Wednesday, January 27, 2016

Pintu Kemana Saja

Andaikan kantong ajaib Doraemon itu nyata, mana yang akan kamu pilih? Mesin waktu atau pintu kemana saja?

Ponselku tiba-tiba berdering sesaat setelah aku pulang dari minimarket tak jauh dari rumahku. Perwira. Mataku seperti akan melompat keluar saat membaca nama yang muncul di layar. Dia meneleponku. Dia menghubungiku, di tengah masa pendidikannya. Ku cabut dengan segera kabel charger dari ponselku dan ku angkat teleponnya. Ku dengar salamnya yang muncul dari suaranya yang khas; hangat. “Waalaikumsalam.” Jawabku. Sejenak aku tak berkata apa-apa. Aku masih terkejut. Pasalnya, ini bukanlah hari dimana ia keluar dari asrama. Pernah dengar cerita para taruna yang pada saat pendidikan tidak diperkenankan membawa alat komunikasi apapun? Ya, dia salah satu tarunanya. Sehari-harinya ia memang membawa benda kecil—ponsel—itu untuk menghubungiku. Bersyukur rasanya ia selalu sukses memberikan kabar padaku walau hanya melalui sepucuk sms. Namun tidak dengan hari ini, ia memberiku kabar melalui gelombang suaranya. Sangat menakjubkan.

Eishh...kamu ndak usah kuatir, aman kok.” Ia mulai menunjukkan kepekaannya. Aku tertawa, lepas sekali. Ia juga membalas tawaku renyah. “Kenapa telpon?” tanyaku. “Lah emang salah yo?” dasar sensitif. Aku justru sangat bahagia akan datangnya momen yang sangat langka ini. Bagaimana tidak? Berhari-hari aku hanya membayangkannya dari sms yang dikirimkannya untukku. Itupun tak setiap hari. Itupun tak setiap menit bisa ku terima. Ini yang dia dan aku lalui setiap harinya. Dia menunggu hingga situasi aman, kemudian bisa mengirim pesan rindu untukku. Begitupun aku, menunggu hingga menerima kabar darinya, kemudian membalas pesan rindu tersebut dengan “Cepet pulang, Bang. Aku juga kangen.” Entah sudah berapa ratus kali kami melakukan hal yang sama, namun tak bisa sekalipun bosan.

“Dek, kalau kamu disuruh milih, kamu milih mesin waktu apa pintu kemana aja?” tanyanya tiba-tiba, beberapa menit setelah aku mulai mengobrol dengannya. “Emangnya kalau aku milih salah satu, Abang mau bawain buat aku?” tanyaku menggodanya. Dia gemas, dan aku pun terbiasa membuatnya tertawa dalam gemasnya. “Udah ndang dipilih.” Katanya. “Pintu kemana aja.” Jawabku. Untuk beberapa detik, aku tidak mendengar suaranya menanggapi jawabanku. “Bang?” ku panggil, namun tetap sunyi. Tak ada jawaban sama sekali dari seberang telepon. Sesaat kemudian, teleponnya mati. Aku jelas mendengus, baru beberapa menit, pikirku. Mungkin situasi disana mulai tidak aman. Aku mencoba menjernihkan otakku sebelum banyak pikiran aneh yang menjamur di dalamnya. Tak lama setelah telepon ditutup, aku mengirimkannya sebuah sms. “Bang, mulai gak aman ya? Jaga kesehatan ya, Bang.” Hanya itu, dan tak lupa mengingatkan akan kesehatannya entah untuk keberapa kalinya. Beberapa menit menunggu, tidak ada jawaban. Ya, mungkin memang sedang tidak aman.

Ponselku yang telah kembali diisi dayanya berdering untuk kedua kalinya. Perwira. Nama itu muncul lagi. Cepat-cepat kabel charge yang masih menancap ku cabut paksa, dan ku angkat teleponnya. “Abang! Tadi kemana? Baik-baik aja kan?” tanyaku langsung menodongnya dengan pertanyaan-pertanyaan kekhawatiran. “Apa sih, aku tadi tiba-tiba aja kebelet, Dek. Situasi yang ndak aman banget kan? Hehehe.” Jelasnya, dengan nada tanpa bersalah diselingi dengan tawanya yang sangat jahil. Aku bisa membayangkan ekspresinya. Aku pura-pura saja kesal dan tidak menanggapi penjelasannya. “Hei...kamu sebel kan? Hayo ngaku.” Kali ini gantian dia yang menggodaku. Aku tetap tak memberikan jawaban. Tak lama setelah itu, ku dengar suara ketukan pintu. Karena saat itu ibuku masih menunaikan ibadah sholat Isya, akulah yang membukakan pintu. “Bang, bentar ada tamu. Aku bukain pintu dulu ya.” Langsung ku letakkan saja ponselku di sofa. Tidak ku matikan atau ku putuskan sambungan teleponnya.

Ku buka pintunya, dan ku temukan sosok yang tak ku sangka sebelumnya. Ia menurunkan tangannya yang menggenggam ponsel dari daun telinganya, dan tersenyum lebar di hadapanku. “Bang Wira.” Panggilku. Dia tetap tersenyum tak bergerak, bahkan menjawab panggilanku pun tidak. Tak lama telapak tanganku meraih kedua pipinya seakan tak percaya ia ada di hadapanku. Ku sentuh dengan lembut permukaan pipinya, meyakinkan diriku jika ia nyata. Ia pulang. Sekali lagi ku tatap lekat matanya, memastikan bahwa lensa matanya coklat. Memang benar, ini dia. “Naik apa, Bang?” memang jika sedang terkejut, aku sering menanyakan hal bodoh. “Pintu kemana saja.” Jawabnya, sambil tak lupa tersenyum.

Memang dasar keterlaluan. Suka sekali membuatku terharu dengan kejutan-kejutannya. Hobi sekali membuatku meneteskan air mata—bahagia—berkali-kali. Selain aku, ia juga membuat ibuku terkejut. Senang mengetahui ia pulang, dan memberikan kejutan untuk putri sulungnya ini. Malam itu seakan tak menemui ujung. Pintu kemana saja membawanya kesini. Tepat ke hadapanku. Senang rasanya, pintu kemana saja yang ia lewati tak membawanya pada tempat yang salah. Bukan begitu?

Kini ku temukan jawabannya.
Jika hal itu bisa mempertemukanku denganmu kapan saja yang ku mau,
Maka pintu kemana saja pilihanku.
Terimkasih sudah datang, Bang Wira.

Thursday, January 21, 2016

Bertemu Lagi

Pagi itu, aku buru-buru mengemasi barangku. Tak banyak, namun cukup membuatku repot untuk bergerak kesana kemari. Satu tas ransel berwarna pink dan satu tas jinjing yang berwarna kuning mencolok mata siap ku bawa pulang menuju kampung halaman. Bapak ojek yang ku pesan via online pun sudah siap mengantarkanku menuju ke Terminal Purabaya. Benar-benar masih pagi saat itu. Bahkan jalan-jalan utama di kota ini masih bisa bernafas dengan bebas. Tak terkecuali aku. Aku berkali-kali mengatur nafas mengikuti debar dalam dadaku. Terkadang sesak. Terkadang tiba-tiba longgar. Terkadang perutku terasa mulas mendadak. Terkadang aku senyum-senyum tidak jelas. Tak sabar rasanya bertemu denganmu, sosok yang berpuluh-puluh bulan ku tunggu.

Setelah menempuh tiga puluh menit perjalanan darat dengan menggunakan motor si bapak ojek, aku tiba di terminal bus dengan selamat. Buru-buru aku membayar ongkos, kemudian membenarkan posisi tasku sambil melangkahkan kaki menuju ruang tunggu. Sembari berjalan—berlari kecil—menuju ruang tunggu, jantungku mendadak berubah menjadi genderang perang. Degupannya semakin menjadi-jadi. Bahkan suara detaknya serasa memantul hingga gendang telingaku. Aku semakin bingung mengatur nafas. Aku semakin sering tersenyum tak jelas. Kakiku semakin cepat melangkah, hingga tak kurang dari lima menit kemudian aku sudah bisa berdiri di tengah lautan penumpang yang sedang duduk menunggu.

Enam puluh detik aku bertahan menatap seisi ruang tunggu, mataku tak dapat menangkap sosoknya. Sekitar dua hingga empat kali memutar badan, tetap saja batang hidungnya tak nampak. Mungkin ia masih di jalan, atau mungkin aku yang terlalu pagi sampai di tempat ini. Sebelum merasa lelah menunggunya sambil berdiri, aku melihat-lihat sekitar kursi ruang tunggu, dan ku dapati satu yang kosong di barisan paling depan. Aku duduk tanpa bersandar, kemudian dengan segera ku keluarkan ponselku. Bimbang antara harus menghubunginya lewat telepon atau hanya mengirimkannya sms. Aku sudah menemukan namanya dalam kontak ponselku, namun ku urungkan niatku untuk menelepon. Pasti aku tak akan bisa mengeluarkan suara ketika ia menjawab teleponku. Akhirnya ku putuskan untuk mengirimkannya sms. Ditengah aku mengetik “Kamu di...” ada seseorang menepuk pundakku. “Nggak jadi telpon?” tanya seseorang tersebut. Seketika aku menengok terkejut. Mataku terbelalak, dan bibirku menganga membuat kedua telapak tanganku reflek untuk menutupnya seketika itu juga. Hingga rasanya aku tidak peduli ponselku terjun bebas. Hingga aku tak peduli bagaimana konyolnya ekspresi wajahku pada saat itu. Aku terkejut, bahagia—tak terkira.

Ia tersenyum dan membuka kedua lengannya lebar sekali di hadapanku. Aku menyambutnya. Pelukannya tetap hangat. Pelukannya tetap sama seperti dulu—beberapa tahun yang lalu. Tak ku rasakan ponselku yang entah terjun di sisi mananya diriku. Tak ku rasakan tiba-tiba dari pelupuk mataku ada setetes air yang terasa hangat mengaliri pipiku. Tuhan, sebahagia inikah aku? Aku melepaskan pelukannya. Ia menatapku, sedetik kemudian berlutut. “Kamu ngapain?” tanyaku. Ia hanya menjawab “Keburu diambil orang.” Jawabnya sambil memberikan kembali ponselku. Ah, iya. Ia memang jagonya membuatku lupa akan sekelilingku, lupa akan berbagai beban yang menggantung di pundakku—lupa akan dia yang sering menyakitiku.

“Yuk.” Ajakku. “Buru-buru banget?” tanyanya justru membuatku tak mengerti. Aku hanya menatapnya penuh pertanyaan, memang mau ngapain lagi? Dia tidak berkata apa-apa lagi, kemudian duduk di kursi yang kosong. Sedetik kemudian, ia menepuk-nepuk kursi kosong di sebelahnya, mengisyaratkan duduk sini dulu. Ia membuatku membeku dalam beberapa detik, namun akhirnya aku menurut saja. Tiba-tiba ia menatapku. Menatap dari ujung kepalaku hingga ujung kakiku. Aku meliriknya tanpa bicara. “Tambah gendut, item.” Walaupun nyatanya demikian, aku tetap saja mendengus. “Tapi tambah manis.” Susulnya. Otomatis, membuatku sedikit tersenyum. “Nah, makin manis, tho.” Ah ini dia. Memang dasar dialah yang paling bisa membuatku tersenyum selebar-lebarnya.

Cahaya matahari semakin terang masuk ke dalam ruang tunggu melalui kaca-kaca di sekitarnya. Sama seperti dia, yang semakin getol menceritakan apa saja yang tak ku ketahui selama ia menempuh pendidikan di kota orang. Lima tahun terpisahkan, tentu tak bisa hanya beberapa cerita yang ia bagikan. Aku mendengarkannya dengan saksama. Aku memperhatikan gerak bibirnya, suaranya, kebiasaannya batuk-batuk kecil. Ah, suara batuknya pun masih ku ingat. Dulu dan kini, semua tak ada bedanya. Aku melihat lensa matanya yang coklat, suka sekali dengan karya Tuhan yang satu ini. Aku dibuatnya jatuh cinta puluhan kali hanya melalui tatapannya. Tak terasa, aku menatapnya terlalu dalam. Tak pernah ku menatap mata seseorang selama ini, jika bukan matanya. Sambil mendengarkan, aku tampak kesulitan menyembunyikan senyum bahagiaku. Hingga ia sadar, aku memperhatikannya—terlalu lekat—terus menerus.

“Ah kamu makin pendiem yo sekarang.” Katanya tiba-tiba. Aku terkejut mendengarnya. “Kok bisa?” susulku bertanya. “Nah mana, kamu ndak dengerin aku, malah ngeliatin aku terus.” Hei, Mas. Aku mendengarkanmu, dan akan selalu mendengarkanmu berapa kali pun kamu mengulang ceritamu. Dasar tidak peka. “Kapan sih aku ndak dengerin kamu?” tanyaku. Ini membuatnya tersenyum, lantas kemudian mempersilahkan aku untuk bercerita. Apapun yang ingin aku ceritakan—terutama yang berhubungan dengan kisah cintaku yang sekarang.

Aku mulai bercerita. Kadang tertawa, kadang kesal. Ia tampak mendengarkan, entah dimasukkan dalam otaknya, atau hanya sekedar lewat, aku tak mengetahui secara pasti. Lalu suatu waktu aku memejamkan mataku. Seketika ada rasa nyeri di dadaku. “Kamu kenapa? Sakit?” seketika aku mengubah stigmaku akan dia yang tidak peka. Menggantinya dengan kamu kok peka? Aku membuka mataku perlahan, tersenyum padanya dan hanya menggelengkan kepala. “Ah mbujuk. Kayak nggak tau kamu gimana aja.” Kata-katanya inilah yang mampu membuatku tertawa, namun sekejap kemudian mengalir juga benda cair itu dari mataku. Dasar cengeng. Dia diam. Aku masih sangat hafal dia memang tak akan menggangguku—menepuk-nepuk lenganku—saat menangis karena hal itu akan membuatku semakin parah. Ia menungguku dengan—setia—tenang sampai aku berhenti menangis. Sesaat aku menghentikan tangisanku, aku menyeka sisa-sisa basahnya mataku dengan punggung tanganku. Kemudian kulihat sekelilingku, walaupun matahari semakin menyengat, semakin banyak orang datang. Kenapa harus di tempat seperti ini, pikirku. “Udah lebih baik?” tanyanya. Aku mengangguk. “Ayo cerita.” Katanya.

Mulai ku ceritakan kisah yang terbilang panjang itu. Dari hal A hingga Z seakan tidak ada yang terlewatkan. Jemariku bermain sendiri seperti orang sedang kebingungan. Ekspresiku menunjukkan ketidakmenentuan yang berkecamuk pada perasaanku. Ia tak tinggal diam, kemudian menggenggam tangan kananku, memberikan kekuatan untukku. Kali ini, ia berhasil menghapus secara total stigma tentangnya yang tidak peka. Ia seakan menjadi seseorang yang paling tahu bahwa aku butuh kekuatan. Ya, hatiku tak bisa berdiri sekuat tubuhku. Hatiku tak bisa menanggung beban sekuat pundakku. Inilah yang menjadikan alasan aku membutuhkannya, walau aku tak mengetahui ia membutuhkan seseorang sepertiku atau tidak.

Kita saling bercerita seperti tidak ada sesuatu hal yang terjadi dalam diri kita masing-masing. Kamu menguatkan aku seakan kamu tak punya orang lain untuk dikuatkan. Aku menatapmu lekat seakan aku juga tak punya orang lain yang ku tatap dalam-dalam. Kenapa kamu datang dan membuatku—jatuh cinta—terkagum untuk kesekian kalinya? Tidakkah cukup dulu saja, lalu kemudian saling menjauh dan memilih jalan masing-masing? Apa kamu masih menyimpan hati untukku? Apa tidak berdosa kiranya aku kembali masuk dalam kehidupanmu? Inikah yang dinamakan dilema? Antara aku yang—sejujurnya—membutuhkanmu, namun ada orang lain yang lebih membutuhkan genggamanmu.

Paling tidak, aku senang Tuhan punya rencana seindah ini untuk mempertemukan kita. Aku senang, Tuhan masih sangat memperhatikan apa yang aku butuhkan; kamu.

Kamu masih tetap sama,
Selalu menjadi pendengar setia.
Selalu menjadi pemasok kehangatan.
Terimakasih, untuk kamu yang tak pernah kapok menguatkan.

Antara Aku, Kamu, dan Golongan Darah


Ketika ramalan berbicara, banyak orang yang percaya. Ketika ramalan telah menyentuh kehidupan seseorang, banyak orang pula yang yakin bahwa apa yang dikatakan ramalan adalah benar adanya. Entah dari astrologi dalam hal perbintangan atau zodiak, kartu tarot, hingga golongan darah. Semuanya bisa memprediksi banyak hal. Kepribadian, what will happen in the future, bahkan beberapa tahun yang lalu ada segelintir peramal yang memberikan statement bahwa tak lama lagi kiamat akan datang. Ramalan tidak terjadi pada era modern ini saja, bahkan pernah santer terdengar di telinga kita bahwa Suku Maya, telah meramalkan kiamat akan terjadi pada tanggal 21 Desember 2012, sejak berabad-abad silam. Namun benarkah segala macam ramalan itu? Mungkin jika sebagian orang meyakini benar, maka akan terjadi benar secara kebetulan dalam hidupnya. Namun bisa juga terjadi kesalahan seperti yang tampak pada ramalan Suku Maya.

Aku dan kamu, kita, sering melihat sesuatu yang dulunya tabu, menjadi hal yang biasa sekarang. Dahulu, siapa yang peduli dengan ramalan golongan darah? Dahulu siapa yang tak mengenal golongan darah hanya sebagai sarana untuk membantu proses tranfusi darah? Dan siapa yang mengira bahwa golongan darah bisa menjadi sesuatu yang sering ditemukan sebagai ramalan pada media sosial di zaman modern ini? Mari kita perhatikan. Pagi, ketika kita membuka salah satu media sosial yang kita punya seperti Line, Path atau Instagram tak jarang kita melihat seseorang mendonasikan jempol like nya pada suatu post tentang ramalan golongan darah. Atau mungkin, ada admin dari suatu akun instagram/path yang mengunggah suatu foto berupa quotes golongan darah yang belum tentu benar adanya hanya untuk menambah satu angka lebih banyak dalam jumlah kolom “post”. Siang, ketika tengah meneduhkan diri dari sengatan matahari dan beristirahat sejenak sambil iseng membuka sosial media, ada lagi beberapa orang yang memberikan tanda kesukaan pada suatu post ramalan golongan darah yang menunjukkan bagaimana kepribadian seseorang. Sore, saat matahari sudah di ufuk barat dan sembari menonton televisi kita membuka lagi media sosial dan hal tersebut kembali terjadi. Dan saat malam ketika kita hendak menghantarkan tubuh ke alam mimpi, sebelum tidur kita kembali membuka media sosial dan yang kita lihat tidak jauh berbeda dari saat pagi, siang dan sore. Bosan sejujurnya melihat post yang disukai dan dibagikan hanya seputar ramalan  itu-itu saja. Bahkan beberapa orang mungkin juga merasa kesal ketika mengetahui sudah ada yang namanya “Komik Golongan Darah” beredar di muka bumi Indonesia. Beberapa dari kita mungkin sangat menyayangkan akan keberadaan fakta yang belum tentu benar itu. Beberapa dari kita mungkin ada yang percaya dan merespon fakta yang belum tentu benar itu kemudian merepresentasikan kepercayaan tersebut dengan mendonasikan satu like untuk post tersebut. Dan banyak lagi dari kita yang mungkin biasa saja akan ada atau tidaknya hal-hal tersebut di sekeliling.

Fenomena yang cukup membuat konsep kepercayaan baru dalam pemikiran banyak orang ini tampaknya membuat khalayak lupa akan apa yang benar-benar menjadi konsep sesungguhnya akan golongan darah. Sekarang, mari biarkan otak kita mengingat-ingat. Sebenarnya, 4 tipe golongan darah yang dulu kita ketahui itu sebagai apa? Apa sebagai penentu bagaimana kepribadian seseorang? Bandingkan dengan apa yang terjadi dalam beberapa kurun waktu terakhir. Bagaimana bisa golongan darah dihubungkan dengan karakteristik kepribadian? Adakah penelitian ilmiah yang mendasarinya?

Dari kacamata filsafat, mungkin akan timbul berbagai pertanyaan yang butuh jawaban akan segala fenomena yang terjadi akhir-akhir ini. Karena psikologi mempunyai hubungan yang sangat erat dengan filsafat maka, ilmu psikologi juga harus mempunyai kontribusi dalam pencarian kebenaran pertanyaan filsafat. Setidaknya ketika fenomena ini ada hubungannya dengan psikologi, kita bisa berpikir, mengapa masih banyak mahasiswa atau mahasiswi, yang sedang mempelajari ilmu psikologi, juga turut serta menyumbangkan like pada sesuatu yang belum tentu menjadi fakta. Sungguh aneh, tapi memang nyata.

Sebelum kita berjalan terlalu jauh, mari beristirahat sebentar dan mereview kembali tentang konsep golongan darah. Aryulina, Muslim, Manaf dan Winarni (2004) menjelaskan penggolongan golongan darah sistem ABO awal mulanya didasarkan dari dua macam antigen. Yaitu antigen A dan antigen B, serta dua macam antibodi yaitu anti-A dan anti-B. Kemudian Aryulina dkk. (2004) menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan antigen ialah glikoprotein yang terkandung pada sel darah merah. Antigen inilah yang menunjukkan perbedaan golongan darah apabila kita akan melakukan donor darah pada orang lain. Jadi apabila orang lain yang bergolongan darah B sedangkan kita bergolongan darah A, maka tidak mungkin individu yang bergolongan darah B melakukan tranfusi darah pada individu bergolongan darah A, dan sebaliknya. Antigen ini juga berkaitan dengan sistem kekebalan tubuh manusia, sehingga jika diturunkan ke generasi selanjutnya, maka individu juga kurang lebih menerima kekebalan tubuh yang sama. Selanjutnya selain antigen Aryulina dkk. juga menjelaskan yang dimaksud dengan antibodi ialah molekul protein yang dihasilkan oleh limfosit B yang berfungsi untuk merespon adanya antigen dalam tubuh. Singkat dan mudahnya, yang menentukan adanya perbedaan dari golongan darah setiap manusia ialah antigennya. Karena hal tersebut menurun secara genetis.

Dari penjabaran konsep golongan darah di atas, mari kita katakan bersama-sama bahwa kepribadian tidaklah ditentukan oleh golongan darah. Jika pun kepribadian ditentukan oleh tipe golongan darah, itu adalah sebuah mitos. Seperti yang telah dipaparkan di atas, manusia mempunyai antigen yang mendukung sistem imun dalam tubuhnya bukan menentukan karakteristik kepribadiannya. Hal ini juga didukung oleh penelitian di Australia yang membuktikan bahwa hubungan antara golongan darah dan kepribadian adalah bertentangan (Rogers & Glendon, 2003). Penelitian ini juga menyatakan bahwa kepribadian seseorang dengan golongan darahnya tidak punya kaitan yang pasti atau valid.

Kita sebagai bangsa yang cerdas tidak hanya harus mengetahui, tapi juga harus memahami bahwa kepribadian individu sifatnya adalah dinamis, yaitu berubah-ubah. Jadi misalkan dikaitkan dengan golongan darah, bisa kita ambil contoh ketika ada pernyataan “Golongan darah B adalah tipe orang yang tidak suka diatur.” Pada kenyataannya, banyak juga orang bergolongan darah B menerima dengan senang hati jika diatur, dalam arti mematuhi segala peraturan yang berlaku di lingkunan sekitarnya. Atau mungkin “Golongan darah O merupakan seseorang yang dingin di luar, namun punya kehangatan luar biasa jika sudah mengenalnya.” Bisa saja individu yang bergolongan darah O merasa dirinya tergolong seseorang yang ramai, tidak sesuai dengan apa yang disebutkan seperti pernyataan di atas. Atau mungkin, bisa saja yang bergolongan darah B merasa seperti pernyataan golongan darah O dan sebaliknya.

Mungkin kita bertanya-tanya sebenarnya dari mana asal-usul mitos golongan darah ini berkembang. Dalam suatu jurnal disebutkan bahwa ramalan tentang golongan darah ini berasal dari masyarakat Jepang sejak ratusan tahun yang lalu. Pada masa itu, seseorang bernama Hori Ichiro juga menyebutkan bahwa ramalan ini bersifat takhayul (Permatasari, 2012). Dalam penelitian Jepang ini juga ditemukan kurangnya bukti-bukti ilmiah dalam penggolongan kepribadian dengan golongan darah. Karena kurangnya bukti-bukti ilmiah tersebut, maka banyak ahli yang meragukan keabsahan hubungan antara kepribadian dan golongan darah.

Menjadi seseorang yang berpikiran luas itu tidak mudah. Bagi sebagian orang awam, mungkin wajar ketika mempercayai kepribadian menurut golongan darah. Namun sangat disayangkan apabila kepercayaan ini terus berkembang menjadi konsep yang tidak berdasar. Karena apabila semakin banyak orang yang mempercayai hal ini, tentu juga akan membawa dampak yang tidak baik. Seperti contoh seseorang bergolongan darah A, sebut saja Mawar. Mawar sedang membaca posting yang muncul di akun sosial Line tentang karakteristik kepribadian seseorang berdasarkan golongan darahnya. “Golongan darah A: paling rajin bangun pagi. Golongan darah B: bangun pagi sih, tapi pasti tidur lagi. Golongan darah O: bangun pagi sering, tapi nggak pernah bisa konsisten. Golongan darah AB: kalau bangun pagi aja susah, gimana mau bangun keluarga?”. Setelah membaca postingan tersebut, Mawar teringat akan temannya yang bergolongan darah AB. Dan saat ia bertemu dengan temannya, ia justru mengolok-olok dan menyebarkan suatu fakta yang belum tentu benar, bahwa seseorang bergolongan darah AB adalah orang tersulit untuk bangun pagi.

Bisa disimpulkan bahwa kepercayaan ini akan membawa dampak berupa diskriminasi terhadap individu bergolongan darah yang lain. Hal ini tentu akan menyebabkan tekanan psikologis pada korban yang diolok-olok atas sesuatu yang tidak berdasar. Ketika individu sudah berada dalam tekanan, baik itu dengan intensitas tekanan yang rendah hingga tinggi, tentu akan dapat menimbulkan faktor risiko yang lain. Misalkan ia akan sulit mengembangkan self-confidence, motivasi belajarnya menurun, semakin menutup diri atau mungkin semakin antipati terhadap lingkungan sosial di sekitarnya.

Aku dan kamu, kita semua sudah mengetahui bagaimana modernisasi menyuguhkan segala informasi di hadapan kita. Entah itu berdasar atau tidak, entah itu punya bukti atau tidak dan entah itu memang layak kita percaya atau tidak. Tidak terkecuali hubungan golongan darah dengan kepribadian. Awalnya banyak dari kita percaya akan hal yang tak berdasar. Namun, kita lupa bahwa cinta saja membutuhkan dasar yang kuat, kita lupa bahwa cinta juga butuh pembuktian bahkan kita juga lupa bahwa sebelum kita mencintai, tentu kita mempercayai terlebih dahulu. Lalu, akankah kita bisa mencintai sebuah mitos ketika ia tak punya dasar, bukti dan usaha lain untuk membuat kita percaya? Karakteristik menurut golongan darah tidak lain dan tidak bukan ialah mitos belaka. Percuma saja kita mempercayainya, jika pada akhirnya nanti ia akan berangsur meninggalkan kita setelah popularitasnya mereda.



Referensi 
Aryulina, D., Muslim C., Manaf S., & Winarni E. W. (2004). Biologi SMA dan MA untuk Kelas XII. Penerbit Erlangga: PT Gelora Aksara Pratama.
Roger M., & Glendon A. I. (2003). Blood Type and Personality. Personality and Individual Differences, 34, 1099-1112. doi:10.1016/S0191-8869(02)00101-0.
Permatasari Y., (2012). Fenomena Ramalan Golongan Darah di Jepang Ditinjau dari Konsep Kepercayaan Rakyat. Japanology, 1(1), 66-77.