Thursday, August 20, 2015

You're My Abstractness

Ketika rindu terhalang waktu,
Segalanya seakan lebih tak menentu.

Sejak ditutupnya deadline tugas beberapa minggu yang lalu, tanganku kembali kaku untuk menulis. Otakku kembali beku. Rasanya tidak ada inspirasi yang datang untuk sekadar singgah mencairkan kebekuan dalam pikiranku.

Hai, kamu.
Kali ini, kamu tiba-tiba menyeruak masuk dalam pikiranku. Kamu tiba-tiba mencairkan bongkahan es yang beku dalam otakku. Canda, tawa, suka, duka, tangis segalanya tumpah ruah menjadi satu. Hanya karenamu. Ajaib, tapi nyata. Bahagia kemudian sedih, sedih kemudian bahagia. Bersamamu segalanya bisa menjadi abstrak dan indah.

Maafkan aku jika selama 32 bulan bersamamu sudah menjadi seseorang yang menjengkelkan, menyebalkan, seseorang yang selalu membuatmu gemas, dan apapun itu. Aku menyayangimu dengan sangat, Tuan. Cinta? Tak usah ditanya. Rasanya aku sudah kehabisan kalimat untuk menjelaskan dengan gamblang bagaimana aku mencintaimu.

Selamat datang, 20 ke 32, Tuanku.
Terimakasihku pada Tuhan yang sudah mengutusmu menemaniku selama ini.
Terimakasihku pada mu yang sudah segan untuk menemaniku dalam kondisi apapun.
Walau diterpa hujan badai halilintar yang tak pernah lelah,
Bahkan kita selalu percaya selalu akan muncul pelangi setelahnya. Bukan begitu?

Perlukah aku menulis panjang lebar lagi untuk menjelaskan bahwa aku menyayangimu?
Ku pikir tidak. Karena sedunia tampaknya sudah tahu bahwa kita bertemu untuk disatukan, bukan diduakan atau ditigakan.

Kita bertemu, untuk menanti takdir Tuhan selanjutnya, apakah kita hanya akan sekedar langgeng, atau berjodoh.



Teruntuk pelangiku,
Irsandha Bakti Pratama.
Selamat tanggal 20, Pangeran :)