseorang yang introvert juga punya sisi ekstrovert. Kedua sisi ini tentu mempunyai kadar yang berbeda. Pasti ada satu sisi yang mendominasi, kemudian sisi yang lain tetap ada namun mempunyai kadar yang sedikit.

Bagi kita yang belum mengerti ekstrovert dan introvert, pasti belum begitu ngeh  dengan apa yang saya paparkan di atas. Jadi, yuk kita perhatikan fakta di bawah ini tentang ekstrovert dan introvert.

Ekstrovert
Dalam artikel yang dipublikasikan oleh Rahajeng (2014), karakter ini biasanya dimiliki oleh orang-orang yang cenderung membuka dirinya pada dunia. Mereka yang punya karakter kepribadian ini biasanya suka keramaian, banyak melakukan interaksi dengan orang-orang sekitar dan sering terjun dalam aktivitas sosial. Kalian yang berada pada tipe kepribadian ini pasti lebih mudah mengungkapkan perasaan dengan kata-kata, cepat bosan apabila sedang sendirian dan cenderung lebih suka mengungkapkan dan bercerita daripada mendengarkan orang lain yang sedang bercerita. Namun, walaupun lebih suka bercerita, bukan berarti seseorang yang ekstrovert tidak bisa menjadi pendengar yang baik. Seseorang dengan tipe kepribadian ini tentu bisa menjadi pendengar sekaligus pemberi saran dan solusi yang baik. Seseorang yang ekstrovert juga cenderung sangat aktif, bersemangat dan easy going.

Adapun asumsi yang mengatakan bahwa ekstrovert bisa menjalani hidup lebih bahagia daripada introvert. Hal itu merupakan mitos, bukan fakta. Baik seseorang yang ekstrovert maupun introvert pasti meiliki caranya sendiri untuk bahagia. Mitos ini dimunculkan karena adanya pandangan orang awam tentang introvert yang menyukai ketenangan dan kesendirian sehingga disalahartikan bahwa introvert merupakan orang yang tak berteman, selalu menarik diri dan hal tersebut dianggap sebagai suatu keprihatinan tersendiri bagi orang-orang awam (Rahajeng, 2014).

Seseorang yang ekstrovert juga menyukai suasana yang tenang. Pada suatu waktu mereka akan membutuhkan kesendirian untuk dirinya sendiri mungkin hanya sekedar untuk beristirahat dari hingar bingar dunia. Walaupun jangka waktunya tidak lama, tapi pasti ekstrovert membutuhkan waktu untuk menyendiri. Kemudian, ada juga yang beranggapan bahwa seseorang dengan tipe kepribadian ekstrovert berpikiran dangkal (Rahajeng, 2014). Sekali lagi, ini juga merupakan salah satu dari sekian banyak mitos yang beredar. Dangkal atau tidaknya seseorang dalam berpikir tidak diukur dari ekstrovert atau introvertnya seseorang.

Dari penjelasan di atas, apa di antara kalian sudah ada yang memposisikan diri dengan tipe kepribadian ekstrovert?

Introvert
Yap, kebalikan dari ekstrovert, seseorang dengan tipe kepribadian introvert juga memiliki keistimewaan. Faktanya memang seseorang yang introvert cenderung menutup diri dari dunia luar, lebih menyukai suasana yang tenang dengan kegiatan-kegiatan yang sifatnya damai, seperti membaca buku atau menulis (Rahajeng, 2014). Orang-orang yang introvert lebih menyukai bekerja dalam suasana yang tenang, tidak terganggu oleh lalu lalang banyak orang. Dari segi interaksi pun, seseorang yang introvert merasa lebih nyaman berkomunikasi 1 by 1 dengan orang lain (Rahajeng, 2014). Namun, hal ini bukan berarti introvert tidak pernah berinteraksi dengan banyak orang. Seseorang introvert bisa memposisikan dirinya sebagai seseorang yang profesional. Apabila ada suatu hal yang menuntut untuk bekerja sama dengan orang lain, introvert bisa mengatasinya dengan pemikiran analitisnya. Ia bisa bekrja sama dengan orang lain, hanya saja jika ditinjau dari hubungan yang lebih dekat, seseorang yang introvert pasti lebih nyaman berbicara dengan perseorangan.

Beberapa asumsi mengatakan bahwa introvert adalah seseorang yang pemalu (Rahajeng, 2014). Ya, itu benar. Beberapa dari mereka pasti ada yang pemalu. Namun, dari sini kita perlu membedakan bahwa introvert itu berbeda dengan pemalu. Seseorang yang ekstrovert pun beberapa pasti ada yang mengakui dirinya sebagai pemalu. Namun perlu diketahui, seorang introvert dianggap pemalu karena orang-orang istimewa ini kebanyakan berpikir sebelum bertindak. Sehingga lagi-lagi banyak orang yang menyalahartikan hal ini sebagai pemalu. Kemudian, dikarenakan adanya asumsi introvert merupakan seorang yang pemalu, banyak juga yang mengasumsikan bahwa seorang introvert tidak bisa menjadi public speaker. Padahal, setengah dari public speaker dunia merupakan seorang introvert (Rahajeng, 2014). Seorang introvert akan bisa menjadi public speaker yang baik apabila mereka sudah mempersiapkan dengan matang dan dengan latihan yang berulang. Bagi mereka slogan “Practice makes perfect” merupakan slogan yang sangat memotivasi agar perannya sebagai public speaker bisa berjalan dengan baik.

Jadi, apakah di antara kalian sudah bisa memposisikan diri sebagai  seseorang yang introvert?

Kesimpulannya, manusia diciptakan dengan berbagai macam rupa, budaya, dan ciri khasnya masing-masing. Begitu pun dalam dirinya, manusia pasti mempunyai warna kepribadiannya yang khas. Kepribadian yang sifatnya dinamis akan membawa kita untuk menghargai individual differences yang terdapat pada diri masing-masing orang. Paling tidak, tulisan ini bisa membawa kita untuk mengetahui bahwa ekstrovert dan introvert sama-sama punya sisi keistimewaan masing-masing. Mereka bisa bahagia dengan caranya sendiri. Maka dari itu, diharapkan apabila nantinya menjalin interaksi dengan orang lain, kita sudah bisa merinci bagaimana tipe kepribadiannya sehingga komunikasi yang kita gunakan juga bisa pas dan sesuai pada tempatnya.

Jika aku seorang ekstrovert, tetap ada bagian yang tenang dalam diriku.
Jika kamu seorang introvert, kamu pasti punya sesuatu yang menyenangkan dalam dirimu.
Sungguh menyenangkan bukan apabila kita saling melengkapi satu sama lain?

Tertanda,
Linda Rahmadhani Febrian.



Daftar pustaka:
Sunaryo. (2004). Psikologi untuk Keperawatan. Jakarta: EGC
Rahajeng (2014, 14 Juli). Introvert, Ekstrovert dan Ambievert. PsikologID [on-line]. Diakses pada tanggal 2 Juli 2015 dari http://psikologid.com/introvert-ekstrovert-dan-ambievert/