Tuesday, December 12, 2017

Hello Job Seekers

Hello, job seekers.
Baru ku sadari, perjuangan kalian sangatlah tertatih.



Tepat hari ini, rasanya salah satu resolusiku di tahun 2017 hampir musnah. Penyebabnya adalah aku masih belum diberikan kesempatan untuk mencicipi dunia kerja. Magang adalah salah satu targetku di tahun ini. Namun sayangnya, hingga detik ini, yang mana sudah masuk akhir Desember 2017, lamaran magangku belum juga ada yang diterima. Sudah ku jalani serangkaian tes yang ada. Namun nihil. Tuhan belum mengatakan "iya" untuk itu.

Ini merupakan yang kedua kalinya aku ditolak. Dulu, yang pertama, aku sudah mengetahui alasannya dan itu masuk akal bagiku. Namun kali ini, belum. Aku tahu itu bukan hak ku untuk tahu. Tapi baiknya, Tuhan tunjukkan sendiri apa penyebabnya. Sudah dua kali aku ditolak, itu berarti sudah kedua kalinya juga mimpiku belum bisa diwujudkan. Menurutku, normal jika aku masih menganggap bahwa segalanya tidak mungkin terjadi. Itu menurutku. Karena tentu, aku masih dalam tahap denial. Dan tiba-tiba.. Terpikirlah di benakku. Bagaimana nasib job seeker di luar sana yang mungkin bernasib lebih kurang beruntung daripada aku? Apakah sebegini susahnya berada di posisi mereka?

Banyak dari mereka yang justru bilang "welcome to the real world, baby.", kepada sesama teman mereka yang baru mengusaikan sidang kelulusannya. Bukan aku tak mengerti artinya, namun sejujurnya aku masih terkesan abu-abu akan maknanya. Ada apa dengan dunia yang sesungguhnya? Apakah dunia memang begitu keras seperti yang dibilang kebanyakan orang? Atau di dunia banyak peperangan yang tak kasat mata? Aku tidak tahu pasti, awalnya. Namun semakin kesini, justru aku semakin merasakan bagaimana makna dari kata demi kata tersebut.

Didukung dengan banyak hal yang menemani hari-hariku saat ini menjalani semester akhir menuju sarjana, seperti sahabat yang mulai jarang bisa ditemui, harus menyelesaikan tugas akhir sendiri, belum lamaran magang yang ditolak kedua kali, membuatku sadar bahwa aku sedang menghadapi pintu masuk dari dunia sesungguhnya. Segala sesuatunya harus ku usahakan sendiri. Sudah tidak bisa bergantung dengan orang lain. Mau tidak mau aku harus melupakan kebencianku akan sendirian. Ya, aku harus berani untuk berjalan sendiri. Aku harus sadar bahwa akulah yang menentukan semuanya di dalam hidupku.



Teman-temanku yang saat ini sedang berjuang di luar sana, aku sedikit demi sedikit memahami bahwa apa yang kalian lakukan saat ini bukanlah hal yang mudah. Aku juga perlahan mengerti bagaimana sulitnya mencari hal bernama pekerjaan. Sehatlah kalian selalu, karena mencari itu butuh kekuatan. Dan semoga.. Allah selalu mendekatkan.

Aamiin.

Friday, December 8, 2017

Kamu Menarik, dan Itu Cukup Untukku

Bagaimana jika kita ternyata bisa jatuh cinta pada pandangan pertama?



Kita serba tidak tahu orang baru mana lagi yang akan kita temui di kemudian hari. Kita juga tidak akan pernah tahu bagaimana orang tersebut akan berperilaku di hadapan kita tepat untuk pertama kalinya. Yang bisa kita ketahui adalah bagaimana kita meunjukkan respon yang sesuai dan tentunya baik untuk mereka.

Terpesona. Itulah yang aku rasakan ketika pertama kali batang hidungnya muncul di hadapanku. Sejak ia membuka pintu kala itu, kedua bola mataku tak lepas mengiringi setiap langkahnya, memperhatikan dari ujung kepala hingga kakinya, sampai akhirnya ia duduk tanpa curiga sedikitpun. Ini baru kali pertama, dan tentu namanya akan menjadi catatan sejarah untuk hidupku.

Berbagai reaksi fisiologis tak beraturan pun muncul. Jika dalam ilmu psikologi, hal itu disebut dengan psikosomatis. Beberapa menit setelah ia mendaratkan dirinya ke posisi duduk ternyaman, giliran ku yang mohon izin untuk meninggalkan ruangan. Alasannya ke toilet, padahal tentunya tidak.

Ini berlebihan, aku tahu. Namun sungguh, aku benar-benar ingin pingsan. Lututku rasanya tak mampu menahan berat tubuhku. Wajahku bersemu merah seperti kepiting rebus ditambah saus asam manis. Telapak tanganku seperti pasca menggengam es batu, begitu dingin. Tapi memang inilah yang terjadi. Aku merasa ada yang berbeda saat melhatnya.

Aku tidak percaya bahwa hal yang semacam ini ada. Jatuh cinta pada pandangan pertama itu nyata adanya. Jangan salah paham. Bukan cinta, namun jatuh cinta. Ia semacam satu-satunya orang yang bisa membuatku percaya akan hal gila semacam itu. Bahkan setelah ia pergi dari tempat kita bertemu saat itu, aku masih tidak bisa lepas dari bayangannya.

Ini kali pertama untukku. Setelah sekian cinta telah ku lewati untuk mengisi beberapa episode drama dalam hidupku, namun ini benar-benar menjadi yang pertama. Aku jatuh cinta dengan gaya yang biasa disebut orang-orang di luar sana. Gila. Buta. Mendadak bodoh. Atau apapun yang lainnya. Aku tidak peduli.



Yang aku tahu kamu sungguh menarik.

Dan aku suka itu.

Wednesday, December 6, 2017

Segalanya Ku Wakilkan dengan Rindu

Tuhan adalah Sang Pembolak-balik hati manusia.
Tidak ada satu manusia pun yang tahu kapan hatinya akan dibalikkan.
Tidak ada satu insan pun yang tahu kapan orang yang disayanginya dibalikkan hatinya.
Iya, manusia memang serba tidak tahu.

Masih lekat dalam ingatan bahwa tepat enam bulan yang lalu, cerita ini dimulai. Aku tidak tahu siapa kamu, mendadak menyerobot masuk dalam kehidupanku. Dan aku pun juga tidak tahu, mengapa aku mempersilahkanmu masuk saat hatiku masih tak berbentuk. Aku baru saja disakiti saat itu dan Tuhan tiba-tiba hadirkan kamu. Itu sesuatu yang patut aku syukuri, bukan?

Namun akhir-akhir ini, aku terlalu sering merindukanmu. Berbeda dari waktu-waktu yang lalu. Terlebih saat kamu tahu apa saja kebiasaan yang ku suka, dan tidak. Kamu sempat mengatakan akan menculikku kalau tidak mau makan. Kamu sempat mengatakan takut aku bosan dengan seseorang sepertimu. Kamu sempat mengatakan apapun asal aku bahagia. Namun kini aku tak makan pun, apa pedulimu. Aku tak sedang bahagia pun, apa kau juga menengok padaku. Iya, secepat itu.

Hujan, genangan, kilat dan petir. Kamu ingat aku selalui ingin menembusnya denganmu, kan? Aku selalu bahagia melihat hujan datang saat aku tengah bersamamu. Namun saat ini tidak. Aku sendiri. Bersama orang-orang asing yang tengah asyik dengan diri mereka masing-masing.

Dari segala hal yang terasa berat, dari segala hal yang menjadi beban, aku hanya mewakili mereka semua dengan satu kata saja. Rindu. Entah apa yang kamu rasakan saat ini, aku tidak peduli. Aku selalu membesarkan hatiku atas apapun yang kamu katakan, yang kamu lakukan. Aku mencoba tersenyum atas segala hal yang sekalipun bisa menyayat hatiku dalam-dalam. Bahagiamu lebih penting, pikirku.

Dalam diam mu, cobalah untuk menjawab jujur.
Pernahkah kamu memikirkan sedikit saja apa yang aku rasakan?
Pernahkah kamu mengira bahwa sebenarnya tidak ada yang baik-baik saja dalam diriku?
Pernahkah kamu merasakan rindu untuk kesekian kalinya melihatku tertawa lepas tanpa beban?

Cukup jawab iya, atau tidak.
Karena sebanyak apapun jawaban tidak darimu, akan tetap aku usahakan yang terbaik untukmu.

Salam dariku,
Salah satu perempuan pereda rasa takut ketinggianmu.

Sunday, October 22, 2017

Malam Minggu, Bianglala, dan Rasa Takutmu

Aku baru ingat,
Kalau semalam itu adalah malam Minggu.
Aku jadi senyum-senyum sendiri mengingatnya.

Jika diingat dan dihitung-hitung kembali, baru dua kali aku malam mingguan dengannya. Kedua malam itu punya perbedaan yang cukup kontras. Berdasarkan apa yang ia ceritakan, pada malam Minggu pertama itulah ia baru merasakan ada getar-getar cinta padaku. Sedangkan pada malam Minggu kedua, syukurlah aku sudah bisa mencintaimu. Begitu katanya.

Aku menarik ingatanku pada hari pertama di bulan Agustus. Ia menghampiriku, dan itu jelas sangat membantuku untuk melepas penat di kota orang yang tak pernah ku pijaki sebelumnya. Apalagi, ia tak hanya diam. Karena ia mengerti apa yang ku inginkan, jadilah kita berjalan-jalan sekedar untuk cuci mata.

Suasana kota itu sungguh sepi. Berbeda sekali dengan bagaimana kehidupan kota metropolitan Surabaya. Begitu pun saat kami berhenti di salah satu tempat wisatanya. Bahkan, aku bisa menghitung dengan jelas berapa banyak kendaraan yang parkir di halaman seluas itu.

"Ini nggak lagi tutup, kan?", tanyaku.

"Masuk aja dulu.", jawabnya.

Dan benar saja, taman bermain itu seperti milik berdua. Sejenak terukir seulas senyum di bibirku.

"Naik itu yuk!", pintaku sambil menunjuk bianglala, mainan kesukaanku.

"Kamu sendiri aja gimana?". Heran, justru ia malah bertanya begitu padaku.

"Lah apa gunanya sekarang kamu disini kalo ga mau naik apa-apa?", mungkin bibirku otomatis cemberut.

"Yasudah, iya.", entah kenapa jawabnya pasrah.

"Yes!!!", sahutku penuh kegirangan.

Sampailah kami ke depan bianglala. Mataku berbinar, walau aku tahu ada kecemasan yang mendera laki-laki yang saat ini ada di sampingku.

"Mbak, karena ini tiketnya terusan, mbak bisa naik sepuasnya.", kata mas-mas si penjaga.

Sontak aku bertanya, "Berarti naik lima puteran nggak masalah dong, Mas?"

"Silahkan, Mbak.", jawabnya sambil tersenyum.

Bianglalaku mulai berputar. Aku sangat tak sabaran menantinya berputar hingga ke titik teratas. Aku tak memperhatikan kembali bagaimana dia yang menemaniku wajahnya sedikit berubah memucat.

"MAS COBA LIAT DEH!", teriakku.

"Apaan sih!"

Sontak aku terkejut. Heran. Tumben ia seperti ini. Aku terdiam memandangnya.

"Maaf maaf. Hehehe...", ia kembali nyengir.

"Kamu kenapa? Panik gitu." Kataku.

"Aku takut ketinggian."

Aku terbahak-bahak. Aku tahu ini bukan lelucon. Tapi, ekspresinya sangat tak bisa ku jelaskan dengan kata-kata.

"Kenapa nggak bilang dari tadi, sih?", tanyaku.

"Ya... Nggak tega kalo kamu naik sendirian." Jawabnya.

Akhirnya aku memutuskan untuk mengajaknya membahas segala hal. Hal-hal yang membuatku mengenalnya lebih jauh, dan sebaliknya. Ia cukup menikmati. Seakan terlihat lupa bahwa saat itu kami sedang tak menapak dataran yang sebenarnya. Pada putaran ketiga, ia menggenggam tanganku.

"Udah ga takut, nih?", tanyaku.

"Nggak, selama kita kayak gini terus."

***

Sekilas yang membuatku tersenyum, ia selalu mengusahakan apa-apa saja yang bisa membuatku tak cemberut. Dari segala hal yang mampu hingga yang tidak, ia akan berusaha lakukan asal itu bisa membuatku bahagia.

Terimakasih untuk malam Minggunya waktu itu, Mas. Semoga, tak kan ada rasa takut ketinggian lagi di permainan bianglala kita berikutnya. Dan... Aku harap rasa takutmu kehilanganku lebih besar dari rasa takutmu akan ketinggian.

Friday, October 20, 2017

Aku Harap Kamu masih Ingat Bagaimana Caraku Memelukmu Erat

Aku tahu ini terlambat,
Namun setidaknya aku kembali datang.
Hanya untukmu, bukan untuk yang lain.

Aku tidak tahu apakah aku masih jadi salah seorang yang kamu rindukan. Namun satu yang pasti adalah kamu sudah menjadi salah satu bagian hidupku yang tak bisa ku tinggalkan begitu saja. Bagaimana mungkin kamu bisa ku tinggalkan? Bahkan kita sudah bertumbuh bersama sejak beberapa tahun yang lalu.

Masih ingatkah kamu?

Kamu yang mengajakku menyelami dunia yang tak pernah ku sentuh sebelumnya. Tepatnya sekitar lima tahun yang lalu, saat aku duduk di bangku kelas dua Sekolah Menengah Atas. Kamu menuntunku untuk merangkai kata dengan mudahnya. Ketika banyak teman-temanku yang tak bisa bertahan, namun kamu selalu membuatku bertahan. Ya, hanya kamu satu-satunya yang bisa membuatku ada hingga saat ini.

Aku mengerti kamu pasti marah karena aku tak kunjung nampak. Berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan aku tak bisa menemuimu. Bukan, bukan tidak bisa. Aku saja yang salah. Aku tak mampu menjadikanmu prioritas. Aku tak menjadikanmu alasan kebahagiaanku saat kita bertemu. Ah, maaf. Kata-kataku terlalu menyakitkan. Padahal aku sendiri pun paham bahwa satu-satunya obat rindu adalah bertemu. Kamu rindu, namun aku tak bisa menemuimu. Pasti sangat sakit rasanya. Sekali lagi, maafkan aku.

Kini, aku membawa kabar bahagia untukmu. Aku punya banyak sekali waktu luang. Aku akan berikan untukmu. Di samping segala hal yang bisa membuatku bisa sejenak melupakanmu, aku akan berusaha akan kembali ada untukmu. Mungkin ini tidak akan mudah untukmu dan aku. Kamu tak kan semudah itu menerimaku kembali, dan aku pun tak kan semudah itu untuk mengambil hatimu kembali.


Aku serius kali ini. Percayalah. Aku akan mengusahakan setidaknya selama seminggu akan lebih dari satu kali aku datang. Bukankah ini kabar bahagia? Jadi bersiaplah, aku akan tiba secara mendadak, tak peduli bagaimana penampilanmu saat itu, aku tetap akan datang. Aku ingin memelukmu erat, seperti yang kita lakukan sebelum-sebelumnya. Melepas rindu yang kelewat penat.

Wednesday, May 17, 2017

Menuju Baik bersama Kamu.


(Episode 1)

Sebelum bertemu denganmu, aku tentu bertemu dengan orang lain. Orang yang berbeda watak, kepribadian, serta sikap. Mereka orang-orang baik. Mereka bisa memperlakukanku dengan baik. Namun bedanya, tidak semua dari mereka bisa mengajakku ke jalan yang baik. Beberapa mungkin bisa, namun mereka tidak bisa menyampaikannya dengan cara yang bisa aku terima. Bisa jadi terlalu keras, atau terkesan memaksa.

Kemudian, tibalah saat ini. Saat dimana aku dipertemukan denganmu. Laki-laki baik, yang taat beragama, yang menjaga dirinya. Hal yang pertama kali aku rasakan adalah “minder”. Apalah aku, yang hanya seperti ini, yang  jauh dari kata  baik. Namun kamu memaklumi semuanya. Bahwa segala perubahan pada manusia itu tidak boleh bersifat memaksa.

Kamu mengajakku untuk menjadi wanita yang lebih baik, dengan hal-hal sederhana. Kamu menawarkanku pembiasaan untuk melakukan hal yang mudah terlebih dulu untuk membenahi diri. Dan entah kenapa aku merasa nyaman. Belum lagi, kamu tidak membiarkanku untuk membenahi diri sendirian. “Yaudah, ayo sama-sama belajar saling memperbaiki diri.”, katamu. Bahkan, kamu yang sudah baik pun masih belum merasa baik. Memang ya, tidak ada langit yang mengatakan dirinya tinggi.

Mungkin kamu paham bahwa aku bukanlah seseorang yang bisa dibiarkan sendirian begitu saja. Maka dari itu, kamu mau menemaniku saat ini. Bahkan untuk belajar menjadi baik pun, kamu bersedia menemani, agar dirimu juga bisa menjadi lebih baik. Harus kamu tahu, bahwa baru kali ini aku menemukan laki-laki yang seperti ini. Laki-laki yang mau belajar lagi dan lagi. Laki-laki yang menemaniku untuk menjadi baik. Dan kini, ku ucapkan terimakasih.

dalam projek:
Teman Menuju Baik :)

Wednesday, February 8, 2017

Dari 8 Tipe Cinta Menurut Psikologi Di Bawah Ini, Ternyata Friendzone Juga Termasuk Salah Satu Di Antaranya!

“You know you’re in love when you can’t fall asleep because reality is finally better than your dreams”
– Dr. Seuss.        

Source: https://id.pinterest.com/pin/467389267563891641/

Menurutmu cinta itu apa sih, Dear? Mencintai itu sesuatu yang bagaimana sih, Dear? Lalu apasih bedanya antara cinta dan sayang? Rasanya tak ada habisnya jika berbicara tentang cinta. Pahit manis, asam asin, dan bermacam-macam rasa lain dapat dirasakan hanya karena cinta. Ketika cinta mulai datang, seseorang juga akan mengalami kondisi emosi yang bervariasi. Senang, senyum-senyum sendiri karena membayangkan doi, seakan-akan setiap harinya berjalan dengan sempurna, terkadang mendadak sedih karena dilanda rindu, kemudian menangis karena sangat ingin untuk bertemu, dan yang lainnya. Sangat menakjubkan ya, Dear?

Well, jika seseorang diberikan pertanyaan mengenai apa saja tipe-tipe cinta, maka jawabannya akan bermacam-macam. Cinta monyet, cinta mati, cinta pandangan pertama, cinta lama bersemi kembali, atau istilah cinta yang lainnya. Dalam psikologi pun juga dibahas bahwa tipe cinta memang tak hanya satu, Dear. Salah satu tokoh psikologi bernama Robert J. Sternberg mengemukakan bahwa terdapat delapan tipe cinta yang dibahas dalam The  Triangular Theory of Love miliknya. Kira-kira tipe cinta yang ada dalam hubunganmu dengan doi ada di nomor berapa ya, Dear?

Source: https://id.pinterest.com/pin/491103534347865822/

Berdasarkan the triangular theory of love milik Sternberg, komponen utama dalam cinta dibagi menjadi tiga, antara lain: Intimacy (kedekatan), Passion (ketertarikan), Decision/commitment (komitmen). Nantinya, ketiga komponen ini akan berkolaborasi membentuk delapan tipe cinta. Dalam setiap tipenya, bisa terdapat satu hingga tiga komponen. Untuk lebih jelasnya, yuk simak tabel di bawah ini, Dear!

Source: https://s3.amazonaws.com/classconnection/894/flashcards/6315894/png/sternberg's_triangular_theory-1490B65B7152B2C968D.png

1. Nonlove
Seperti yang bisa dilihat pada tabel di atas, tidak terdapat satu komponen pun yang terdapat di dalam tipe cinta ini. Maka dari itu, tipe cinta ini disebut nonlove.

2. Liking
Tipe cinta ini hanya terdiri dari satu komponen yaitu intimacy, Dear. Jadi di dalamnya terdapat hubungan yang dekat, adanya emotional support dan terdapat kasih sayang dan kehangatan. Biasanya hubungan yang ada pada tipe cinta ini adalah persahabatan. Kamu merasa nyaman berteman dengannya, namun tidak terdapat ketertarikan atau komitmen jangka panjang.

Source: https://id.pinterest.com/pin/509469776579014656/

3. Infatuated Love
Passion, adalah satu-satunya komponen yang terdapat pada tipe cinta yang satu ini, Dear. Tipe ini merupakan bahasa psikologi dari “cinta pada pandangan pertama”. Bisa bayangkan bagaimana jatuh cinta pandangan pertama, Dear? Yap, kamu merasakan adanya ketertarikan secara fisik dan/atau seksual. Namun, tipe cinta ini akan cepat memudar karena tidak adanya kedekatan secara emosional dan komitmen jangka panjang.

Source: https://id.pinterest.com/pin/343258802832720956/

4. Empty Love
Serupa tapi tak sama, tipe cinta yang ini juga hanya mempunyai satu komponen yaitu commitment, Dear. Biasanya tipe cinta ini dapat terjadi pada awal hubungan (misalkan karena dijodohkan), yang mana belum berkembangnya ketertarikan dan kedekatan secara emosional, serta bisa juga terjadi pada hubungan yang telah berlangsung lama, dimana rasa ketertarikan dan cinta sudah mulai memudar. Seakan cinta segan putus pun tak mau.

Source: https://id.pinterest.com/pin/379991287293599619/

5. Romantic Love
Terdapat dua kombinasi dalam tipe cinta ini antara lain intimacy dan passion. Inilah tipe cinta yang bahasa gaulnya “friendzone”. Hayo... apakah salah satu dari kamu sedang menjalani tipe cinta yang satu ini, Dear? Secara umum memang terdapat ketertarikan secara fisik pada si doi, sekaligus juga adanya rasa saling menyayangi. Satu-satunya yang tidak ada dalam tipe cinta ini adalah, komitmen. Cukup nyesek ya, Dear?

Source: https://id.pinterest.com/pin/556335360203796606/

6. Companionate Love
Pada tipe cinta ini, terdapat komponen intimacy dan komitmen. Justru pada tipe ini passion (ketertarikan fisik/seksual) sudah mulai memudar. Walaupun begitu, pasangan yang menjalani tipe cinta ini masih merasakan kedekatan emosi yang hangat dan mempertahankan komitmen. Biasanya pasangan pada tipe cinta ini sudah menikah cukup lama. Yeah, tipe cinta ini dapat berlangsung lama dan memuaskan lho, Dear.

Source: https://id.pinterest.com/pin/341781059199537707/

7. Fatuous Love
Kini, giliran intimacy yang tidak terdapat pada tipe cinta ini. Di dalamnya hanya terdapat passion dan komitmen. Pasangan yang menjalani cinta ini hanya berkomitmen atas dasar ketertarikan seksual saja. Namun, tidak terdapat kemauan untuk mengembangkan kedekatan secara emosional (intimacy) untuk hubungan yang lebih stabil.

Source: https://id.pinterest.com/pin/467248530075797440/

8. Consummate Love
Ini dia satu-satunya tipe cinta yang terdapat tiga komponen lengkap di dalamnya. Terdapat intimacy, passion dan komitmen. Tipe cinta ini dianggap ideal karena pasangan di dalamnya mengalami kedekatan secara emosional, terdapat ketertarikan fisik dan seksual sekaligus komitmen jangka panjang. Sternberg sendiri menjelaskan bahwa lebih sulit untuk mempertahankan tipe cinta ini daripada mencapainya. Karena apabila salah satu komponen mulai berkurang, ia akan berganti pada tipe cinta yang lain.

Source: https://id.pinterest.com/pin/309481805630037236/

Last but not least...

Tipe-tipe cinta ini tidak akan tetap itu-itu melulu, Dear. Seiring berjalannya waktu, kamu dan pasangan bisa jadi akan mengembangkan intimacy dan passion, atau muncul komitmen untuk yang saat ini masih dalam friendzone. Cinta itu bisa muncul kapan saja, tapi ingat, mempertahankan lebih sulit daripada mencari yang baru, Dear.

“Passion is the quickest to develop, and the quickest to fade. Intimacy develops more slowly, and commitment more gradually still.”
– Robert J. Sternberg, The Triangular Theory of Love.

References


Justin, J. A. (2016). Ini loh, tipe-tipe cinta menurut Sternberg!. Diakses melalui http://pijarpsikologi.org/ini-loh-tipe-tipe-cinta-menurut-sternberg/.

Sternberg, R. J. (1986). A triangular theory of love. Psychological Review, 93, 119-135.

Sternberg, R. J. Duplex theory of love: Triangular Theory of Love and Theory of Love as A Story. Diakses melalui http://www.robertjsternberg.com/love/.


Wikipedia. Triangular theory of love. Diakses melalui https://en.wikipedia.org/wiki/Triangular_theory_of_love.

Monday, February 6, 2017

Ini 5 Tahapan yang Harus Kamu Lewati agar Bisa Ikhlas Menghadapi Patah Hati yang Super Nyesek

“Grief does not change you, Hazel. It refeals you.”

– John Green, The Fault in Our Stars.

Source: http://weheartit.com/entry/276264872/search?context_type=search&context_user=Madii07&page=4&query=the+fault+in+our+stars

Siapa sih yang nggak sedih ketika harus merasakan patah hati seperti yang dirasakan Hazel dan August di film The Fault in Our Stars? Mungkin kamu juga ikut terbawa suasana ketika nonton film ini ya, Dear? Tiba-tiba ingat bagaimana doi yang kita sayang meninggalkan kita. Apalagi jika kamu ditinggalkan saat sedang berada pada fase “sayang-sayangnya”.

Patah hati sangat identik dengan frustasi. Rasa frustasi tersebut timbul karena seseorang sedang berada pada fase kehilangan. Ternyata ketika patah hati, kamu juga mengalami fase kehilangan ini lho, Dear. Secara nggak sadar, kamu akan melewati setiap fasenya dengan kondisi dan respon yang berbeda-beda hingga kamu dapat merasa “ikhlas” terhadap rasa kehilangan tersebut.

Dalam psikologi, salah satu tokohnya yang bernama Elisabeth Kubler-Ross menulis The Five Stages of Grief untuk menjelaskan fase-fase apa saja yang kamu lalui ketika merasa kehilangan. Lima fase tersebut antara lain: 1. Denial (perasaan penolakan), 2. Anger (marah), 3. Bargaining (tawar menawar), 4. Depression (depresi), 5. Acceptance (penerimaan).

Source: https://id.pinterest.com/pin/572238696388706181/

1. Denial (perasaan penolakan)

Source: https://id.pinterest.com/pin/514043744950425442/

Denial merupakan tahapan pertama yang akan kamu lalui, Dear. Dalam fase ini kamu akan menyangkal bahwa situasi kehilangan tersebut benar-benar terjadi.

“Ini nggak mungkin terjadi.”
“Aku gak apa-apa.”
“Ah, dia lagi bercanda nih.”

Ada kah dari kamu ketika patah hati mengucapkan salah satu kalimat di atas, Dear? Jika iya, berarti kamu mulai memasuki gerbang dari fase kehilangan ini. Hal ini normal terjadi pada saat otakmu masih belum bisa berpikir logis. Kamu seakan-akan menghindari fakta yang ada dengan berbagai respon penolakan.

2. Anger (marah)

Source: https://id.pinterest.com/pin/83527768069682081/

Anger, atau fase marah-marah ini jadi tahapan selanjutnya setelah denial, Dear. Simpelnya, habis denial terbitlah anger. Saat rasa sakit kembali muncul dan kamu belum siap menghadapinya, fase marah ini lah yang akan kamu lakukan sebagai media penyembuhan.

“Ini nggak adil!”
“Tuhan dimana sekarang? Kenapa harus aku yang ada di posisi ini?”
“Harus sesakit ini? Harus aku yang rasain?”

Dear, ketika kamu pernah menyebutkan salah satu dari kalimat di atas atau mungkin kalimat lain yang menunjukkan kemarahan, you definitely on this stage. Pada fase ini, kamu seakan marah pada segalanya tak terkecuali pada Tuhan. Hal ini wajar, karena kamu memang harus melalui fase ini walau kemarahan tampak tidak berujung. Karena semakin kamu mampu merasakannya, kemarahan juga semakin cepat menghilang dengan sendirinya.

3. Bargaining (tawar menawar)

Source: https://id.pinterest.com/pin/464715255285578244/

Sesuai dengan namanya, bargaining atau tawar menawar biasanya akan kamu hadapi setelah kamu marah sejadi-jadinya, Dear. Dalam fase ini, kamu seakan-akan membayangkan kembali sosok doi yang meninggalkanmu sambil memikirkan:

“Kalau aja kita bisa balik, aku janji nggak akan posesif lagi”
“Misalkan suatu saat kita disatuin lagi, aku bakal bisa jadi yang lebih baik...”
“Kenapa kamu ninggalin aku sekarang? Padahal kalau kamu bertahan lebih lama, aku pasti bisa jadi kayak yang kamu mau...”

Secara tidak sadar, pikiran-pikiran tersebut datang dan seakan-akan membuat kesepakatan. Kesepakatan ini tak hanya kamu sampaikan pada diri kamu sendiri, bisa jadi kamu juga membuat kesepakatan ini dengan Tuhan. Perlu kamu ketahui, ini adalah fase rawan, Dear. Bisa jadi kamu akan kembali ke fase sebelumnya, atau lulus menuju fase berikutnya. Semuanya kembali lagi pada bagaimana kamu menghadapi dan mengatasi kesedihan yang kamu alami.

4. Depression (depresi)

Source: http://weheartit.com/entry/277241946/search?context_type=search&context_user=stilinskirhee&query=cry

Depression membawamu pada tahap menyadari bahwa segala sesuatunya memang nyata terjadi, Dear. Pada tahap ini, dimungkinkan kamu akan lebih memilih untuk berdiam diri di kamar dan menangis.

“Aku kangen kamu...”
“Terus kalau aku mati sekarang, apa pedulimu?”
“Kalau detik ini aku terjun ke jurang pun mungkin kamu akan tetap pergi.”

Sangat disarankan kamu menikmati kesendirian ini. Hal ini dikarenakan pada fase ini kamu diberikan kesempatan untuk menyadari bahwa sesuatu yang telah pergi tidak akan kembali lagi. Dan di akhir dari fase depresi ini, kamu mungkin akan membutuhkan pelukan hangat dari orang-orang terdekatmu, Dear.

5. Acceptance (penerimaan)

Source: https://id.pinterest.com/pin/54676582953834464/

Fase acceptance, akan tiba setelah fase-fase sebelumnya telah kamu lalui dengan baik. Dalam tahap ini kamu akan merasa life must go on even without him. Akan ada energi baru yang lebih positif mengisi hati dan pikiranmu. Seakan-akan fase ini benar-benar menunjukkan suatu keadaan dimana habis gelap, terbitlah terang.

“Everything gonna be okay..”
“Jika dia pergi, berarti dia tak baik untukku.”
“Hidup tak harus melulu tentang pacar.”

Jika kamu sudah mulai berpikiran positif seperti itu, it means you truely win the games. Kamu telah bebas dari segala hal yang membelenggu pikiranmu. Bukan berarti kamu sudah move on dari si doi, Dear. Tapi paling tidak kamu sudah bisa belajar untuk menerima kenyataan dan berusaha hidup lebih baik lagi.

Last but not least...

Kamu perlu menggaris bawahi bahwa tahapan ini terkadang tidak selalu dimulai dari fase awal denial, Dear. Bisa jadi kamu langsung menuju ke fase anger, atau bahkan depresi. Pada fase depresi pun, akan ada kemungkinan kamu kembali ke fase sebelumnya apabila tidak berhasil mengontrol emosi dalam dirimu. Waktu yang ditempuh seseorang dalam menempuh serangkaian tahapan ini pun berbeda-beda hingga ia mampu mencapai fase acceptance. Tidak hanya mampu melewati setiap fasenya, namun yang terpenting dari serangkaian tahapan ini adalah bagaimana kamu mampu menyembuhkan diri sendiri serta mengontrol emosi dengan baik agar tidak mengulang tahapan sebelumnya.

“Don't cry because it's over, smile because it happened.”

– Dr. Seuss



Referensi

Axelord J. The 5 Stages of Grief and Loss. Diakses melalui https://psychcentral.com/lib/the-5-stages-of-loss-and-grief/.

Kessler D. The 5 Stages of Grief. Diakses melalui http://grief.com/the-five-stages-of-grief/.

Wikipedia. Model Kubler-Ross. Diakses melalui https://id.wikipedia.org/wiki/Model_K%C3%BCbler-Ross.

Sunday, January 8, 2017

Tentang Linda, dan Mimpinya.

Saya memang belum bisa menulis seproduktif dulu, namun saat ini, izinkan saya untuk memperkenalkan diri lebih jauh. Ini bukan sembarang kenalan, ini bukan sembarang say hi. Disini, saya akan mengajak kalian berkenalan dengan segala hal yang biasa saya lakukan, segala hal yang menjadi kesukaan saya, dan segala mimpi yang saya punya di masa yang akan datang.

Tulisan ini memang pada awalnya untuk memenuhi tugas studi S1 saya di jurusan Psikologi dengan nama mata kuliah Pengembangan Diri, namun ternyata saya tergerak untuk menceritakan tentang diri saya lebih dari sekedar menunaikan kewajiban.

Okay...

Here we go...


Mungkin beberapa teman-teman pembaca sudah mengetahui nama lengkap saya, yaitu Linda Rahmadhani Febrian. Tentu juga sudah akrab dengan nama panggilan saya, yaitu Linda. Dan pasti familiar dengan nama panggung saya, yakni Linda Rafeby. Mengapa nama panggung? Entahlah. Menurut saya, nama saya unik hingga bisa disingkat sedemikian rupa dan bisa membuat orang lain dengan mudah mengingat sosok saya.

Saya, sosok wanita berkewarganegaraan aseli Indonesia, lahir pada tanggal 13 Februari 1996 yang sangat menyukai ice cream. Mungkin bulan depan, adakah dari teman-teman yang membawakan saya ice cream sebagai bentuk ucapan selamat ulang tahun? Haha, ya. Saya bercanda. Namun jika memang ada, saya tentu akan menolak. Apa hanya suka ice cream? Jawabannya adalah TIDAK!!! Menurut keluarga, sahabat, dan orang-orang di sekitar saya, saya menyukai segala jenis makanan. Menurut saya pribadi pun juga demikian. Apalagi yang berbau red velvet! Yap. Jika kalian juga ingin mengajak saya makan di suatu tempat dan ada menu berbau red velvet, pleaseee ajak saya! Saya pasti akan berangkat saat itu juga.

*Linda, kenapa sih sekarang bikin postnya pake “Saya”? jawabannya adalah biar keliatan lebih oke dan beneran jadi post yang gak main-main.*

Oke, selanjutnya...


Saya itu seseorang yang santai. Bahkan kelewat santai. Contohnya, nggak akan saya ambil jauh-jauh. “Ah santai aja, bentar lagi bakal nulis lagi kok.” Atau “Ah, santai aja, ini kan tahun baru, tahun ini resolusinya nulis rutin 2 minggu sekali!”. Ya, semua hanya bermodal kesantaian saja. Namun merugikan, bukan? Kalian jadi rindu sama tulisan saya. Ya, mungkin saya yang kege-eran kalau kalian rindu sama saya, namun yha. Saya rindu lho, sama kalian.

Masih seputar santai, saya dulu awal-awal waktu getol menulis disini, saya selalu baca blog dari Mbak Dwitasari, Mbak Nindy, Dek Evita Nuh atau penulis-penulis terkenal di Indonesia melalui blognya. Ya, saya suka sekali membaca hal-hal yang demikian. Namun entah mengapa saya tidak suka membaca hal-hal yang berbau literatur. Ada yang suka atau bahkan hobi membaca literatur? Mau ajarin saya bagaimana cara mencintai literatur?

Teman-teman disini pasti juga sudah mengetahui kecintaan saya dalam dunia musik. Musik itu bagaikan nafas saya. Saya sedih, pasti ungkapinnya pakai musik. Saya kesal, ungkapinnya juga pakai musik. Saya lelah, ungkapinnya musik. Saya gundah gulana merana, ungkapinnya juga selalu pakai musik. Musik musik dan musik. Saya suka nyanyi, saya suka main gitar, bahkan soundtrack yang jadi back song blog ini adalah suara saya yang diiringi gitar dengan petikan tangan saya sendiri. Secinta itu saya pada musik. Lantas ada beberapa orang di sekitar saya, yang bertanya “kok nggak ikut Indonesian Idol aja sih?” atau “eh Rising Star buka audisi di Surabaya, loh!”. Dan rata-rata, orang-orang yang mengatakan hal tersebut menyampaikan dengan menggebu-nggebu. Tanggapan saya masih tetap sama. “Ada kewajiban yang harus saya tuntaskan terlebih dulu di sini sebelum beranjak ke level berikutnya.”, jawaban langgananku. Setelah statement tersebut keluar mulus dari bibirku, orang yang menggebu-nggebu tadi langsung manggut-manggut mencoba memahami. Begini, saya mencoba klarifikasi. Saya sungguh demi Tuhan, demi apapun yang ada di dunia ini, saya sangat ingin mengikuti kompetisi demikian. Jiwa dan hati saya tidak menolak. Namun saya harus ingat, saya masih punya tanggungjawab dan kewajiban besar yang tak dapat saya tinggalkan atau bahkan sampai saya korbankan. Apakah itu? KULIAH. Ya, enam huruf berjuta makna. Jadilah, saat ini saya mengembangkan karya saya melalui situs-situs seperti YouTube, Soundcloud, Blogger, dan lain-lain untuk menebus belum bisanya diri saya mengikuti ajang unjuk bakat seperti yang disebutkan orang-orang itu.


Adakah cita-cita sebagai penyanyi? Yes! Ada. Lebih tepatnya sebagai musisi, jadi tak hanya sekedar bernyanyi. Sejak saya di usia belia, saya selalu melakukan kegiatan bermusik full dengan hati. Tak ada paksaan. Ya, karena memang saya cinta. Sampai suatu ketika saya menemukan sebuah quotes di suatu majalah yang berbunyi:

“Saya hanya orang biasa yang senang bernyanyi. Saya akan menginterpretasikan setiap lagu dengan baik dan berharap laguku bisa menyentuh hati semua orang.”

Hebatnya, hingga saat ini pepatah tersebut selalu menjadi semangat untuk saya menjadi seseorang punya semangat menyanyikan sebuah lagu tak hanya dengan suara, namun juga dengan hati.


Ngomong-ngomong soal hati, saya punya referensi bagaimana caranya berdamai dengan kekecewaan. Tentu, kita hidup nggak jauh-jauh dari kata kecewa, kan? Dan sekarang saya akan tunjukkan caranya.

Pertama: Know Your Heart.
Peka sama diri sendiri itu penting, lho. Kadang nih, ada seseorang yang di dalam hatinya sebenernya dia sedih, tapi ketika di luaran sana dia sok-sok tegar dengan ikut ketawa ketiwi bareng temen-temennya. Padahal di dalem hati dia nyanyi.. “Di dalam keramaian aku masih merasa sedih, sendiri memikirkan kamu....” gitu? Ah please, demi kesehatan mental dan kesejahteraan diri kamu sendiri, sudahlah. Jangan naif. Kamu harus bisa melakukan asesmen pada diri sendiri. Apakah kamu sedang sedih, marah, kesal, gundah, gulana atau yang lainnya. Dengan begitu, kamu akan punya strategi coping stress yang cocok juga.

Kedua: Let it Out.
Ketika kamu sudah mengenali apa yang kamu rasakan, coba ungkapkan dengan caramu. Tentu, yang utama cobalah mengungkapkan dengan cara yang positif. Dijamin, ketika kamu bisa mengungkapkan dengan caramu, itu akan membuatmu merasa lebih lega.

Ketiga: Get Some Perspective.
Ini penting! Baik untuk kamu yang ekstrovert, introvert, kalau kalian merasa kesusahan untuk mengatasi masalah yang kalian hadapi, kalian bisa ceritakan itu pada orang yang menurut kalian tepat dan bisa dipercaya. Dengan begitu, kalian akan mendapatkan pandangan-pandangan baru akan solusi dari permasalahan kalian. Bisa dibayangkan? Disitulah kalian juga akan bisa melihat mana orang-orang yang bisa mendengarkan kalian dengan penuh perhatian dan pemberi solusi yang baik. Please, jangan dipendam kalau kalian memang merasa masalah tersebut berat. Akibatnya fatal, Lho.


Keempat: Practice Acceptance.
Ini juga nggak kalah penting dari yang paling penting! Cobalah menerima kenyataan, dan bersyukur. Bersyukur tidak membutuhkan waktu yang lama, kan? Nah. Ini juga obat terampuh ketika kita sedang dilanda kecewa. Cobalah :)

Nah, tips di atas sering saya terapkan dalam hidup. Tapi... ada lagi. Saya juga punya tips bagaimana cara mencintai diri sendiri.
  1. Berbaiklah dengan dirimu.
  2. Maafkan dirimu. Jangan terus menyalahkan diri sendiri.
  3. Cuek aja dengan apa yang dikatakan orang lain tentangmu.
  4. Coba mulai buat ceritamu.
  5. Dan kelilingi dirimu dengan orang-orang yang positif.

Mungkin kelima hal akan membuat dirimu terhindar dari kekecewaan. Tidak, saya tidak menjamin, namun apa salahnya dicoba, ya kan?


Ah Lin, bosen tips terus. Sebenernya kamu di masa depan pengen jadi apa sih?

Oke, sebelum kita kenalan sama mimpi saya, saya akan kenalin dulu teman-teman disini dengan yang namanya Appreciative Inquiry. Appreciative Inquiry atau yang biasa disebut AI (duh, berasa panggil si Sayang, ya? AIJ), adalah sebuah proses menggali, mengenali dan belajar potensi diri sebagai modal mencapai impian. Simpelnya, dengan si AI ini, kamu bisa coba menggali lebih dalam mimpi kamu, lalu kamu bisa identifikasi apa aja potensi yang ada dalam diri kamu.

Nah, sudah mulai kenal dengan AI? Sekarang waktunya teman-teman kenalan dengan mimpi saya, ya. Sejujurnya, saya sangat punya banyak mimpi. Tapi, mimpi terbesar saya yang saya idam-idamkan hingga kini adalah..


Bayangkan saja, ketika saya ada di posisi tersebut, saya tak lantas bisa berdiri secara cuma-cuma. Ada hal-hal yang harus saya penuhi untuk berada di atas sana. Sederhana saja, saya kembali pada konsep AI yang saya jelaskan di awal tadi. AI membantu saya untuk mengidentifikasi hal-hal apa saja yang ada dalam diri saya yang bisa saya gunakan untuk mencapai mimpi saya tersebut.

Di dalam AI, dikenal adanya 5D, antara lain Definition, Discovery, Dream, Design dan Delivery/Destiny. Untuk lebih jelasnya, cek bagan di bawah ini:


Langsung saja, saya akan memaparkan satu per satu.

1.       Definition
Di atas saya sudah menyebutkan. Saya ingin menjadi seorang yang bekerja dalam bidang HRD (Human Resource Development). Tak hanya ingin bekerja di sana, saya ingin belajar lebih tentang segala teori yang saya terima saat ini. Saya ingin tahu bagaimana sakralnya menentukan nasib ratusan orang pencari ladang bekerja.

2.       Discovery
Dalam tahap ini, saya diajak untuk mengenali dan menggali kekuatan yang ada dalam diri saya. Dan di bawah ini adalah hasil identifikasi diri saya sendiri sebagai seseorang yang:
-          Ramah, mudah bergaul dengan orang sekitar
-          Cepat mempelajari hal baru
-          Suka menganalisis dan bekerja dengan cepat
-          Problem solver
-          Percaya diri, mempunyai communication skill yang baik
-          Mudah beradaptasi, bisa bekerja di dalam tim
-          Menyukai seni
-          Menyukai hal-hal yang berbau kompetisi dan seleksi
-          Berpikir sebelum melakukan sesuatu
-          Pekerja keras dan suka akan tantangan
Berdasarkan beberapa hal yang telah saya sebutkan di atas, menurut saya menyeleksi adalah seni. Maka dari itu, saya berminat dalam bidang HRD. Memang tidak semua aspek dalam diri saya suitable dengan mimpi yang saya tuliskan, tapi ada juga beberapa aspek yang cocok namun juga masih perlu dimatangkan kembali.

3.       Dream
Pada tahap ini, saya diajak untuk mengenali impian, dan visi ke depan tentang diri saya. Saya memimpikan berada pada suatu posisi yaitu HRD sedangkan dalam menjalankan tugas-tugas di posisi HRD, kriteria yang harus ada dalam diri seseorang adalah:
-          Punya jiwa kepemimpinan yang baik
-          Punya kemampuan komunikasi yang baik
-          Dapat memahami strategi perusahaan
-          Dapat mengelola secara tepat perubahan yang terjadi pada perusahaan
-          Harus mempunyai bussiness knowledge yang baik
-          Harus mampu mempersuasi dan memahami orang lain
-          Punya kemampuan khusus seperti mengoperasikan alat tes psikologi
-          Memiliki pengetahuan mengenai prosedur dan proses rekruitmen
Jika ditinjau kembali, saya punya kemampuan komunikasi yang cukup baik, bukan? Namun sisanya, tentu harus saya masak lagi sampai matang.

4.       Design
Nah, pada tahap ini, saya diajak untuk merancang WHAT, WHO DAN HOW untuk mewujudkan mimpi saya.

WHAT: apa saja yang harus dimatangkan?
-          Jiwa kepemimpinan
-          Kemampuan komunikasi
-          Kemampuan mempersuasi
-          Pengoperasian alat tes psikologi
-          Paham dasar prosedur dan proses rekruitmen

WHO: siapa yang akan menjadi pendukung dalam proses ini?
-          Orangtua dan keluarga
-          Teman/sahabat
-          Manager HRD
-          Rekan kerja
-          Masyarakat

HOW: bagaimana pribadi yang pas dengan mimpi diri sendiri?
-          Asertif
-          Mampu bekerja cepat
-          Open-minded dan kritis
-          Mampu melihat peluang
-          Analitis dan solutif

5.       Delivery/Destiny
Yang terakhir ini, tahapan dimana saya diajak untuk memaknai agenda perubahan, dan merayakan perubahan. Cara saya memaknai adalah dengan menggalang berbagai strategi untuk menjadikan diri saya pantas berada pada posisi HRD. Antara lain:
  1. Magang di Unit Terapan yang berhubungan langsung dengan asesmen perusahaan, yang menyediakan fasilitas belajar berbagai alat tes psikologi dan mengaplikasikannya langsung pada subjek yang akan diseleksi.
  2. Membaca buku yang berkaitan dengan HRD untuk memperkaya pengetahuan.
  3. Berkonsultasi pada orang-orang yang memang sudah punya pengalaman dalam bidang HRD, seperti dosen PIO atau staff-staff di perusahaan.
  4. Membangun koneksi dengan staff HRD yang memang kompeten di bidangnya.
  5. Merutinkan diri untuk menegakkan sholat Dhuha dan Tahajjud.



Yap, sampai sudah pada kata-kata terakhir yang akan saya sampaikan disini. Saya ingin terus menggenggam mimpi saya bersama Allah di samping saya, dan dimana pun saya berada. Saya tidak main-main jika berbicara tentang mimpi, karena ini adalah sebuah hadiah yang nantinya akan saya persembahkan juga untuk kedua orangtua saya.

Tidak hanya saya, teman-teman juga tentu bisa menerapkan beberapa cara di atas untuk mengembangkan diri masing-masing. Tak ada kata terlambat untuk belajar, dan tak ada umur tua untuk terus menambah pengalaman.



Terimakasih, sudah menyempatkan membaca.
Sungguh,
Saya senang bertemu lagi dengan kalian.
Tertanda,

Linda Rahmadhani Febrian.