Thursday, August 18, 2016

Pengobatan untuk Rasa Bersalah

Sudah satu semester berlalu sejak terakhir kali aku menulis disini. Perasaan bersalah karena berbagai hal pun muncul. Viewersku bertambah, namun aku tak kunjung menulis. Ku perpanjang kontrak yang menaungi domainku, namun aku tak kunjung menuliskan sepatah kata pun. Maaf.

Aku terlalu sibuk akan banyak hal. Aku terlalu sibuk mengejar deadline yang tak kunjung memberikanku waktu untuk tenang dan menulis sejenak. Aku terlalu sibuk mengerjakan hal lain sehingga ketika ada inspirasi yang singgah, ia berlalu begitu saja tanpa sempat aku tulis. Ya, alasanku sibuk ini dan itu mungkin akan sulit diterima. Maaf.

Memangnya, apa yang aku kerjakan selama enam bulan terakhir?
Tentu aku mengerjakan tugas-tugas kuliahku yang tak kunjung berakhir. Asesmen, intervensi, survey, mencari subjek, tes ini, tes itu, praktik kerja lapangan, bertemu dengan orang baru, bertemu dengan keluarga baru, rapat, kuliah, rapat, kuliah, rapat, ya, aku mendadak menjadi kura-kura. Hehehe. Jam tidurku menjadi tidak menentu, siang menjadi malam, malam menjadi siang. Hidupku mendadak menjadi nokturnal—aktif dikala malam tiba. Mungkin pada malam-malam itu, ketika ada yang menghubungiku pukul duabelas malam, aku cepat merespon. Hmm.

Bertemu orang baru? Laki-laki? Perempuan?
Tentu keduanya :) aku dipertemukan dengan beberapa laki-laki dan perempuan yang tangguh, kuat dan bisa diandalkan. Sebut saja kami sedang menjalankan mission X. Dalam menjalankan misi ini, kami dituntut untuk selalu bekerjasama, menguatkan diri satu sama lain, menghangatkan suasana, memberikan semangat, dan mempererat koordiasi satu dengan yang lainnya. Sangat menyenangkan, dan sangat bersyukur bertemu mereka. Entahlah, aku berpikir, misi ini mampu mendekatkan jauh, dan makin mendekatkan lagi yang sudah dekat :)

Yakin hanya itu? Apa tidak ada yang lebih dekat? Yang berkaitan dengan hati, mungkin?
Hmm... cukup sulit menjawab pertanyaan yang satu ini. Secara umum dekat, namun secara khusus mungkin belum.

Ya, semoga segera didekatkan dengan cara Tuhan yang lebih indah ya :)

Sekali lagi, aku ingin mengobati rasa bersalahku terhadap viewers yang selalu bertambah dan perpanjangan domain yang tak berarti apa-apa. Semoga perjalanan ini menyenangkan!


With Love,

Me.

Thursday, February 25, 2016

Waktumu Adalah Kadoku

Jika kamu tak bisa membuatnya bahagia,
Setidaknya jangan melukai hatinya.

***

“Halo, Assalamualaikum.” Samar-samar ku dengar suaranya. Masih gelap, dan selimut yang ku kenakan juga masih membungkus tubuhku.

“Hei, Waalaikumsalam.” Jawabku masih setengah sadar. Samar-samar ku tatap jam dinding yang menggantung pasrah di kamarku. Jam dua belas lebih lima belas menit.

“Selamat ulang tahun Sarahku!” Aku berusaha mendengarnya lebih jelas, membuka mataku lebih lebar dan menyadarkan diriku bahwa hari ini sudah tiba. Ya, ulang tahunku.

“Hehe, makasih ya.” Jawabku. Sudah sadar, walau tak sepenuhnya. Mataku masih ingin terlelap, namun otakku justru ngotot berkata nanti saja.

Seperti biasanya, ia menyebutkan satu per satu harapannya untukku. Dan aku pun tak jauh berbeda, mengamini berkali-kali akan setiap doa yang ia tujukan khusus untukku.

“Maaf ya aku belum bisa ada disana.” Ya, andai saja setelah kamu mengatakan ini, ada yang mengetuk pintu kamarku, dan ketika ku buka, kemudian aku menemukan ragamu di hadapanku. Andai saja. Namun kenyataannya tidak.

“Ah iya, nggak apa-apa kok.” Jawabku singkat tanpa menjelaskan pengandaianku.

“Yasudah, kamu tidur lagi, gih. Masih pagi buta kan disana.” Ya, tidak ada yang mengatakan sekarang ini sudah siang bolong.

“Aku kangen. Hari ini kamu jadi libur kan? Bisa sering-sering pegang hp kan?” tak ku hiraukan perintahnya untuk kembali tidur. Aku terlalu rindu padanya.

“Iya, sayang.” Jawabnya seakan tak ingin berbelit-belit lagi dan bisa segera menutup sambungan telepon yang ku terima dini hari ini.

“Oke deh kalo gitu, sampe ketemu nanti, Dim.” Ucapku sebelum ia meminta izin untuk memutus sambungan telepon.

Tak lebih dari tiga menit, suaranya sudah tak ku dengar lagi. Aku menuruti perintahnya untuk kembali tidur, dan mulai merangkai mimpi indah. Hari ini ia akan menemaniku. Hari ini akan menjadi hari yang istimewa untukku.

***

Pagi yang amat biasa saja. Tidak ada ucapan lagi, bahkan dari orangtuaku sendiri. Memeriksa ponselku, sama seperti memeriksa rumah tak berpenghuni, kosong. Tak ada satu pun pemberitahuan. Aku mengedarkan pandanganku ke seluruh sudut rumah, dan berpikir sejenak. Bahkan Mama dan Papa tak ingat hari ini tepat sembilan belas tahun anak sulungnya lahir ke dunia. Adik kembarku? Apa lagi. Ilham sudah sibuk mengelap mobil Papa yang berdebu. Irham sudah duluan pergi ke car free day dengan Cindy, kekasihnya. Iri juga melihat adikku sendiri sepagi itu sudah bertemu dengan kekasihnya. Sedangkan aku sendiri bahkan masih belum merencanakan hal yang berguna di hari ulang tahunku. Ah, semoga Dimas bisa menemaniku. Semoga Dimas tidak cuek. Semoga Dimas memang benar-benar menyisihkan waktunya sehari saja, untuk menemaniku, menjadi kado terindah untukku.

Dimas. Seorang laki-laki berkewarganegaraan Indonesia yang sejak setahun lalu tinggal di Belanda demi melanjutkan pendidikan. Jarak memisahkan kami kurang lebih sekitar empat belas ribu empat ratus sembilan puluh kilometer. Jika dini hari tadi ia meneleponku jam dua belas lebih lima belas menit, berarti di Belanda saat itu sedang pukul tujuh lebih lima belas malam. Tentu saja ia belum tidur. Kami dipertemukan di Jakarta, tepatnya di Dufan, saat liburan musim panasnya tahun dua ribu lima belas lalu. Ketidaksengajaan menyeret kami pada rasa nyaman satu sama lain.

***

Aku berjalan sendirian di tengah ramainya tempat ini. Menikmati liburan dalam kesendirian dengan hati yang amat gembira. Aku melihat sekeliling, dan banyak tersenyum kepada orang lain yang sama berliburnya denganku saat ini. Baru pertama kali ini Mama dan Papa memberiku lampu hijau untuk liburan mengunjungi suatu tempat wisata, bermain segala wahana yang ku inginkan, tanpa ditemani oleh mereka. Ya, kali ini aku benar-benar liburan sendiri. Tanpa Mama, Papa bahkan Ilham dan Irham. Dalam langkahku mengitari tempat ini, aku membayangkan wajah mereka berempat, seakan-akan aku menyampaikan ribuan terimakasih karena sudah membiarkanku mencari udara segar sendirian. Oh tidak. Apa itu? Apa yang melintas barusan di hadapanku? Sejenak ku terhenyak karena ada sesuatu yang berwarna, besar dan melintas di hadapanku. Jantungku berdegup kencang. Semakin kencang saat aku mencoba menengok ke arah kanan. Badut! Oh Tuhan! Monster ini kenapa ada disini? Aku panik, aku mulai merasakan ketukan nafasku yang tak karuan, kakiku yang mendadak mematung tak bisa ku gerakkan untuk menghindari monster ini, dan ku rasakan mulai ada butir-butir keringat yang keluar dari pori-pori kulit telapak tanganku. Pandanganku mulai tak tentu arah, aku merasa seperti akan pingsan.

Tidak, aku tidak boleh pingsan. Mama tidak ikut. Tidak ada Papa, Ilham, Irham. Oh tidak bagaimana ini? Tuhan tolong aku!

Aku merasakan ada yang menggenggam tanganku, menarikku perlahan pergi menjauh dari badut sialan itu. Sejenak aku tersadar bahwa sekarang aku diselamatkan dan berjalan dengan orang asing yang menggenggam telapak tanganku. Genggamannya cukup kuat. Pria tak ku kenal yang memiliki tubuh sekitar sepuluh sentimeter lebih tinggi dariku ini tampak sedikit cemas, namun ia berusaha menyembunyikannya.

“Maaf, anda siapa?” tanyaku setelah beberapa meter kami berjalan melewati tempat kejadian perkara.

Ia berhenti berjalan, kemudian menatapku.

“Oops, maaf. Tanganku basah.” Kataku sambil mengambil sapu tangan dari saku celana jeansku, kemudian mengelap tangannya yang ikut basah terkena keringat dari tanganku. Setelah tangannya kemudian tanganku yang gantian ku usap.

“Kamu kenapa tadi?” tanyanya.

Coulrophobia.” Jawabku.

“Eh?”

“Fobia badut.” Jawabku singkat.

“Terus kenapa masih mau main di tempat kayak gini?”

“Udah cita-cita.”

“Heh?”

“Iya, cita-cita main sendirian setelah belasan tahun selalu main sama Mama, Papa atau Ilham dan Irham.” Jelasku, seakan aku sudah mengenal orang ini dengan waktu yang lama.

Pria asing di hadapanku ini menghela nafasnya. “Aku Dimas.”

“Sarah. Nice to meet you. Makasih udah ditolongin.” Jawabku sambil menyodorkannya senyum termanis dan menawarkannya bersalaman sebagai tanda kami berkenalan.

Yeah, nice to meet you too. Don’t mention it.” Jawabnya membalas senyumku. Dan dalam tiga detik, ia sukses membuatku terpesona.

***

Sejak aku membuka mata pukul lima pagi tadi, yang ku terima hanya sebuah pesan melalu whatsapp darinya pukul tiga dini hari waktu Indonesia bagian barat. “I’m home, sweet heart.” Setelah aku membalasnya, tak ada balasan lagi darinya. Ya, jika ia menerima pesanku pagi tadi, pesan itu akan sampai pukul dua belas malam di Belanda, dan tentu ia masih terlelap pada saat itu.

Namun ini sudah siang bolong. Ku lihat jam kuno yang berdiri tegak di sudut ruang keluargaku. Tepat jam satu siang. Tentu di Belanda sudah jam delapan pagi, dong. Aku masih bisa menghitung dengan jelas mengingat perbedaan waktu Indonesia-Belanda adalah lima jam. Dan aku yakin Dimas tidak akan bisa bangun siang. Bagaimanapun lelahnya, sesakit apapun raganya, alarm di otaknya pasti akan membangunkannya tak lebih dari jam enam pagi.

Pesan yang ku kirim bertubi-tubi kepadanya tak kunjung memunculkan balasan darinya. Ada kecemasan yang mulai menjalar di hatiku. Ada pikiran-pikiran buruk yang melintas di otakku. Sakit? Sedang pergi dengan orang lain? Ada acara di kampus? Dan dugaan-dugaan lain yang sangat menggangguku. Dalam kecemasanku, tiba-tiba ponselku berdering. Ada panggilan via whatsapp. Tertera nama dan foto profilnya, Dimas.

“Halo, Assalamualaikum.” Sapanya.

“Iya, Waalaikumsalam.” Jawabku gembira. Seakan tak ingat aku sudah dirundung sebal yang cukup membuat  otakku mendidih beberapa jam terakhir.

“Eh bentar-bentar, aku lagi ngerjain temenku nih.” Ucapnya dari sana. Seakan-akan ia sangat bergembira disana. Aku merasakan kegembiraan itu.

“Oh, oke. Kenapa dikerjain?” tanyaku sedikit kecewa.

“Iya, Steven lagi ulang tahun sekarang.” Jawabnya seakan benar-benar lupa aku hari ini juga ulang tahun.

“Wah, sama dong ulang tahunnya kayak aku.” Kataku.

“Oh iya ya.” Bingo. Seakan dia benar-benar lupa kalau semalam ia mengucapkan selamat untukku. Repot-repot menyempatkan waktu untuk meneleponku di sela kesibukannya dan sekarang ia justru jadi orang yang pelupa. Nice.

“Lanjutin dulu aja deh. Aku tutup ya telponnya?” tanyaku. Nada suaraku sudah mulai menurun. Aku sudah tak tertarik berbicara apapun dengannya.

“Lah lah, bentar sayang. Kenapa? Kamu sebel ya pasti?”

Aku tidak menjawab, hanya nafasku saja semakin berat dan sepertinya desah nafasku terdengar hingga ke telinganya.

“Sayang? Hey..” ia lagi-lagi tak mendapatkan jawabanku.

“Sarah.” Panggilnya. Aku tahu, ketika ia sudah memanggil namaku, tentu ia serius kali ini.

“Ya, Dimas?” kini aku yang bergantian memanggil namanya.

“Tolong ngerti. Aku lagi sama temen-temenku sekarang. Aku lagi stress dan butuh hiburan disini. Aku pengen pulang ke Indonesia.” Jelasnya lembut.

“Tapi aku ulang tahun. Aku pengen kamu nemenin aku.” Jawabku. Tetap egois. Dan tetap berharap ia mengerti.

“Iya, aku tau. Tapi kan sekarang aku temenin nih, kita lewat chat kan juga bisa.”

“Aku pengen denger suara kamu. Aku kangen.” Suaraku mulai agak serak.

“Iya, nah ini sudah denger suara aku kan?”

Aku itu pengennya kita telponan lama kayak biasanya, Dimas!!!

Tenggorokanku serasa tercekat. “Yasudah, terserah.” Jawabku akhirnya pasrah.

“Nanti aku telpon lagi ya. Dah, Assalamualaikum.” Katanya kemudian memutuskan sambungan telepon.

Waalaikumsalam.

***

Sore berakhir sendu, malam berakhir pilu.

Dimas tak menepati janjinya. Ia benar-benar tak kunjung menghubungiku. Kali ini sama sekali. Tak ada pesan, apalagi telepon. Sebenarnya, seberapa stress? Seberapa bosan dia disana? Lalu mengapa tak pernah cerita? Apa dia bosan denganku? Dan kenapa harus sekarang? Di hari ulang tahunku?

Hal sepele ini membuatku sedih sesedih-sedihnya. Dan aku tak berani menceritakan padanya. Aku tak berani melakukan apapun termasuk menghubunginya. Aku tak mau dibilang egois. Bagiku, waktunya adalah kadoku. Setidaknya ia tak bisa hadir secara nyata, namun ia bisa hadir dengan suara bassnya yang khas. Menemaniku via telpon berlama-lama malam ini hingga tertidur. Mengatakan hal-hal indah sehingga aku bisa membayangkan dirinya ada di sampingku. Dan segala hal menyenangkan lainnya. Tapi nyatanya tidak. Semuanya tidak terjadi.

Satu pesan yang ku kirimkan sebelum tidur padanya, “Semoga kamu masih inget kalo hari ini ulangtahunku, setelah kamu semangat banget ngerayain ulangtahun temenmu, tapi enggak sama ulangtahunku. Makasih, Dimasku. Good night from Indonesia.” Kemudian aku terlelap dengan pipi yang masih sangat basah dan dada yang nyeri. Setidaknya, dalam tidurku aku masih ingin Dimas hadir memberikan sedikit senyuman hingga membuatku kembali terpesona dalam tiga detik, seperti saat pertama kali ia hadir dan membuatku terseret sangat jauh dalam kenyamanan.

***

Jika kamu tak bisa membuatku bahagia
Setidaknya kamu tidak melukai hatiku.

Wednesday, January 27, 2016

Pintu Kemana Saja

Andaikan kantong ajaib Doraemon itu nyata, mana yang akan kamu pilih? Mesin waktu atau pintu kemana saja?

Ponselku tiba-tiba berdering sesaat setelah aku pulang dari minimarket tak jauh dari rumahku. Perwira. Mataku seperti akan melompat keluar saat membaca nama yang muncul di layar. Dia meneleponku. Dia menghubungiku, di tengah masa pendidikannya. Ku cabut dengan segera kabel charger dari ponselku dan ku angkat teleponnya. Ku dengar salamnya yang muncul dari suaranya yang khas; hangat. “Waalaikumsalam.” Jawabku. Sejenak aku tak berkata apa-apa. Aku masih terkejut. Pasalnya, ini bukanlah hari dimana ia keluar dari asrama. Pernah dengar cerita para taruna yang pada saat pendidikan tidak diperkenankan membawa alat komunikasi apapun? Ya, dia salah satu tarunanya. Sehari-harinya ia memang membawa benda kecil—ponsel—itu untuk menghubungiku. Bersyukur rasanya ia selalu sukses memberikan kabar padaku walau hanya melalui sepucuk sms. Namun tidak dengan hari ini, ia memberiku kabar melalui gelombang suaranya. Sangat menakjubkan.

Eishh...kamu ndak usah kuatir, aman kok.” Ia mulai menunjukkan kepekaannya. Aku tertawa, lepas sekali. Ia juga membalas tawaku renyah. “Kenapa telpon?” tanyaku. “Lah emang salah yo?” dasar sensitif. Aku justru sangat bahagia akan datangnya momen yang sangat langka ini. Bagaimana tidak? Berhari-hari aku hanya membayangkannya dari sms yang dikirimkannya untukku. Itupun tak setiap hari. Itupun tak setiap menit bisa ku terima. Ini yang dia dan aku lalui setiap harinya. Dia menunggu hingga situasi aman, kemudian bisa mengirim pesan rindu untukku. Begitupun aku, menunggu hingga menerima kabar darinya, kemudian membalas pesan rindu tersebut dengan “Cepet pulang, Bang. Aku juga kangen.” Entah sudah berapa ratus kali kami melakukan hal yang sama, namun tak bisa sekalipun bosan.

“Dek, kalau kamu disuruh milih, kamu milih mesin waktu apa pintu kemana aja?” tanyanya tiba-tiba, beberapa menit setelah aku mulai mengobrol dengannya. “Emangnya kalau aku milih salah satu, Abang mau bawain buat aku?” tanyaku menggodanya. Dia gemas, dan aku pun terbiasa membuatnya tertawa dalam gemasnya. “Udah ndang dipilih.” Katanya. “Pintu kemana aja.” Jawabku. Untuk beberapa detik, aku tidak mendengar suaranya menanggapi jawabanku. “Bang?” ku panggil, namun tetap sunyi. Tak ada jawaban sama sekali dari seberang telepon. Sesaat kemudian, teleponnya mati. Aku jelas mendengus, baru beberapa menit, pikirku. Mungkin situasi disana mulai tidak aman. Aku mencoba menjernihkan otakku sebelum banyak pikiran aneh yang menjamur di dalamnya. Tak lama setelah telepon ditutup, aku mengirimkannya sebuah sms. “Bang, mulai gak aman ya? Jaga kesehatan ya, Bang.” Hanya itu, dan tak lupa mengingatkan akan kesehatannya entah untuk keberapa kalinya. Beberapa menit menunggu, tidak ada jawaban. Ya, mungkin memang sedang tidak aman.

Ponselku yang telah kembali diisi dayanya berdering untuk kedua kalinya. Perwira. Nama itu muncul lagi. Cepat-cepat kabel charge yang masih menancap ku cabut paksa, dan ku angkat teleponnya. “Abang! Tadi kemana? Baik-baik aja kan?” tanyaku langsung menodongnya dengan pertanyaan-pertanyaan kekhawatiran. “Apa sih, aku tadi tiba-tiba aja kebelet, Dek. Situasi yang ndak aman banget kan? Hehehe.” Jelasnya, dengan nada tanpa bersalah diselingi dengan tawanya yang sangat jahil. Aku bisa membayangkan ekspresinya. Aku pura-pura saja kesal dan tidak menanggapi penjelasannya. “Hei...kamu sebel kan? Hayo ngaku.” Kali ini gantian dia yang menggodaku. Aku tetap tak memberikan jawaban. Tak lama setelah itu, ku dengar suara ketukan pintu. Karena saat itu ibuku masih menunaikan ibadah sholat Isya, akulah yang membukakan pintu. “Bang, bentar ada tamu. Aku bukain pintu dulu ya.” Langsung ku letakkan saja ponselku di sofa. Tidak ku matikan atau ku putuskan sambungan teleponnya.

Ku buka pintunya, dan ku temukan sosok yang tak ku sangka sebelumnya. Ia menurunkan tangannya yang menggenggam ponsel dari daun telinganya, dan tersenyum lebar di hadapanku. “Bang Wira.” Panggilku. Dia tetap tersenyum tak bergerak, bahkan menjawab panggilanku pun tidak. Tak lama telapak tanganku meraih kedua pipinya seakan tak percaya ia ada di hadapanku. Ku sentuh dengan lembut permukaan pipinya, meyakinkan diriku jika ia nyata. Ia pulang. Sekali lagi ku tatap lekat matanya, memastikan bahwa lensa matanya coklat. Memang benar, ini dia. “Naik apa, Bang?” memang jika sedang terkejut, aku sering menanyakan hal bodoh. “Pintu kemana saja.” Jawabnya, sambil tak lupa tersenyum.

Memang dasar keterlaluan. Suka sekali membuatku terharu dengan kejutan-kejutannya. Hobi sekali membuatku meneteskan air mata—bahagia—berkali-kali. Selain aku, ia juga membuat ibuku terkejut. Senang mengetahui ia pulang, dan memberikan kejutan untuk putri sulungnya ini. Malam itu seakan tak menemui ujung. Pintu kemana saja membawanya kesini. Tepat ke hadapanku. Senang rasanya, pintu kemana saja yang ia lewati tak membawanya pada tempat yang salah. Bukan begitu?

Kini ku temukan jawabannya.
Jika hal itu bisa mempertemukanku denganmu kapan saja yang ku mau,
Maka pintu kemana saja pilihanku.
Terimkasih sudah datang, Bang Wira.

Thursday, January 21, 2016

Bertemu Lagi

Pagi itu, aku buru-buru mengemasi barangku. Tak banyak, namun cukup membuatku repot untuk bergerak kesana kemari. Satu tas ransel berwarna pink dan satu tas jinjing yang berwarna kuning mencolok mata siap ku bawa pulang menuju kampung halaman. Bapak ojek yang ku pesan via online pun sudah siap mengantarkanku menuju ke Terminal Purabaya. Benar-benar masih pagi saat itu. Bahkan jalan-jalan utama di kota ini masih bisa bernafas dengan bebas. Tak terkecuali aku. Aku berkali-kali mengatur nafas mengikuti debar dalam dadaku. Terkadang sesak. Terkadang tiba-tiba longgar. Terkadang perutku terasa mulas mendadak. Terkadang aku senyum-senyum tidak jelas. Tak sabar rasanya bertemu denganmu, sosok yang berpuluh-puluh bulan ku tunggu.

Setelah menempuh tiga puluh menit perjalanan darat dengan menggunakan motor si bapak ojek, aku tiba di terminal bus dengan selamat. Buru-buru aku membayar ongkos, kemudian membenarkan posisi tasku sambil melangkahkan kaki menuju ruang tunggu. Sembari berjalan—berlari kecil—menuju ruang tunggu, jantungku mendadak berubah menjadi genderang perang. Degupannya semakin menjadi-jadi. Bahkan suara detaknya serasa memantul hingga gendang telingaku. Aku semakin bingung mengatur nafas. Aku semakin sering tersenyum tak jelas. Kakiku semakin cepat melangkah, hingga tak kurang dari lima menit kemudian aku sudah bisa berdiri di tengah lautan penumpang yang sedang duduk menunggu.

Enam puluh detik aku bertahan menatap seisi ruang tunggu, mataku tak dapat menangkap sosoknya. Sekitar dua hingga empat kali memutar badan, tetap saja batang hidungnya tak nampak. Mungkin ia masih di jalan, atau mungkin aku yang terlalu pagi sampai di tempat ini. Sebelum merasa lelah menunggunya sambil berdiri, aku melihat-lihat sekitar kursi ruang tunggu, dan ku dapati satu yang kosong di barisan paling depan. Aku duduk tanpa bersandar, kemudian dengan segera ku keluarkan ponselku. Bimbang antara harus menghubunginya lewat telepon atau hanya mengirimkannya sms. Aku sudah menemukan namanya dalam kontak ponselku, namun ku urungkan niatku untuk menelepon. Pasti aku tak akan bisa mengeluarkan suara ketika ia menjawab teleponku. Akhirnya ku putuskan untuk mengirimkannya sms. Ditengah aku mengetik “Kamu di...” ada seseorang menepuk pundakku. “Nggak jadi telpon?” tanya seseorang tersebut. Seketika aku menengok terkejut. Mataku terbelalak, dan bibirku menganga membuat kedua telapak tanganku reflek untuk menutupnya seketika itu juga. Hingga rasanya aku tidak peduli ponselku terjun bebas. Hingga aku tak peduli bagaimana konyolnya ekspresi wajahku pada saat itu. Aku terkejut, bahagia—tak terkira.

Ia tersenyum dan membuka kedua lengannya lebar sekali di hadapanku. Aku menyambutnya. Pelukannya tetap hangat. Pelukannya tetap sama seperti dulu—beberapa tahun yang lalu. Tak ku rasakan ponselku yang entah terjun di sisi mananya diriku. Tak ku rasakan tiba-tiba dari pelupuk mataku ada setetes air yang terasa hangat mengaliri pipiku. Tuhan, sebahagia inikah aku? Aku melepaskan pelukannya. Ia menatapku, sedetik kemudian berlutut. “Kamu ngapain?” tanyaku. Ia hanya menjawab “Keburu diambil orang.” Jawabnya sambil memberikan kembali ponselku. Ah, iya. Ia memang jagonya membuatku lupa akan sekelilingku, lupa akan berbagai beban yang menggantung di pundakku—lupa akan dia yang sering menyakitiku.

“Yuk.” Ajakku. “Buru-buru banget?” tanyanya justru membuatku tak mengerti. Aku hanya menatapnya penuh pertanyaan, memang mau ngapain lagi? Dia tidak berkata apa-apa lagi, kemudian duduk di kursi yang kosong. Sedetik kemudian, ia menepuk-nepuk kursi kosong di sebelahnya, mengisyaratkan duduk sini dulu. Ia membuatku membeku dalam beberapa detik, namun akhirnya aku menurut saja. Tiba-tiba ia menatapku. Menatap dari ujung kepalaku hingga ujung kakiku. Aku meliriknya tanpa bicara. “Tambah gendut, item.” Walaupun nyatanya demikian, aku tetap saja mendengus. “Tapi tambah manis.” Susulnya. Otomatis, membuatku sedikit tersenyum. “Nah, makin manis, tho.” Ah ini dia. Memang dasar dialah yang paling bisa membuatku tersenyum selebar-lebarnya.

Cahaya matahari semakin terang masuk ke dalam ruang tunggu melalui kaca-kaca di sekitarnya. Sama seperti dia, yang semakin getol menceritakan apa saja yang tak ku ketahui selama ia menempuh pendidikan di kota orang. Lima tahun terpisahkan, tentu tak bisa hanya beberapa cerita yang ia bagikan. Aku mendengarkannya dengan saksama. Aku memperhatikan gerak bibirnya, suaranya, kebiasaannya batuk-batuk kecil. Ah, suara batuknya pun masih ku ingat. Dulu dan kini, semua tak ada bedanya. Aku melihat lensa matanya yang coklat, suka sekali dengan karya Tuhan yang satu ini. Aku dibuatnya jatuh cinta puluhan kali hanya melalui tatapannya. Tak terasa, aku menatapnya terlalu dalam. Tak pernah ku menatap mata seseorang selama ini, jika bukan matanya. Sambil mendengarkan, aku tampak kesulitan menyembunyikan senyum bahagiaku. Hingga ia sadar, aku memperhatikannya—terlalu lekat—terus menerus.

“Ah kamu makin pendiem yo sekarang.” Katanya tiba-tiba. Aku terkejut mendengarnya. “Kok bisa?” susulku bertanya. “Nah mana, kamu ndak dengerin aku, malah ngeliatin aku terus.” Hei, Mas. Aku mendengarkanmu, dan akan selalu mendengarkanmu berapa kali pun kamu mengulang ceritamu. Dasar tidak peka. “Kapan sih aku ndak dengerin kamu?” tanyaku. Ini membuatnya tersenyum, lantas kemudian mempersilahkan aku untuk bercerita. Apapun yang ingin aku ceritakan—terutama yang berhubungan dengan kisah cintaku yang sekarang.

Aku mulai bercerita. Kadang tertawa, kadang kesal. Ia tampak mendengarkan, entah dimasukkan dalam otaknya, atau hanya sekedar lewat, aku tak mengetahui secara pasti. Lalu suatu waktu aku memejamkan mataku. Seketika ada rasa nyeri di dadaku. “Kamu kenapa? Sakit?” seketika aku mengubah stigmaku akan dia yang tidak peka. Menggantinya dengan kamu kok peka? Aku membuka mataku perlahan, tersenyum padanya dan hanya menggelengkan kepala. “Ah mbujuk. Kayak nggak tau kamu gimana aja.” Kata-katanya inilah yang mampu membuatku tertawa, namun sekejap kemudian mengalir juga benda cair itu dari mataku. Dasar cengeng. Dia diam. Aku masih sangat hafal dia memang tak akan menggangguku—menepuk-nepuk lenganku—saat menangis karena hal itu akan membuatku semakin parah. Ia menungguku dengan—setia—tenang sampai aku berhenti menangis. Sesaat aku menghentikan tangisanku, aku menyeka sisa-sisa basahnya mataku dengan punggung tanganku. Kemudian kulihat sekelilingku, walaupun matahari semakin menyengat, semakin banyak orang datang. Kenapa harus di tempat seperti ini, pikirku. “Udah lebih baik?” tanyanya. Aku mengangguk. “Ayo cerita.” Katanya.

Mulai ku ceritakan kisah yang terbilang panjang itu. Dari hal A hingga Z seakan tidak ada yang terlewatkan. Jemariku bermain sendiri seperti orang sedang kebingungan. Ekspresiku menunjukkan ketidakmenentuan yang berkecamuk pada perasaanku. Ia tak tinggal diam, kemudian menggenggam tangan kananku, memberikan kekuatan untukku. Kali ini, ia berhasil menghapus secara total stigma tentangnya yang tidak peka. Ia seakan menjadi seseorang yang paling tahu bahwa aku butuh kekuatan. Ya, hatiku tak bisa berdiri sekuat tubuhku. Hatiku tak bisa menanggung beban sekuat pundakku. Inilah yang menjadikan alasan aku membutuhkannya, walau aku tak mengetahui ia membutuhkan seseorang sepertiku atau tidak.

Kita saling bercerita seperti tidak ada sesuatu hal yang terjadi dalam diri kita masing-masing. Kamu menguatkan aku seakan kamu tak punya orang lain untuk dikuatkan. Aku menatapmu lekat seakan aku juga tak punya orang lain yang ku tatap dalam-dalam. Kenapa kamu datang dan membuatku—jatuh cinta—terkagum untuk kesekian kalinya? Tidakkah cukup dulu saja, lalu kemudian saling menjauh dan memilih jalan masing-masing? Apa kamu masih menyimpan hati untukku? Apa tidak berdosa kiranya aku kembali masuk dalam kehidupanmu? Inikah yang dinamakan dilema? Antara aku yang—sejujurnya—membutuhkanmu, namun ada orang lain yang lebih membutuhkan genggamanmu.

Paling tidak, aku senang Tuhan punya rencana seindah ini untuk mempertemukan kita. Aku senang, Tuhan masih sangat memperhatikan apa yang aku butuhkan; kamu.

Kamu masih tetap sama,
Selalu menjadi pendengar setia.
Selalu menjadi pemasok kehangatan.
Terimakasih, untuk kamu yang tak pernah kapok menguatkan.

Antara Aku, Kamu, dan Golongan Darah


Ketika ramalan berbicara, banyak orang yang percaya. Ketika ramalan telah menyentuh kehidupan seseorang, banyak orang pula yang yakin bahwa apa yang dikatakan ramalan adalah benar adanya. Entah dari astrologi dalam hal perbintangan atau zodiak, kartu tarot, hingga golongan darah. Semuanya bisa memprediksi banyak hal. Kepribadian, what will happen in the future, bahkan beberapa tahun yang lalu ada segelintir peramal yang memberikan statement bahwa tak lama lagi kiamat akan datang. Ramalan tidak terjadi pada era modern ini saja, bahkan pernah santer terdengar di telinga kita bahwa Suku Maya, telah meramalkan kiamat akan terjadi pada tanggal 21 Desember 2012, sejak berabad-abad silam. Namun benarkah segala macam ramalan itu? Mungkin jika sebagian orang meyakini benar, maka akan terjadi benar secara kebetulan dalam hidupnya. Namun bisa juga terjadi kesalahan seperti yang tampak pada ramalan Suku Maya.

Aku dan kamu, kita, sering melihat sesuatu yang dulunya tabu, menjadi hal yang biasa sekarang. Dahulu, siapa yang peduli dengan ramalan golongan darah? Dahulu siapa yang tak mengenal golongan darah hanya sebagai sarana untuk membantu proses tranfusi darah? Dan siapa yang mengira bahwa golongan darah bisa menjadi sesuatu yang sering ditemukan sebagai ramalan pada media sosial di zaman modern ini? Mari kita perhatikan. Pagi, ketika kita membuka salah satu media sosial yang kita punya seperti Line, Path atau Instagram tak jarang kita melihat seseorang mendonasikan jempol like nya pada suatu post tentang ramalan golongan darah. Atau mungkin, ada admin dari suatu akun instagram/path yang mengunggah suatu foto berupa quotes golongan darah yang belum tentu benar adanya hanya untuk menambah satu angka lebih banyak dalam jumlah kolom “post”. Siang, ketika tengah meneduhkan diri dari sengatan matahari dan beristirahat sejenak sambil iseng membuka sosial media, ada lagi beberapa orang yang memberikan tanda kesukaan pada suatu post ramalan golongan darah yang menunjukkan bagaimana kepribadian seseorang. Sore, saat matahari sudah di ufuk barat dan sembari menonton televisi kita membuka lagi media sosial dan hal tersebut kembali terjadi. Dan saat malam ketika kita hendak menghantarkan tubuh ke alam mimpi, sebelum tidur kita kembali membuka media sosial dan yang kita lihat tidak jauh berbeda dari saat pagi, siang dan sore. Bosan sejujurnya melihat post yang disukai dan dibagikan hanya seputar ramalan  itu-itu saja. Bahkan beberapa orang mungkin juga merasa kesal ketika mengetahui sudah ada yang namanya “Komik Golongan Darah” beredar di muka bumi Indonesia. Beberapa dari kita mungkin sangat menyayangkan akan keberadaan fakta yang belum tentu benar itu. Beberapa dari kita mungkin ada yang percaya dan merespon fakta yang belum tentu benar itu kemudian merepresentasikan kepercayaan tersebut dengan mendonasikan satu like untuk post tersebut. Dan banyak lagi dari kita yang mungkin biasa saja akan ada atau tidaknya hal-hal tersebut di sekeliling.

Fenomena yang cukup membuat konsep kepercayaan baru dalam pemikiran banyak orang ini tampaknya membuat khalayak lupa akan apa yang benar-benar menjadi konsep sesungguhnya akan golongan darah. Sekarang, mari biarkan otak kita mengingat-ingat. Sebenarnya, 4 tipe golongan darah yang dulu kita ketahui itu sebagai apa? Apa sebagai penentu bagaimana kepribadian seseorang? Bandingkan dengan apa yang terjadi dalam beberapa kurun waktu terakhir. Bagaimana bisa golongan darah dihubungkan dengan karakteristik kepribadian? Adakah penelitian ilmiah yang mendasarinya?

Dari kacamata filsafat, mungkin akan timbul berbagai pertanyaan yang butuh jawaban akan segala fenomena yang terjadi akhir-akhir ini. Karena psikologi mempunyai hubungan yang sangat erat dengan filsafat maka, ilmu psikologi juga harus mempunyai kontribusi dalam pencarian kebenaran pertanyaan filsafat. Setidaknya ketika fenomena ini ada hubungannya dengan psikologi, kita bisa berpikir, mengapa masih banyak mahasiswa atau mahasiswi, yang sedang mempelajari ilmu psikologi, juga turut serta menyumbangkan like pada sesuatu yang belum tentu menjadi fakta. Sungguh aneh, tapi memang nyata.

Sebelum kita berjalan terlalu jauh, mari beristirahat sebentar dan mereview kembali tentang konsep golongan darah. Aryulina, Muslim, Manaf dan Winarni (2004) menjelaskan penggolongan golongan darah sistem ABO awal mulanya didasarkan dari dua macam antigen. Yaitu antigen A dan antigen B, serta dua macam antibodi yaitu anti-A dan anti-B. Kemudian Aryulina dkk. (2004) menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan antigen ialah glikoprotein yang terkandung pada sel darah merah. Antigen inilah yang menunjukkan perbedaan golongan darah apabila kita akan melakukan donor darah pada orang lain. Jadi apabila orang lain yang bergolongan darah B sedangkan kita bergolongan darah A, maka tidak mungkin individu yang bergolongan darah B melakukan tranfusi darah pada individu bergolongan darah A, dan sebaliknya. Antigen ini juga berkaitan dengan sistem kekebalan tubuh manusia, sehingga jika diturunkan ke generasi selanjutnya, maka individu juga kurang lebih menerima kekebalan tubuh yang sama. Selanjutnya selain antigen Aryulina dkk. juga menjelaskan yang dimaksud dengan antibodi ialah molekul protein yang dihasilkan oleh limfosit B yang berfungsi untuk merespon adanya antigen dalam tubuh. Singkat dan mudahnya, yang menentukan adanya perbedaan dari golongan darah setiap manusia ialah antigennya. Karena hal tersebut menurun secara genetis.

Dari penjabaran konsep golongan darah di atas, mari kita katakan bersama-sama bahwa kepribadian tidaklah ditentukan oleh golongan darah. Jika pun kepribadian ditentukan oleh tipe golongan darah, itu adalah sebuah mitos. Seperti yang telah dipaparkan di atas, manusia mempunyai antigen yang mendukung sistem imun dalam tubuhnya bukan menentukan karakteristik kepribadiannya. Hal ini juga didukung oleh penelitian di Australia yang membuktikan bahwa hubungan antara golongan darah dan kepribadian adalah bertentangan (Rogers & Glendon, 2003). Penelitian ini juga menyatakan bahwa kepribadian seseorang dengan golongan darahnya tidak punya kaitan yang pasti atau valid.

Kita sebagai bangsa yang cerdas tidak hanya harus mengetahui, tapi juga harus memahami bahwa kepribadian individu sifatnya adalah dinamis, yaitu berubah-ubah. Jadi misalkan dikaitkan dengan golongan darah, bisa kita ambil contoh ketika ada pernyataan “Golongan darah B adalah tipe orang yang tidak suka diatur.” Pada kenyataannya, banyak juga orang bergolongan darah B menerima dengan senang hati jika diatur, dalam arti mematuhi segala peraturan yang berlaku di lingkunan sekitarnya. Atau mungkin “Golongan darah O merupakan seseorang yang dingin di luar, namun punya kehangatan luar biasa jika sudah mengenalnya.” Bisa saja individu yang bergolongan darah O merasa dirinya tergolong seseorang yang ramai, tidak sesuai dengan apa yang disebutkan seperti pernyataan di atas. Atau mungkin, bisa saja yang bergolongan darah B merasa seperti pernyataan golongan darah O dan sebaliknya.

Mungkin kita bertanya-tanya sebenarnya dari mana asal-usul mitos golongan darah ini berkembang. Dalam suatu jurnal disebutkan bahwa ramalan tentang golongan darah ini berasal dari masyarakat Jepang sejak ratusan tahun yang lalu. Pada masa itu, seseorang bernama Hori Ichiro juga menyebutkan bahwa ramalan ini bersifat takhayul (Permatasari, 2012). Dalam penelitian Jepang ini juga ditemukan kurangnya bukti-bukti ilmiah dalam penggolongan kepribadian dengan golongan darah. Karena kurangnya bukti-bukti ilmiah tersebut, maka banyak ahli yang meragukan keabsahan hubungan antara kepribadian dan golongan darah.

Menjadi seseorang yang berpikiran luas itu tidak mudah. Bagi sebagian orang awam, mungkin wajar ketika mempercayai kepribadian menurut golongan darah. Namun sangat disayangkan apabila kepercayaan ini terus berkembang menjadi konsep yang tidak berdasar. Karena apabila semakin banyak orang yang mempercayai hal ini, tentu juga akan membawa dampak yang tidak baik. Seperti contoh seseorang bergolongan darah A, sebut saja Mawar. Mawar sedang membaca posting yang muncul di akun sosial Line tentang karakteristik kepribadian seseorang berdasarkan golongan darahnya. “Golongan darah A: paling rajin bangun pagi. Golongan darah B: bangun pagi sih, tapi pasti tidur lagi. Golongan darah O: bangun pagi sering, tapi nggak pernah bisa konsisten. Golongan darah AB: kalau bangun pagi aja susah, gimana mau bangun keluarga?”. Setelah membaca postingan tersebut, Mawar teringat akan temannya yang bergolongan darah AB. Dan saat ia bertemu dengan temannya, ia justru mengolok-olok dan menyebarkan suatu fakta yang belum tentu benar, bahwa seseorang bergolongan darah AB adalah orang tersulit untuk bangun pagi.

Bisa disimpulkan bahwa kepercayaan ini akan membawa dampak berupa diskriminasi terhadap individu bergolongan darah yang lain. Hal ini tentu akan menyebabkan tekanan psikologis pada korban yang diolok-olok atas sesuatu yang tidak berdasar. Ketika individu sudah berada dalam tekanan, baik itu dengan intensitas tekanan yang rendah hingga tinggi, tentu akan dapat menimbulkan faktor risiko yang lain. Misalkan ia akan sulit mengembangkan self-confidence, motivasi belajarnya menurun, semakin menutup diri atau mungkin semakin antipati terhadap lingkungan sosial di sekitarnya.

Aku dan kamu, kita semua sudah mengetahui bagaimana modernisasi menyuguhkan segala informasi di hadapan kita. Entah itu berdasar atau tidak, entah itu punya bukti atau tidak dan entah itu memang layak kita percaya atau tidak. Tidak terkecuali hubungan golongan darah dengan kepribadian. Awalnya banyak dari kita percaya akan hal yang tak berdasar. Namun, kita lupa bahwa cinta saja membutuhkan dasar yang kuat, kita lupa bahwa cinta juga butuh pembuktian bahkan kita juga lupa bahwa sebelum kita mencintai, tentu kita mempercayai terlebih dahulu. Lalu, akankah kita bisa mencintai sebuah mitos ketika ia tak punya dasar, bukti dan usaha lain untuk membuat kita percaya? Karakteristik menurut golongan darah tidak lain dan tidak bukan ialah mitos belaka. Percuma saja kita mempercayainya, jika pada akhirnya nanti ia akan berangsur meninggalkan kita setelah popularitasnya mereda.



Referensi 
Aryulina, D., Muslim C., Manaf S., & Winarni E. W. (2004). Biologi SMA dan MA untuk Kelas XII. Penerbit Erlangga: PT Gelora Aksara Pratama.
Roger M., & Glendon A. I. (2003). Blood Type and Personality. Personality and Individual Differences, 34, 1099-1112. doi:10.1016/S0191-8869(02)00101-0.
Permatasari Y., (2012). Fenomena Ramalan Golongan Darah di Jepang Ditinjau dari Konsep Kepercayaan Rakyat. Japanology, 1(1), 66-77.