Thursday, January 21, 2016

Bertemu Lagi

Pagi itu, aku buru-buru mengemasi barangku. Tak banyak, namun cukup membuatku repot untuk bergerak kesana kemari. Satu tas ransel berwarna pink dan satu tas jinjing yang berwarna kuning mencolok mata siap ku bawa pulang menuju kampung halaman. Bapak ojek yang ku pesan via online pun sudah siap mengantarkanku menuju ke Terminal Purabaya. Benar-benar masih pagi saat itu. Bahkan jalan-jalan utama di kota ini masih bisa bernafas dengan bebas. Tak terkecuali aku. Aku berkali-kali mengatur nafas mengikuti debar dalam dadaku. Terkadang sesak. Terkadang tiba-tiba longgar. Terkadang perutku terasa mulas mendadak. Terkadang aku senyum-senyum tidak jelas. Tak sabar rasanya bertemu denganmu, sosok yang berpuluh-puluh bulan ku tunggu.

Setelah menempuh tiga puluh menit perjalanan darat dengan menggunakan motor si bapak ojek, aku tiba di terminal bus dengan selamat. Buru-buru aku membayar ongkos, kemudian membenarkan posisi tasku sambil melangkahkan kaki menuju ruang tunggu. Sembari berjalan—berlari kecil—menuju ruang tunggu, jantungku mendadak berubah menjadi genderang perang. Degupannya semakin menjadi-jadi. Bahkan suara detaknya serasa memantul hingga gendang telingaku. Aku semakin bingung mengatur nafas. Aku semakin sering tersenyum tak jelas. Kakiku semakin cepat melangkah, hingga tak kurang dari lima menit kemudian aku sudah bisa berdiri di tengah lautan penumpang yang sedang duduk menunggu.

Enam puluh detik aku bertahan menatap seisi ruang tunggu, mataku tak dapat menangkap sosoknya. Sekitar dua hingga empat kali memutar badan, tetap saja batang hidungnya tak nampak. Mungkin ia masih di jalan, atau mungkin aku yang terlalu pagi sampai di tempat ini. Sebelum merasa lelah menunggunya sambil berdiri, aku melihat-lihat sekitar kursi ruang tunggu, dan ku dapati satu yang kosong di barisan paling depan. Aku duduk tanpa bersandar, kemudian dengan segera ku keluarkan ponselku. Bimbang antara harus menghubunginya lewat telepon atau hanya mengirimkannya sms. Aku sudah menemukan namanya dalam kontak ponselku, namun ku urungkan niatku untuk menelepon. Pasti aku tak akan bisa mengeluarkan suara ketika ia menjawab teleponku. Akhirnya ku putuskan untuk mengirimkannya sms. Ditengah aku mengetik “Kamu di...” ada seseorang menepuk pundakku. “Nggak jadi telpon?” tanya seseorang tersebut. Seketika aku menengok terkejut. Mataku terbelalak, dan bibirku menganga membuat kedua telapak tanganku reflek untuk menutupnya seketika itu juga. Hingga rasanya aku tidak peduli ponselku terjun bebas. Hingga aku tak peduli bagaimana konyolnya ekspresi wajahku pada saat itu. Aku terkejut, bahagia—tak terkira.

Ia tersenyum dan membuka kedua lengannya lebar sekali di hadapanku. Aku menyambutnya. Pelukannya tetap hangat. Pelukannya tetap sama seperti dulu—beberapa tahun yang lalu. Tak ku rasakan ponselku yang entah terjun di sisi mananya diriku. Tak ku rasakan tiba-tiba dari pelupuk mataku ada setetes air yang terasa hangat mengaliri pipiku. Tuhan, sebahagia inikah aku? Aku melepaskan pelukannya. Ia menatapku, sedetik kemudian berlutut. “Kamu ngapain?” tanyaku. Ia hanya menjawab “Keburu diambil orang.” Jawabnya sambil memberikan kembali ponselku. Ah, iya. Ia memang jagonya membuatku lupa akan sekelilingku, lupa akan berbagai beban yang menggantung di pundakku—lupa akan dia yang sering menyakitiku.

“Yuk.” Ajakku. “Buru-buru banget?” tanyanya justru membuatku tak mengerti. Aku hanya menatapnya penuh pertanyaan, memang mau ngapain lagi? Dia tidak berkata apa-apa lagi, kemudian duduk di kursi yang kosong. Sedetik kemudian, ia menepuk-nepuk kursi kosong di sebelahnya, mengisyaratkan duduk sini dulu. Ia membuatku membeku dalam beberapa detik, namun akhirnya aku menurut saja. Tiba-tiba ia menatapku. Menatap dari ujung kepalaku hingga ujung kakiku. Aku meliriknya tanpa bicara. “Tambah gendut, item.” Walaupun nyatanya demikian, aku tetap saja mendengus. “Tapi tambah manis.” Susulnya. Otomatis, membuatku sedikit tersenyum. “Nah, makin manis, tho.” Ah ini dia. Memang dasar dialah yang paling bisa membuatku tersenyum selebar-lebarnya.

Cahaya matahari semakin terang masuk ke dalam ruang tunggu melalui kaca-kaca di sekitarnya. Sama seperti dia, yang semakin getol menceritakan apa saja yang tak ku ketahui selama ia menempuh pendidikan di kota orang. Lima tahun terpisahkan, tentu tak bisa hanya beberapa cerita yang ia bagikan. Aku mendengarkannya dengan saksama. Aku memperhatikan gerak bibirnya, suaranya, kebiasaannya batuk-batuk kecil. Ah, suara batuknya pun masih ku ingat. Dulu dan kini, semua tak ada bedanya. Aku melihat lensa matanya yang coklat, suka sekali dengan karya Tuhan yang satu ini. Aku dibuatnya jatuh cinta puluhan kali hanya melalui tatapannya. Tak terasa, aku menatapnya terlalu dalam. Tak pernah ku menatap mata seseorang selama ini, jika bukan matanya. Sambil mendengarkan, aku tampak kesulitan menyembunyikan senyum bahagiaku. Hingga ia sadar, aku memperhatikannya—terlalu lekat—terus menerus.

“Ah kamu makin pendiem yo sekarang.” Katanya tiba-tiba. Aku terkejut mendengarnya. “Kok bisa?” susulku bertanya. “Nah mana, kamu ndak dengerin aku, malah ngeliatin aku terus.” Hei, Mas. Aku mendengarkanmu, dan akan selalu mendengarkanmu berapa kali pun kamu mengulang ceritamu. Dasar tidak peka. “Kapan sih aku ndak dengerin kamu?” tanyaku. Ini membuatnya tersenyum, lantas kemudian mempersilahkan aku untuk bercerita. Apapun yang ingin aku ceritakan—terutama yang berhubungan dengan kisah cintaku yang sekarang.

Aku mulai bercerita. Kadang tertawa, kadang kesal. Ia tampak mendengarkan, entah dimasukkan dalam otaknya, atau hanya sekedar lewat, aku tak mengetahui secara pasti. Lalu suatu waktu aku memejamkan mataku. Seketika ada rasa nyeri di dadaku. “Kamu kenapa? Sakit?” seketika aku mengubah stigmaku akan dia yang tidak peka. Menggantinya dengan kamu kok peka? Aku membuka mataku perlahan, tersenyum padanya dan hanya menggelengkan kepala. “Ah mbujuk. Kayak nggak tau kamu gimana aja.” Kata-katanya inilah yang mampu membuatku tertawa, namun sekejap kemudian mengalir juga benda cair itu dari mataku. Dasar cengeng. Dia diam. Aku masih sangat hafal dia memang tak akan menggangguku—menepuk-nepuk lenganku—saat menangis karena hal itu akan membuatku semakin parah. Ia menungguku dengan—setia—tenang sampai aku berhenti menangis. Sesaat aku menghentikan tangisanku, aku menyeka sisa-sisa basahnya mataku dengan punggung tanganku. Kemudian kulihat sekelilingku, walaupun matahari semakin menyengat, semakin banyak orang datang. Kenapa harus di tempat seperti ini, pikirku. “Udah lebih baik?” tanyanya. Aku mengangguk. “Ayo cerita.” Katanya.

Mulai ku ceritakan kisah yang terbilang panjang itu. Dari hal A hingga Z seakan tidak ada yang terlewatkan. Jemariku bermain sendiri seperti orang sedang kebingungan. Ekspresiku menunjukkan ketidakmenentuan yang berkecamuk pada perasaanku. Ia tak tinggal diam, kemudian menggenggam tangan kananku, memberikan kekuatan untukku. Kali ini, ia berhasil menghapus secara total stigma tentangnya yang tidak peka. Ia seakan menjadi seseorang yang paling tahu bahwa aku butuh kekuatan. Ya, hatiku tak bisa berdiri sekuat tubuhku. Hatiku tak bisa menanggung beban sekuat pundakku. Inilah yang menjadikan alasan aku membutuhkannya, walau aku tak mengetahui ia membutuhkan seseorang sepertiku atau tidak.

Kita saling bercerita seperti tidak ada sesuatu hal yang terjadi dalam diri kita masing-masing. Kamu menguatkan aku seakan kamu tak punya orang lain untuk dikuatkan. Aku menatapmu lekat seakan aku juga tak punya orang lain yang ku tatap dalam-dalam. Kenapa kamu datang dan membuatku—jatuh cinta—terkagum untuk kesekian kalinya? Tidakkah cukup dulu saja, lalu kemudian saling menjauh dan memilih jalan masing-masing? Apa kamu masih menyimpan hati untukku? Apa tidak berdosa kiranya aku kembali masuk dalam kehidupanmu? Inikah yang dinamakan dilema? Antara aku yang—sejujurnya—membutuhkanmu, namun ada orang lain yang lebih membutuhkan genggamanmu.

Paling tidak, aku senang Tuhan punya rencana seindah ini untuk mempertemukan kita. Aku senang, Tuhan masih sangat memperhatikan apa yang aku butuhkan; kamu.

Kamu masih tetap sama,
Selalu menjadi pendengar setia.
Selalu menjadi pemasok kehangatan.
Terimakasih, untuk kamu yang tak pernah kapok menguatkan.

No comments:

Post a Comment