Thursday, January 21, 2016

Antara Aku, Kamu, dan Golongan Darah


Ketika ramalan berbicara, banyak orang yang percaya. Ketika ramalan telah menyentuh kehidupan seseorang, banyak orang pula yang yakin bahwa apa yang dikatakan ramalan adalah benar adanya. Entah dari astrologi dalam hal perbintangan atau zodiak, kartu tarot, hingga golongan darah. Semuanya bisa memprediksi banyak hal. Kepribadian, what will happen in the future, bahkan beberapa tahun yang lalu ada segelintir peramal yang memberikan statement bahwa tak lama lagi kiamat akan datang. Ramalan tidak terjadi pada era modern ini saja, bahkan pernah santer terdengar di telinga kita bahwa Suku Maya, telah meramalkan kiamat akan terjadi pada tanggal 21 Desember 2012, sejak berabad-abad silam. Namun benarkah segala macam ramalan itu? Mungkin jika sebagian orang meyakini benar, maka akan terjadi benar secara kebetulan dalam hidupnya. Namun bisa juga terjadi kesalahan seperti yang tampak pada ramalan Suku Maya.

Aku dan kamu, kita, sering melihat sesuatu yang dulunya tabu, menjadi hal yang biasa sekarang. Dahulu, siapa yang peduli dengan ramalan golongan darah? Dahulu siapa yang tak mengenal golongan darah hanya sebagai sarana untuk membantu proses tranfusi darah? Dan siapa yang mengira bahwa golongan darah bisa menjadi sesuatu yang sering ditemukan sebagai ramalan pada media sosial di zaman modern ini? Mari kita perhatikan. Pagi, ketika kita membuka salah satu media sosial yang kita punya seperti Line, Path atau Instagram tak jarang kita melihat seseorang mendonasikan jempol like nya pada suatu post tentang ramalan golongan darah. Atau mungkin, ada admin dari suatu akun instagram/path yang mengunggah suatu foto berupa quotes golongan darah yang belum tentu benar adanya hanya untuk menambah satu angka lebih banyak dalam jumlah kolom “post”. Siang, ketika tengah meneduhkan diri dari sengatan matahari dan beristirahat sejenak sambil iseng membuka sosial media, ada lagi beberapa orang yang memberikan tanda kesukaan pada suatu post ramalan golongan darah yang menunjukkan bagaimana kepribadian seseorang. Sore, saat matahari sudah di ufuk barat dan sembari menonton televisi kita membuka lagi media sosial dan hal tersebut kembali terjadi. Dan saat malam ketika kita hendak menghantarkan tubuh ke alam mimpi, sebelum tidur kita kembali membuka media sosial dan yang kita lihat tidak jauh berbeda dari saat pagi, siang dan sore. Bosan sejujurnya melihat post yang disukai dan dibagikan hanya seputar ramalan  itu-itu saja. Bahkan beberapa orang mungkin juga merasa kesal ketika mengetahui sudah ada yang namanya “Komik Golongan Darah” beredar di muka bumi Indonesia. Beberapa dari kita mungkin sangat menyayangkan akan keberadaan fakta yang belum tentu benar itu. Beberapa dari kita mungkin ada yang percaya dan merespon fakta yang belum tentu benar itu kemudian merepresentasikan kepercayaan tersebut dengan mendonasikan satu like untuk post tersebut. Dan banyak lagi dari kita yang mungkin biasa saja akan ada atau tidaknya hal-hal tersebut di sekeliling.

Fenomena yang cukup membuat konsep kepercayaan baru dalam pemikiran banyak orang ini tampaknya membuat khalayak lupa akan apa yang benar-benar menjadi konsep sesungguhnya akan golongan darah. Sekarang, mari biarkan otak kita mengingat-ingat. Sebenarnya, 4 tipe golongan darah yang dulu kita ketahui itu sebagai apa? Apa sebagai penentu bagaimana kepribadian seseorang? Bandingkan dengan apa yang terjadi dalam beberapa kurun waktu terakhir. Bagaimana bisa golongan darah dihubungkan dengan karakteristik kepribadian? Adakah penelitian ilmiah yang mendasarinya?

Dari kacamata filsafat, mungkin akan timbul berbagai pertanyaan yang butuh jawaban akan segala fenomena yang terjadi akhir-akhir ini. Karena psikologi mempunyai hubungan yang sangat erat dengan filsafat maka, ilmu psikologi juga harus mempunyai kontribusi dalam pencarian kebenaran pertanyaan filsafat. Setidaknya ketika fenomena ini ada hubungannya dengan psikologi, kita bisa berpikir, mengapa masih banyak mahasiswa atau mahasiswi, yang sedang mempelajari ilmu psikologi, juga turut serta menyumbangkan like pada sesuatu yang belum tentu menjadi fakta. Sungguh aneh, tapi memang nyata.

Sebelum kita berjalan terlalu jauh, mari beristirahat sebentar dan mereview kembali tentang konsep golongan darah. Aryulina, Muslim, Manaf dan Winarni (2004) menjelaskan penggolongan golongan darah sistem ABO awal mulanya didasarkan dari dua macam antigen. Yaitu antigen A dan antigen B, serta dua macam antibodi yaitu anti-A dan anti-B. Kemudian Aryulina dkk. (2004) menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan antigen ialah glikoprotein yang terkandung pada sel darah merah. Antigen inilah yang menunjukkan perbedaan golongan darah apabila kita akan melakukan donor darah pada orang lain. Jadi apabila orang lain yang bergolongan darah B sedangkan kita bergolongan darah A, maka tidak mungkin individu yang bergolongan darah B melakukan tranfusi darah pada individu bergolongan darah A, dan sebaliknya. Antigen ini juga berkaitan dengan sistem kekebalan tubuh manusia, sehingga jika diturunkan ke generasi selanjutnya, maka individu juga kurang lebih menerima kekebalan tubuh yang sama. Selanjutnya selain antigen Aryulina dkk. juga menjelaskan yang dimaksud dengan antibodi ialah molekul protein yang dihasilkan oleh limfosit B yang berfungsi untuk merespon adanya antigen dalam tubuh. Singkat dan mudahnya, yang menentukan adanya perbedaan dari golongan darah setiap manusia ialah antigennya. Karena hal tersebut menurun secara genetis.

Dari penjabaran konsep golongan darah di atas, mari kita katakan bersama-sama bahwa kepribadian tidaklah ditentukan oleh golongan darah. Jika pun kepribadian ditentukan oleh tipe golongan darah, itu adalah sebuah mitos. Seperti yang telah dipaparkan di atas, manusia mempunyai antigen yang mendukung sistem imun dalam tubuhnya bukan menentukan karakteristik kepribadiannya. Hal ini juga didukung oleh penelitian di Australia yang membuktikan bahwa hubungan antara golongan darah dan kepribadian adalah bertentangan (Rogers & Glendon, 2003). Penelitian ini juga menyatakan bahwa kepribadian seseorang dengan golongan darahnya tidak punya kaitan yang pasti atau valid.

Kita sebagai bangsa yang cerdas tidak hanya harus mengetahui, tapi juga harus memahami bahwa kepribadian individu sifatnya adalah dinamis, yaitu berubah-ubah. Jadi misalkan dikaitkan dengan golongan darah, bisa kita ambil contoh ketika ada pernyataan “Golongan darah B adalah tipe orang yang tidak suka diatur.” Pada kenyataannya, banyak juga orang bergolongan darah B menerima dengan senang hati jika diatur, dalam arti mematuhi segala peraturan yang berlaku di lingkunan sekitarnya. Atau mungkin “Golongan darah O merupakan seseorang yang dingin di luar, namun punya kehangatan luar biasa jika sudah mengenalnya.” Bisa saja individu yang bergolongan darah O merasa dirinya tergolong seseorang yang ramai, tidak sesuai dengan apa yang disebutkan seperti pernyataan di atas. Atau mungkin, bisa saja yang bergolongan darah B merasa seperti pernyataan golongan darah O dan sebaliknya.

Mungkin kita bertanya-tanya sebenarnya dari mana asal-usul mitos golongan darah ini berkembang. Dalam suatu jurnal disebutkan bahwa ramalan tentang golongan darah ini berasal dari masyarakat Jepang sejak ratusan tahun yang lalu. Pada masa itu, seseorang bernama Hori Ichiro juga menyebutkan bahwa ramalan ini bersifat takhayul (Permatasari, 2012). Dalam penelitian Jepang ini juga ditemukan kurangnya bukti-bukti ilmiah dalam penggolongan kepribadian dengan golongan darah. Karena kurangnya bukti-bukti ilmiah tersebut, maka banyak ahli yang meragukan keabsahan hubungan antara kepribadian dan golongan darah.

Menjadi seseorang yang berpikiran luas itu tidak mudah. Bagi sebagian orang awam, mungkin wajar ketika mempercayai kepribadian menurut golongan darah. Namun sangat disayangkan apabila kepercayaan ini terus berkembang menjadi konsep yang tidak berdasar. Karena apabila semakin banyak orang yang mempercayai hal ini, tentu juga akan membawa dampak yang tidak baik. Seperti contoh seseorang bergolongan darah A, sebut saja Mawar. Mawar sedang membaca posting yang muncul di akun sosial Line tentang karakteristik kepribadian seseorang berdasarkan golongan darahnya. “Golongan darah A: paling rajin bangun pagi. Golongan darah B: bangun pagi sih, tapi pasti tidur lagi. Golongan darah O: bangun pagi sering, tapi nggak pernah bisa konsisten. Golongan darah AB: kalau bangun pagi aja susah, gimana mau bangun keluarga?”. Setelah membaca postingan tersebut, Mawar teringat akan temannya yang bergolongan darah AB. Dan saat ia bertemu dengan temannya, ia justru mengolok-olok dan menyebarkan suatu fakta yang belum tentu benar, bahwa seseorang bergolongan darah AB adalah orang tersulit untuk bangun pagi.

Bisa disimpulkan bahwa kepercayaan ini akan membawa dampak berupa diskriminasi terhadap individu bergolongan darah yang lain. Hal ini tentu akan menyebabkan tekanan psikologis pada korban yang diolok-olok atas sesuatu yang tidak berdasar. Ketika individu sudah berada dalam tekanan, baik itu dengan intensitas tekanan yang rendah hingga tinggi, tentu akan dapat menimbulkan faktor risiko yang lain. Misalkan ia akan sulit mengembangkan self-confidence, motivasi belajarnya menurun, semakin menutup diri atau mungkin semakin antipati terhadap lingkungan sosial di sekitarnya.

Aku dan kamu, kita semua sudah mengetahui bagaimana modernisasi menyuguhkan segala informasi di hadapan kita. Entah itu berdasar atau tidak, entah itu punya bukti atau tidak dan entah itu memang layak kita percaya atau tidak. Tidak terkecuali hubungan golongan darah dengan kepribadian. Awalnya banyak dari kita percaya akan hal yang tak berdasar. Namun, kita lupa bahwa cinta saja membutuhkan dasar yang kuat, kita lupa bahwa cinta juga butuh pembuktian bahkan kita juga lupa bahwa sebelum kita mencintai, tentu kita mempercayai terlebih dahulu. Lalu, akankah kita bisa mencintai sebuah mitos ketika ia tak punya dasar, bukti dan usaha lain untuk membuat kita percaya? Karakteristik menurut golongan darah tidak lain dan tidak bukan ialah mitos belaka. Percuma saja kita mempercayainya, jika pada akhirnya nanti ia akan berangsur meninggalkan kita setelah popularitasnya mereda.



Referensi 
Aryulina, D., Muslim C., Manaf S., & Winarni E. W. (2004). Biologi SMA dan MA untuk Kelas XII. Penerbit Erlangga: PT Gelora Aksara Pratama.
Roger M., & Glendon A. I. (2003). Blood Type and Personality. Personality and Individual Differences, 34, 1099-1112. doi:10.1016/S0191-8869(02)00101-0.
Permatasari Y., (2012). Fenomena Ramalan Golongan Darah di Jepang Ditinjau dari Konsep Kepercayaan Rakyat. Japanology, 1(1), 66-77.

No comments:

Post a Comment