Thursday, February 25, 2016

Waktumu Adalah Kadoku

Jika kamu tak bisa membuatnya bahagia,
Setidaknya jangan melukai hatinya.

***

“Halo, Assalamualaikum.” Samar-samar ku dengar suaranya. Masih gelap, dan selimut yang ku kenakan juga masih membungkus tubuhku.

“Hei, Waalaikumsalam.” Jawabku masih setengah sadar. Samar-samar ku tatap jam dinding yang menggantung pasrah di kamarku. Jam dua belas lebih lima belas menit.

“Selamat ulang tahun Sarahku!” Aku berusaha mendengarnya lebih jelas, membuka mataku lebih lebar dan menyadarkan diriku bahwa hari ini sudah tiba. Ya, ulang tahunku.

“Hehe, makasih ya.” Jawabku. Sudah sadar, walau tak sepenuhnya. Mataku masih ingin terlelap, namun otakku justru ngotot berkata nanti saja.

Seperti biasanya, ia menyebutkan satu per satu harapannya untukku. Dan aku pun tak jauh berbeda, mengamini berkali-kali akan setiap doa yang ia tujukan khusus untukku.

“Maaf ya aku belum bisa ada disana.” Ya, andai saja setelah kamu mengatakan ini, ada yang mengetuk pintu kamarku, dan ketika ku buka, kemudian aku menemukan ragamu di hadapanku. Andai saja. Namun kenyataannya tidak.

“Ah iya, nggak apa-apa kok.” Jawabku singkat tanpa menjelaskan pengandaianku.

“Yasudah, kamu tidur lagi, gih. Masih pagi buta kan disana.” Ya, tidak ada yang mengatakan sekarang ini sudah siang bolong.

“Aku kangen. Hari ini kamu jadi libur kan? Bisa sering-sering pegang hp kan?” tak ku hiraukan perintahnya untuk kembali tidur. Aku terlalu rindu padanya.

“Iya, sayang.” Jawabnya seakan tak ingin berbelit-belit lagi dan bisa segera menutup sambungan telepon yang ku terima dini hari ini.

“Oke deh kalo gitu, sampe ketemu nanti, Dim.” Ucapku sebelum ia meminta izin untuk memutus sambungan telepon.

Tak lebih dari tiga menit, suaranya sudah tak ku dengar lagi. Aku menuruti perintahnya untuk kembali tidur, dan mulai merangkai mimpi indah. Hari ini ia akan menemaniku. Hari ini akan menjadi hari yang istimewa untukku.

***

Pagi yang amat biasa saja. Tidak ada ucapan lagi, bahkan dari orangtuaku sendiri. Memeriksa ponselku, sama seperti memeriksa rumah tak berpenghuni, kosong. Tak ada satu pun pemberitahuan. Aku mengedarkan pandanganku ke seluruh sudut rumah, dan berpikir sejenak. Bahkan Mama dan Papa tak ingat hari ini tepat sembilan belas tahun anak sulungnya lahir ke dunia. Adik kembarku? Apa lagi. Ilham sudah sibuk mengelap mobil Papa yang berdebu. Irham sudah duluan pergi ke car free day dengan Cindy, kekasihnya. Iri juga melihat adikku sendiri sepagi itu sudah bertemu dengan kekasihnya. Sedangkan aku sendiri bahkan masih belum merencanakan hal yang berguna di hari ulang tahunku. Ah, semoga Dimas bisa menemaniku. Semoga Dimas tidak cuek. Semoga Dimas memang benar-benar menyisihkan waktunya sehari saja, untuk menemaniku, menjadi kado terindah untukku.

Dimas. Seorang laki-laki berkewarganegaraan Indonesia yang sejak setahun lalu tinggal di Belanda demi melanjutkan pendidikan. Jarak memisahkan kami kurang lebih sekitar empat belas ribu empat ratus sembilan puluh kilometer. Jika dini hari tadi ia meneleponku jam dua belas lebih lima belas menit, berarti di Belanda saat itu sedang pukul tujuh lebih lima belas malam. Tentu saja ia belum tidur. Kami dipertemukan di Jakarta, tepatnya di Dufan, saat liburan musim panasnya tahun dua ribu lima belas lalu. Ketidaksengajaan menyeret kami pada rasa nyaman satu sama lain.

***

Aku berjalan sendirian di tengah ramainya tempat ini. Menikmati liburan dalam kesendirian dengan hati yang amat gembira. Aku melihat sekeliling, dan banyak tersenyum kepada orang lain yang sama berliburnya denganku saat ini. Baru pertama kali ini Mama dan Papa memberiku lampu hijau untuk liburan mengunjungi suatu tempat wisata, bermain segala wahana yang ku inginkan, tanpa ditemani oleh mereka. Ya, kali ini aku benar-benar liburan sendiri. Tanpa Mama, Papa bahkan Ilham dan Irham. Dalam langkahku mengitari tempat ini, aku membayangkan wajah mereka berempat, seakan-akan aku menyampaikan ribuan terimakasih karena sudah membiarkanku mencari udara segar sendirian. Oh tidak. Apa itu? Apa yang melintas barusan di hadapanku? Sejenak ku terhenyak karena ada sesuatu yang berwarna, besar dan melintas di hadapanku. Jantungku berdegup kencang. Semakin kencang saat aku mencoba menengok ke arah kanan. Badut! Oh Tuhan! Monster ini kenapa ada disini? Aku panik, aku mulai merasakan ketukan nafasku yang tak karuan, kakiku yang mendadak mematung tak bisa ku gerakkan untuk menghindari monster ini, dan ku rasakan mulai ada butir-butir keringat yang keluar dari pori-pori kulit telapak tanganku. Pandanganku mulai tak tentu arah, aku merasa seperti akan pingsan.

Tidak, aku tidak boleh pingsan. Mama tidak ikut. Tidak ada Papa, Ilham, Irham. Oh tidak bagaimana ini? Tuhan tolong aku!

Aku merasakan ada yang menggenggam tanganku, menarikku perlahan pergi menjauh dari badut sialan itu. Sejenak aku tersadar bahwa sekarang aku diselamatkan dan berjalan dengan orang asing yang menggenggam telapak tanganku. Genggamannya cukup kuat. Pria tak ku kenal yang memiliki tubuh sekitar sepuluh sentimeter lebih tinggi dariku ini tampak sedikit cemas, namun ia berusaha menyembunyikannya.

“Maaf, anda siapa?” tanyaku setelah beberapa meter kami berjalan melewati tempat kejadian perkara.

Ia berhenti berjalan, kemudian menatapku.

“Oops, maaf. Tanganku basah.” Kataku sambil mengambil sapu tangan dari saku celana jeansku, kemudian mengelap tangannya yang ikut basah terkena keringat dari tanganku. Setelah tangannya kemudian tanganku yang gantian ku usap.

“Kamu kenapa tadi?” tanyanya.

Coulrophobia.” Jawabku.

“Eh?”

“Fobia badut.” Jawabku singkat.

“Terus kenapa masih mau main di tempat kayak gini?”

“Udah cita-cita.”

“Heh?”

“Iya, cita-cita main sendirian setelah belasan tahun selalu main sama Mama, Papa atau Ilham dan Irham.” Jelasku, seakan aku sudah mengenal orang ini dengan waktu yang lama.

Pria asing di hadapanku ini menghela nafasnya. “Aku Dimas.”

“Sarah. Nice to meet you. Makasih udah ditolongin.” Jawabku sambil menyodorkannya senyum termanis dan menawarkannya bersalaman sebagai tanda kami berkenalan.

Yeah, nice to meet you too. Don’t mention it.” Jawabnya membalas senyumku. Dan dalam tiga detik, ia sukses membuatku terpesona.

***

Sejak aku membuka mata pukul lima pagi tadi, yang ku terima hanya sebuah pesan melalu whatsapp darinya pukul tiga dini hari waktu Indonesia bagian barat. “I’m home, sweet heart.” Setelah aku membalasnya, tak ada balasan lagi darinya. Ya, jika ia menerima pesanku pagi tadi, pesan itu akan sampai pukul dua belas malam di Belanda, dan tentu ia masih terlelap pada saat itu.

Namun ini sudah siang bolong. Ku lihat jam kuno yang berdiri tegak di sudut ruang keluargaku. Tepat jam satu siang. Tentu di Belanda sudah jam delapan pagi, dong. Aku masih bisa menghitung dengan jelas mengingat perbedaan waktu Indonesia-Belanda adalah lima jam. Dan aku yakin Dimas tidak akan bisa bangun siang. Bagaimanapun lelahnya, sesakit apapun raganya, alarm di otaknya pasti akan membangunkannya tak lebih dari jam enam pagi.

Pesan yang ku kirim bertubi-tubi kepadanya tak kunjung memunculkan balasan darinya. Ada kecemasan yang mulai menjalar di hatiku. Ada pikiran-pikiran buruk yang melintas di otakku. Sakit? Sedang pergi dengan orang lain? Ada acara di kampus? Dan dugaan-dugaan lain yang sangat menggangguku. Dalam kecemasanku, tiba-tiba ponselku berdering. Ada panggilan via whatsapp. Tertera nama dan foto profilnya, Dimas.

“Halo, Assalamualaikum.” Sapanya.

“Iya, Waalaikumsalam.” Jawabku gembira. Seakan tak ingat aku sudah dirundung sebal yang cukup membuat  otakku mendidih beberapa jam terakhir.

“Eh bentar-bentar, aku lagi ngerjain temenku nih.” Ucapnya dari sana. Seakan-akan ia sangat bergembira disana. Aku merasakan kegembiraan itu.

“Oh, oke. Kenapa dikerjain?” tanyaku sedikit kecewa.

“Iya, Steven lagi ulang tahun sekarang.” Jawabnya seakan benar-benar lupa aku hari ini juga ulang tahun.

“Wah, sama dong ulang tahunnya kayak aku.” Kataku.

“Oh iya ya.” Bingo. Seakan dia benar-benar lupa kalau semalam ia mengucapkan selamat untukku. Repot-repot menyempatkan waktu untuk meneleponku di sela kesibukannya dan sekarang ia justru jadi orang yang pelupa. Nice.

“Lanjutin dulu aja deh. Aku tutup ya telponnya?” tanyaku. Nada suaraku sudah mulai menurun. Aku sudah tak tertarik berbicara apapun dengannya.

“Lah lah, bentar sayang. Kenapa? Kamu sebel ya pasti?”

Aku tidak menjawab, hanya nafasku saja semakin berat dan sepertinya desah nafasku terdengar hingga ke telinganya.

“Sayang? Hey..” ia lagi-lagi tak mendapatkan jawabanku.

“Sarah.” Panggilnya. Aku tahu, ketika ia sudah memanggil namaku, tentu ia serius kali ini.

“Ya, Dimas?” kini aku yang bergantian memanggil namanya.

“Tolong ngerti. Aku lagi sama temen-temenku sekarang. Aku lagi stress dan butuh hiburan disini. Aku pengen pulang ke Indonesia.” Jelasnya lembut.

“Tapi aku ulang tahun. Aku pengen kamu nemenin aku.” Jawabku. Tetap egois. Dan tetap berharap ia mengerti.

“Iya, aku tau. Tapi kan sekarang aku temenin nih, kita lewat chat kan juga bisa.”

“Aku pengen denger suara kamu. Aku kangen.” Suaraku mulai agak serak.

“Iya, nah ini sudah denger suara aku kan?”

Aku itu pengennya kita telponan lama kayak biasanya, Dimas!!!

Tenggorokanku serasa tercekat. “Yasudah, terserah.” Jawabku akhirnya pasrah.

“Nanti aku telpon lagi ya. Dah, Assalamualaikum.” Katanya kemudian memutuskan sambungan telepon.

Waalaikumsalam.

***

Sore berakhir sendu, malam berakhir pilu.

Dimas tak menepati janjinya. Ia benar-benar tak kunjung menghubungiku. Kali ini sama sekali. Tak ada pesan, apalagi telepon. Sebenarnya, seberapa stress? Seberapa bosan dia disana? Lalu mengapa tak pernah cerita? Apa dia bosan denganku? Dan kenapa harus sekarang? Di hari ulang tahunku?

Hal sepele ini membuatku sedih sesedih-sedihnya. Dan aku tak berani menceritakan padanya. Aku tak berani melakukan apapun termasuk menghubunginya. Aku tak mau dibilang egois. Bagiku, waktunya adalah kadoku. Setidaknya ia tak bisa hadir secara nyata, namun ia bisa hadir dengan suara bassnya yang khas. Menemaniku via telpon berlama-lama malam ini hingga tertidur. Mengatakan hal-hal indah sehingga aku bisa membayangkan dirinya ada di sampingku. Dan segala hal menyenangkan lainnya. Tapi nyatanya tidak. Semuanya tidak terjadi.

Satu pesan yang ku kirimkan sebelum tidur padanya, “Semoga kamu masih inget kalo hari ini ulangtahunku, setelah kamu semangat banget ngerayain ulangtahun temenmu, tapi enggak sama ulangtahunku. Makasih, Dimasku. Good night from Indonesia.” Kemudian aku terlelap dengan pipi yang masih sangat basah dan dada yang nyeri. Setidaknya, dalam tidurku aku masih ingin Dimas hadir memberikan sedikit senyuman hingga membuatku kembali terpesona dalam tiga detik, seperti saat pertama kali ia hadir dan membuatku terseret sangat jauh dalam kenyamanan.

***

Jika kamu tak bisa membuatku bahagia
Setidaknya kamu tidak melukai hatiku.