Sunday, January 8, 2017

Tentang Linda, dan Mimpinya.

Saya memang belum bisa menulis seproduktif dulu, namun saat ini, izinkan saya untuk memperkenalkan diri lebih jauh. Ini bukan sembarang kenalan, ini bukan sembarang say hi. Disini, saya akan mengajak kalian berkenalan dengan segala hal yang biasa saya lakukan, segala hal yang menjadi kesukaan saya, dan segala mimpi yang saya punya di masa yang akan datang.

Tulisan ini memang pada awalnya untuk memenuhi tugas studi S1 saya di jurusan Psikologi dengan nama mata kuliah Pengembangan Diri, namun ternyata saya tergerak untuk menceritakan tentang diri saya lebih dari sekedar menunaikan kewajiban.

Okay...

Here we go...


Mungkin beberapa teman-teman pembaca sudah mengetahui nama lengkap saya, yaitu Linda Rahmadhani Febrian. Tentu juga sudah akrab dengan nama panggilan saya, yaitu Linda. Dan pasti familiar dengan nama panggung saya, yakni Linda Rafeby. Mengapa nama panggung? Entahlah. Menurut saya, nama saya unik hingga bisa disingkat sedemikian rupa dan bisa membuat orang lain dengan mudah mengingat sosok saya.

Saya, sosok wanita berkewarganegaraan aseli Indonesia, lahir pada tanggal 13 Februari 1996 yang sangat menyukai ice cream. Mungkin bulan depan, adakah dari teman-teman yang membawakan saya ice cream sebagai bentuk ucapan selamat ulang tahun? Haha, ya. Saya bercanda. Namun jika memang ada, saya tentu akan menolak. Apa hanya suka ice cream? Jawabannya adalah TIDAK!!! Menurut keluarga, sahabat, dan orang-orang di sekitar saya, saya menyukai segala jenis makanan. Menurut saya pribadi pun juga demikian. Apalagi yang berbau red velvet! Yap. Jika kalian juga ingin mengajak saya makan di suatu tempat dan ada menu berbau red velvet, pleaseee ajak saya! Saya pasti akan berangkat saat itu juga.

*Linda, kenapa sih sekarang bikin postnya pake “Saya”? jawabannya adalah biar keliatan lebih oke dan beneran jadi post yang gak main-main.*

Oke, selanjutnya...


Saya itu seseorang yang santai. Bahkan kelewat santai. Contohnya, nggak akan saya ambil jauh-jauh. “Ah santai aja, bentar lagi bakal nulis lagi kok.” Atau “Ah, santai aja, ini kan tahun baru, tahun ini resolusinya nulis rutin 2 minggu sekali!”. Ya, semua hanya bermodal kesantaian saja. Namun merugikan, bukan? Kalian jadi rindu sama tulisan saya. Ya, mungkin saya yang kege-eran kalau kalian rindu sama saya, namun yha. Saya rindu lho, sama kalian.

Masih seputar santai, saya dulu awal-awal waktu getol menulis disini, saya selalu baca blog dari Mbak Dwitasari, Mbak Nindy, Dek Evita Nuh atau penulis-penulis terkenal di Indonesia melalui blognya. Ya, saya suka sekali membaca hal-hal yang demikian. Namun entah mengapa saya tidak suka membaca hal-hal yang berbau literatur. Ada yang suka atau bahkan hobi membaca literatur? Mau ajarin saya bagaimana cara mencintai literatur?

Teman-teman disini pasti juga sudah mengetahui kecintaan saya dalam dunia musik. Musik itu bagaikan nafas saya. Saya sedih, pasti ungkapinnya pakai musik. Saya kesal, ungkapinnya juga pakai musik. Saya lelah, ungkapinnya musik. Saya gundah gulana merana, ungkapinnya juga selalu pakai musik. Musik musik dan musik. Saya suka nyanyi, saya suka main gitar, bahkan soundtrack yang jadi back song blog ini adalah suara saya yang diiringi gitar dengan petikan tangan saya sendiri. Secinta itu saya pada musik. Lantas ada beberapa orang di sekitar saya, yang bertanya “kok nggak ikut Indonesian Idol aja sih?” atau “eh Rising Star buka audisi di Surabaya, loh!”. Dan rata-rata, orang-orang yang mengatakan hal tersebut menyampaikan dengan menggebu-nggebu. Tanggapan saya masih tetap sama. “Ada kewajiban yang harus saya tuntaskan terlebih dulu di sini sebelum beranjak ke level berikutnya.”, jawaban langgananku. Setelah statement tersebut keluar mulus dari bibirku, orang yang menggebu-nggebu tadi langsung manggut-manggut mencoba memahami. Begini, saya mencoba klarifikasi. Saya sungguh demi Tuhan, demi apapun yang ada di dunia ini, saya sangat ingin mengikuti kompetisi demikian. Jiwa dan hati saya tidak menolak. Namun saya harus ingat, saya masih punya tanggungjawab dan kewajiban besar yang tak dapat saya tinggalkan atau bahkan sampai saya korbankan. Apakah itu? KULIAH. Ya, enam huruf berjuta makna. Jadilah, saat ini saya mengembangkan karya saya melalui situs-situs seperti YouTube, Soundcloud, Blogger, dan lain-lain untuk menebus belum bisanya diri saya mengikuti ajang unjuk bakat seperti yang disebutkan orang-orang itu.


Adakah cita-cita sebagai penyanyi? Yes! Ada. Lebih tepatnya sebagai musisi, jadi tak hanya sekedar bernyanyi. Sejak saya di usia belia, saya selalu melakukan kegiatan bermusik full dengan hati. Tak ada paksaan. Ya, karena memang saya cinta. Sampai suatu ketika saya menemukan sebuah quotes di suatu majalah yang berbunyi:

“Saya hanya orang biasa yang senang bernyanyi. Saya akan menginterpretasikan setiap lagu dengan baik dan berharap laguku bisa menyentuh hati semua orang.”

Hebatnya, hingga saat ini pepatah tersebut selalu menjadi semangat untuk saya menjadi seseorang punya semangat menyanyikan sebuah lagu tak hanya dengan suara, namun juga dengan hati.


Ngomong-ngomong soal hati, saya punya referensi bagaimana caranya berdamai dengan kekecewaan. Tentu, kita hidup nggak jauh-jauh dari kata kecewa, kan? Dan sekarang saya akan tunjukkan caranya.

Pertama: Know Your Heart.
Peka sama diri sendiri itu penting, lho. Kadang nih, ada seseorang yang di dalam hatinya sebenernya dia sedih, tapi ketika di luaran sana dia sok-sok tegar dengan ikut ketawa ketiwi bareng temen-temennya. Padahal di dalem hati dia nyanyi.. “Di dalam keramaian aku masih merasa sedih, sendiri memikirkan kamu....” gitu? Ah please, demi kesehatan mental dan kesejahteraan diri kamu sendiri, sudahlah. Jangan naif. Kamu harus bisa melakukan asesmen pada diri sendiri. Apakah kamu sedang sedih, marah, kesal, gundah, gulana atau yang lainnya. Dengan begitu, kamu akan punya strategi coping stress yang cocok juga.

Kedua: Let it Out.
Ketika kamu sudah mengenali apa yang kamu rasakan, coba ungkapkan dengan caramu. Tentu, yang utama cobalah mengungkapkan dengan cara yang positif. Dijamin, ketika kamu bisa mengungkapkan dengan caramu, itu akan membuatmu merasa lebih lega.

Ketiga: Get Some Perspective.
Ini penting! Baik untuk kamu yang ekstrovert, introvert, kalau kalian merasa kesusahan untuk mengatasi masalah yang kalian hadapi, kalian bisa ceritakan itu pada orang yang menurut kalian tepat dan bisa dipercaya. Dengan begitu, kalian akan mendapatkan pandangan-pandangan baru akan solusi dari permasalahan kalian. Bisa dibayangkan? Disitulah kalian juga akan bisa melihat mana orang-orang yang bisa mendengarkan kalian dengan penuh perhatian dan pemberi solusi yang baik. Please, jangan dipendam kalau kalian memang merasa masalah tersebut berat. Akibatnya fatal, Lho.


Keempat: Practice Acceptance.
Ini juga nggak kalah penting dari yang paling penting! Cobalah menerima kenyataan, dan bersyukur. Bersyukur tidak membutuhkan waktu yang lama, kan? Nah. Ini juga obat terampuh ketika kita sedang dilanda kecewa. Cobalah :)

Nah, tips di atas sering saya terapkan dalam hidup. Tapi... ada lagi. Saya juga punya tips bagaimana cara mencintai diri sendiri.
  1. Berbaiklah dengan dirimu.
  2. Maafkan dirimu. Jangan terus menyalahkan diri sendiri.
  3. Cuek aja dengan apa yang dikatakan orang lain tentangmu.
  4. Coba mulai buat ceritamu.
  5. Dan kelilingi dirimu dengan orang-orang yang positif.

Mungkin kelima hal akan membuat dirimu terhindar dari kekecewaan. Tidak, saya tidak menjamin, namun apa salahnya dicoba, ya kan?


Ah Lin, bosen tips terus. Sebenernya kamu di masa depan pengen jadi apa sih?

Oke, sebelum kita kenalan sama mimpi saya, saya akan kenalin dulu teman-teman disini dengan yang namanya Appreciative Inquiry. Appreciative Inquiry atau yang biasa disebut AI (duh, berasa panggil si Sayang, ya? AIJ), adalah sebuah proses menggali, mengenali dan belajar potensi diri sebagai modal mencapai impian. Simpelnya, dengan si AI ini, kamu bisa coba menggali lebih dalam mimpi kamu, lalu kamu bisa identifikasi apa aja potensi yang ada dalam diri kamu.

Nah, sudah mulai kenal dengan AI? Sekarang waktunya teman-teman kenalan dengan mimpi saya, ya. Sejujurnya, saya sangat punya banyak mimpi. Tapi, mimpi terbesar saya yang saya idam-idamkan hingga kini adalah..


Bayangkan saja, ketika saya ada di posisi tersebut, saya tak lantas bisa berdiri secara cuma-cuma. Ada hal-hal yang harus saya penuhi untuk berada di atas sana. Sederhana saja, saya kembali pada konsep AI yang saya jelaskan di awal tadi. AI membantu saya untuk mengidentifikasi hal-hal apa saja yang ada dalam diri saya yang bisa saya gunakan untuk mencapai mimpi saya tersebut.

Di dalam AI, dikenal adanya 5D, antara lain Definition, Discovery, Dream, Design dan Delivery/Destiny. Untuk lebih jelasnya, cek bagan di bawah ini:


Langsung saja, saya akan memaparkan satu per satu.

1.       Definition
Di atas saya sudah menyebutkan. Saya ingin menjadi seorang yang bekerja dalam bidang HRD (Human Resource Development). Tak hanya ingin bekerja di sana, saya ingin belajar lebih tentang segala teori yang saya terima saat ini. Saya ingin tahu bagaimana sakralnya menentukan nasib ratusan orang pencari ladang bekerja.

2.       Discovery
Dalam tahap ini, saya diajak untuk mengenali dan menggali kekuatan yang ada dalam diri saya. Dan di bawah ini adalah hasil identifikasi diri saya sendiri sebagai seseorang yang:
-          Ramah, mudah bergaul dengan orang sekitar
-          Cepat mempelajari hal baru
-          Suka menganalisis dan bekerja dengan cepat
-          Problem solver
-          Percaya diri, mempunyai communication skill yang baik
-          Mudah beradaptasi, bisa bekerja di dalam tim
-          Menyukai seni
-          Menyukai hal-hal yang berbau kompetisi dan seleksi
-          Berpikir sebelum melakukan sesuatu
-          Pekerja keras dan suka akan tantangan
Berdasarkan beberapa hal yang telah saya sebutkan di atas, menurut saya menyeleksi adalah seni. Maka dari itu, saya berminat dalam bidang HRD. Memang tidak semua aspek dalam diri saya suitable dengan mimpi yang saya tuliskan, tapi ada juga beberapa aspek yang cocok namun juga masih perlu dimatangkan kembali.

3.       Dream
Pada tahap ini, saya diajak untuk mengenali impian, dan visi ke depan tentang diri saya. Saya memimpikan berada pada suatu posisi yaitu HRD sedangkan dalam menjalankan tugas-tugas di posisi HRD, kriteria yang harus ada dalam diri seseorang adalah:
-          Punya jiwa kepemimpinan yang baik
-          Punya kemampuan komunikasi yang baik
-          Dapat memahami strategi perusahaan
-          Dapat mengelola secara tepat perubahan yang terjadi pada perusahaan
-          Harus mempunyai bussiness knowledge yang baik
-          Harus mampu mempersuasi dan memahami orang lain
-          Punya kemampuan khusus seperti mengoperasikan alat tes psikologi
-          Memiliki pengetahuan mengenai prosedur dan proses rekruitmen
Jika ditinjau kembali, saya punya kemampuan komunikasi yang cukup baik, bukan? Namun sisanya, tentu harus saya masak lagi sampai matang.

4.       Design
Nah, pada tahap ini, saya diajak untuk merancang WHAT, WHO DAN HOW untuk mewujudkan mimpi saya.

WHAT: apa saja yang harus dimatangkan?
-          Jiwa kepemimpinan
-          Kemampuan komunikasi
-          Kemampuan mempersuasi
-          Pengoperasian alat tes psikologi
-          Paham dasar prosedur dan proses rekruitmen

WHO: siapa yang akan menjadi pendukung dalam proses ini?
-          Orangtua dan keluarga
-          Teman/sahabat
-          Manager HRD
-          Rekan kerja
-          Masyarakat

HOW: bagaimana pribadi yang pas dengan mimpi diri sendiri?
-          Asertif
-          Mampu bekerja cepat
-          Open-minded dan kritis
-          Mampu melihat peluang
-          Analitis dan solutif

5.       Delivery/Destiny
Yang terakhir ini, tahapan dimana saya diajak untuk memaknai agenda perubahan, dan merayakan perubahan. Cara saya memaknai adalah dengan menggalang berbagai strategi untuk menjadikan diri saya pantas berada pada posisi HRD. Antara lain:
  1. Magang di Unit Terapan yang berhubungan langsung dengan asesmen perusahaan, yang menyediakan fasilitas belajar berbagai alat tes psikologi dan mengaplikasikannya langsung pada subjek yang akan diseleksi.
  2. Membaca buku yang berkaitan dengan HRD untuk memperkaya pengetahuan.
  3. Berkonsultasi pada orang-orang yang memang sudah punya pengalaman dalam bidang HRD, seperti dosen PIO atau staff-staff di perusahaan.
  4. Membangun koneksi dengan staff HRD yang memang kompeten di bidangnya.
  5. Merutinkan diri untuk menegakkan sholat Dhuha dan Tahajjud.



Yap, sampai sudah pada kata-kata terakhir yang akan saya sampaikan disini. Saya ingin terus menggenggam mimpi saya bersama Allah di samping saya, dan dimana pun saya berada. Saya tidak main-main jika berbicara tentang mimpi, karena ini adalah sebuah hadiah yang nantinya akan saya persembahkan juga untuk kedua orangtua saya.

Tidak hanya saya, teman-teman juga tentu bisa menerapkan beberapa cara di atas untuk mengembangkan diri masing-masing. Tak ada kata terlambat untuk belajar, dan tak ada umur tua untuk terus menambah pengalaman.



Terimakasih, sudah menyempatkan membaca.
Sungguh,
Saya senang bertemu lagi dengan kalian.
Tertanda,

Linda Rahmadhani Febrian.

Friday, January 6, 2017

Welcome 2017!

Hai semuaaa!!!
I know, I really know its been a long time from the last time we met.
Sudah hampir satu semester, namun masih kurang satu bulan.
Maafkan aku, viewersku sayang. Sekali lagi, maaf.
But now, I’m come back!
Life is unyu, here we go!

Yap, setelah sapaan yang luar biasa lebay di atas, aku masih ingat bulan ini merupakan bulan pertama di tahun 2017 which is it won’t go wrong if I said... HAPPY NEW YEAR!


Yaa!!! Selamat tahun baru, people! Kalau ditanya, apa resolusiku di tahun ini...banyak dan I won’t mention it one by one. Menurutku, resolusi yang harus dilaksanakan untuk Life is Unyu adalah... tingkatkan istiqomah dalam hal menulis. Itu sangat amat penting. Mengingat aku, sebagai satu-satunya penulis di sini sangat sulit istiqomah dalam menulis dan sering melakukan kekhilafan; seperti tidak menulis sama sekali dalam beberapa bulan, misalnya. Semoga, di tahun ini aku bisa insyaf dan mampu melahirkan kembali tulisan-tulisan berkualitas, seperti dulu saat aku muda. #berasatuadetected

Selama berbulan-bulan kemarin, banyak banget hal-hal baru yang aku alamin. Seperti misalkan, aku mulai kenal dan akrab secara tiba-tiba dengan yang namanya make-up, aku mulai rajin menonton beauty vlog di youtube, dan mulai praktik yang hasilnya juga cukup memuaskan. Ah, jadi timbul keinginan mereview produk yang affordable di kantong tapi tetep bagus muehehehe. Kalian setuju ga? Ada sih keinginan buat jadi beauty vlogger juga, tapi... ga tau berasa aneh aja kalau akunya dandan tapi maksudnya cuman buat bikin video. Hehe.

Oke, selanjutnya selain udah akrab sama make-up, aku juga akhir-akhir ini mulai aktif di channel youtube aku. Aktiifnya adalah berupaaa seringnya aku ngecover lagu-lagu, lalu aku upload ke youtube. Seruuu! Tapi sayang masih amatiran, jadi yaaa... video pun masih seadanya. Nah di bawah ini adalah salah satu video yang aku upload di youtube, yang paling banyak dapet viewers. Haha, ya ampun. Baru seratus doang dibilang banyak. But I really glad to see this! Rasanya tuh, kaya kalau misalkan kalian passionate sama sesuatu, dan kalian tunjukin ke seluruh dunia, dan ada 100 pasang mata yang udah nonton, gila, man! Sebagai starter, kalian udah luar biasa. And so do I. The key is, hargai setiap prosesnya. Hasil ngga akan menghianati proses. Begitu? Oke, selamat menonton!

Gimana?

Oke, rasanya masih biasa aja, sepertinya. Dan ya, aku juga masih perlu belajar banyaaak tentang gimana caranya survive di dunia per-youtuban.

Nah, mungkin ini adalah sapaan awal aku sama kalian semua. Next, aku bakal nulis hal-hal apa aja yang belum kalian tahu tentang aku, sebagai penulis, dan tentang mimpi aku di sepuluh tahun mendatang.

Hope you guys always keep your curious out of this site.
Once again,
HAPPY NEW YEAR!


With Love,

Me.