Wednesday, January 27, 2016

Pintu Kemana Saja

Andaikan kantong ajaib Doraemon itu nyata, mana yang akan kamu pilih? Mesin waktu atau pintu kemana saja?

Ponselku tiba-tiba berdering sesaat setelah aku pulang dari minimarket tak jauh dari rumahku. Perwira. Mataku seperti akan melompat keluar saat membaca nama yang muncul di layar. Dia meneleponku. Dia menghubungiku, di tengah masa pendidikannya. Ku cabut dengan segera kabel charger dari ponselku dan ku angkat teleponnya. Ku dengar salamnya yang muncul dari suaranya yang khas; hangat. “Waalaikumsalam.” Jawabku. Sejenak aku tak berkata apa-apa. Aku masih terkejut. Pasalnya, ini bukanlah hari dimana ia keluar dari asrama. Pernah dengar cerita para taruna yang pada saat pendidikan tidak diperkenankan membawa alat komunikasi apapun? Ya, dia salah satu tarunanya. Sehari-harinya ia memang membawa benda kecil—ponsel—itu untuk menghubungiku. Bersyukur rasanya ia selalu sukses memberikan kabar padaku walau hanya melalui sepucuk sms. Namun tidak dengan hari ini, ia memberiku kabar melalui gelombang suaranya. Sangat menakjubkan.

Eishh...kamu ndak usah kuatir, aman kok.” Ia mulai menunjukkan kepekaannya. Aku tertawa, lepas sekali. Ia juga membalas tawaku renyah. “Kenapa telpon?” tanyaku. “Lah emang salah yo?” dasar sensitif. Aku justru sangat bahagia akan datangnya momen yang sangat langka ini. Bagaimana tidak? Berhari-hari aku hanya membayangkannya dari sms yang dikirimkannya untukku. Itupun tak setiap hari. Itupun tak setiap menit bisa ku terima. Ini yang dia dan aku lalui setiap harinya. Dia menunggu hingga situasi aman, kemudian bisa mengirim pesan rindu untukku. Begitupun aku, menunggu hingga menerima kabar darinya, kemudian membalas pesan rindu tersebut dengan “Cepet pulang, Bang. Aku juga kangen.” Entah sudah berapa ratus kali kami melakukan hal yang sama, namun tak bisa sekalipun bosan.

“Dek, kalau kamu disuruh milih, kamu milih mesin waktu apa pintu kemana aja?” tanyanya tiba-tiba, beberapa menit setelah aku mulai mengobrol dengannya. “Emangnya kalau aku milih salah satu, Abang mau bawain buat aku?” tanyaku menggodanya. Dia gemas, dan aku pun terbiasa membuatnya tertawa dalam gemasnya. “Udah ndang dipilih.” Katanya. “Pintu kemana aja.” Jawabku. Untuk beberapa detik, aku tidak mendengar suaranya menanggapi jawabanku. “Bang?” ku panggil, namun tetap sunyi. Tak ada jawaban sama sekali dari seberang telepon. Sesaat kemudian, teleponnya mati. Aku jelas mendengus, baru beberapa menit, pikirku. Mungkin situasi disana mulai tidak aman. Aku mencoba menjernihkan otakku sebelum banyak pikiran aneh yang menjamur di dalamnya. Tak lama setelah telepon ditutup, aku mengirimkannya sebuah sms. “Bang, mulai gak aman ya? Jaga kesehatan ya, Bang.” Hanya itu, dan tak lupa mengingatkan akan kesehatannya entah untuk keberapa kalinya. Beberapa menit menunggu, tidak ada jawaban. Ya, mungkin memang sedang tidak aman.

Ponselku yang telah kembali diisi dayanya berdering untuk kedua kalinya. Perwira. Nama itu muncul lagi. Cepat-cepat kabel charge yang masih menancap ku cabut paksa, dan ku angkat teleponnya. “Abang! Tadi kemana? Baik-baik aja kan?” tanyaku langsung menodongnya dengan pertanyaan-pertanyaan kekhawatiran. “Apa sih, aku tadi tiba-tiba aja kebelet, Dek. Situasi yang ndak aman banget kan? Hehehe.” Jelasnya, dengan nada tanpa bersalah diselingi dengan tawanya yang sangat jahil. Aku bisa membayangkan ekspresinya. Aku pura-pura saja kesal dan tidak menanggapi penjelasannya. “Hei...kamu sebel kan? Hayo ngaku.” Kali ini gantian dia yang menggodaku. Aku tetap tak memberikan jawaban. Tak lama setelah itu, ku dengar suara ketukan pintu. Karena saat itu ibuku masih menunaikan ibadah sholat Isya, akulah yang membukakan pintu. “Bang, bentar ada tamu. Aku bukain pintu dulu ya.” Langsung ku letakkan saja ponselku di sofa. Tidak ku matikan atau ku putuskan sambungan teleponnya.

Ku buka pintunya, dan ku temukan sosok yang tak ku sangka sebelumnya. Ia menurunkan tangannya yang menggenggam ponsel dari daun telinganya, dan tersenyum lebar di hadapanku. “Bang Wira.” Panggilku. Dia tetap tersenyum tak bergerak, bahkan menjawab panggilanku pun tidak. Tak lama telapak tanganku meraih kedua pipinya seakan tak percaya ia ada di hadapanku. Ku sentuh dengan lembut permukaan pipinya, meyakinkan diriku jika ia nyata. Ia pulang. Sekali lagi ku tatap lekat matanya, memastikan bahwa lensa matanya coklat. Memang benar, ini dia. “Naik apa, Bang?” memang jika sedang terkejut, aku sering menanyakan hal bodoh. “Pintu kemana saja.” Jawabnya, sambil tak lupa tersenyum.

Memang dasar keterlaluan. Suka sekali membuatku terharu dengan kejutan-kejutannya. Hobi sekali membuatku meneteskan air mata—bahagia—berkali-kali. Selain aku, ia juga membuat ibuku terkejut. Senang mengetahui ia pulang, dan memberikan kejutan untuk putri sulungnya ini. Malam itu seakan tak menemui ujung. Pintu kemana saja membawanya kesini. Tepat ke hadapanku. Senang rasanya, pintu kemana saja yang ia lewati tak membawanya pada tempat yang salah. Bukan begitu?

Kini ku temukan jawabannya.
Jika hal itu bisa mempertemukanku denganmu kapan saja yang ku mau,
Maka pintu kemana saja pilihanku.
Terimkasih sudah datang, Bang Wira.

No comments:

Post a Comment