Saturday, October 24, 2015

Sore Senduku

Sore yang sendu,
Di dalam kamarku.
Menahan tangis sekuat tenagaku,
Karena hati yang tak kunjung bertemu.

Aku duduk di dinginnya ubin kamarku. Terpaku memandang monitor laptop yang putih, bersih, belum ada sepatah katah pun. Mataku bergerak kesana kemari tanda aku sedang berpikir, akan menulis apa hari ini. Sesekali aku merasakan panas di pelupuknya, dan sedikit rasa sesak di dadaku. Ku seka, kemudian aku berkata, “Tidak, aku kuat.” Demikian hingga aku mulai menemukan titik terang, lalu ku tuliskan sebait puisi sendu. Ada apa denganku akhir-akhir ini? Kenapa terlalu mudah untuk sakit? Kenapa terlalu mudah untuk luka? Siapa gerangan yang kira-kira membuat awan dalam relungku?

Hari ini, aku kembali berseteru dengan lelakiku. Sedih rasanya ketika pagi tadi kami masih bercanda seru, lalu mengakhiri siang dengan saling seteru. Tak berbeda dengan hari-hari yang lalu. Atau mungkin, minggu dan bulan-bulan yang lalu? Entahlah. Kapanpun itu yang jelas, aku seakan ingin menyerah saja sore ini. Menyerah atas tahun-tahun yang ku lewati bersamanya, menyerah atas hari-hari yang sudah indah dengannya. Kenapa harus menyerah? Kenapa harus kalah sebelum perang? Justru aku menyerah karena aku sudah kalah dalam perang. Perang sudah kulalui sedemikian lamanya sehingga aku tidak tahu strategi apa lagi, tak-tik yang bagaimana lagi yang harus ku gunakan untuk melawan keadaan yang tidak menyenangkan ini.

Setiap ada chat yang masuk ke ponselku, aku mencoba menjawabnya kemudian kusertakan kata “Hehehe” setelahnya. Begitu keras aku untuk mencoba kuat hingga aku harus pura-pura bahagia meskipun tidak. Tak terkecuali pesan darimu. Tidakkah kamu memperhatikan itu? Tidakkah kamu menengok sedikit saja bagaimana aku menguatkan diriku sendiri yang kehilangan jiwamu? Ketika kuliahku mengajarkanku mengintervensi orang lain, tampaknya kini aku mengintervensi diriku sendiri. Artinya, aku harus mengatasi apa yang menjadi problemku, tanpa bantuan orang lain. Menyakitkan.

Kali ini, kamu kembali jadi laki-laki asing dalam hidupku. Laki-laki yang sepertinya tidak mengenal bagaimana aku. Laki-laki yang sepertinya sudah lelah menjalani hari-hari dengan orang sepertiku. Laki-laki yang tampaknya bosan dengan ratusan hari yang telah dilewati dengan orang sepertiku. Lalu, seperti apakah aku? Aku adalah orang yang butuh didengar, dipahami dan dimengerti. Dan seperti apakah kamu? Kamu adalah orang yang selalu mendengarkanku, memahamiku dan mengerti akan aku. Tapi itu dulu. Lalu bagaimana aku menurutmu sekarang? Aku menurutmu sekarang adalah seseorang yang segala maunya harus menemukan kata iya, artinya menurutmu segala yang kumau harus terpenuhi. Mari, Kak, kita tengok bersama-sama bagaimana perjalanan kita selama ini.

Ketika aku sangat ingin kita jalan-jalan dan kamu tidak bisa, apakah aku tidak bisa mengerti? Ketika aku sangat ingin kita makan di suatu tempat dan kamu inginnya ke tempat lain, apa itu membuatku marah? Ketika aku sangat ingin membeli sesuatu yang menurutku lucu dan kamu melarangnya karena alasan hemat, apa aku juga sulit untuk memahami? Apakah ini yang kamu sebut sebagai “kemauanku harus terpenuhi”?

Aku sudah lelah jika harus meminta bantuan orang lain terus hanya untuk menyelesaikan segala permasalahan kita. Aku sudah terbiasa menghadapimu sendirian, mereka, teman-temanku, orang-orang sekitarku, hanya sebagai pendengar yang baik. Paling tidak, aku punya wadah untuk bercerita karena aku tahu, kamu tidak bisa menjadi seperti mereka.

Ketika aku butuh dukunganmu untuk membangunkanku di saat aku jatuh, kamu bukan orang yang bisa demikian. Ketika aku butuh dukunganmu untuk menjalankan usaha kecil-kecilanku, justru kamulah orang yang menyiutkan semangatku. Ketika kamu yang kuharapkan jadi sandaran empuk ketika aku menangis, hanya bonekamu yang menjadi demikian. Lalu kamu kapan? Bahkan aku sendiri pun jadi bagian yang mendukungmu habis-habisan disetiap langkahmu. Justru aku yang selalu ada untuk menyemangatimu ketika semangatmu luntur. Dan aku yang ikut menangis ketika kamu terjatuh.

Walaupun ragamu selalu ada untukku, walaupun keberadaanmu masih terlihat, aku sudah tidak bisa memeluk jiwamu, dan aku sudah tidak mengenali ada atau tidaknya keberadaan hatimu. Yang aku tau hanyalah apa yang aku lakukan adalah dominan salah dalam kognisimu. Yang aku tau hanyalah aku sudah berbeda ruang denganmu.

Jika aku ekstrovert, kamu introvert. Jika aku mampu menjadi diriku yang sekarang, jika aku masih bisa terjamah oleh hatimu, kamu tidak. Sayangnya dirimu yang dulu hanyalah euforia awal untuk mengambil hatiku, Kak. Tidak untuk sekarang. Jika dulu kita mampu berjalan bersama, berjuang bersama, tampaknya sekarang kamu lebih dulu berjalan dengan aku di belakangmu. Melindungimu jika kamu mulai resah, mulai meletup. Lalu, siapa yang akan melindungiku, di sampingku? Siapa yang akan menjadi temanku untuk berjalan bersama, bercanda akan suatu hal bersama, bercakap hangat dan menyenangkan seperti dulu?

Kak, walaupun aku tahu bahwa kamulah yang aku butuhkan, walaupun aku tahu bahwa kamulah yang selalu aku cari, apakah aku juga menjadi apa yang kamu butuhkan dan kamu cari?

Kak, aku selalu menghibur sendiri diriku tanpa bantuan orang lain, lho. Aku sudah bisa menahan tangisku agar tidak cengeng lagi, lho. Apakah kamu lihat itu?

Cerita ini, apakah kembali menemui ujung?




Aku menunggu suatu waktu dimana kamu dan aku, bisa kembali menjadi raja dan ratu yang bersanding, bukan raja yang mendahului sedangkan ratu yang melindungi.