Monday, February 6, 2017

Ini 5 Tahapan yang Harus Kamu Lewati agar Bisa Ikhlas Menghadapi Patah Hati yang Super Nyesek

“Grief does not change you, Hazel. It refeals you.”

– John Green, The Fault in Our Stars.

Source: http://weheartit.com/entry/276264872/search?context_type=search&context_user=Madii07&page=4&query=the+fault+in+our+stars

Siapa sih yang nggak sedih ketika harus merasakan patah hati seperti yang dirasakan Hazel dan August di film The Fault in Our Stars? Mungkin kamu juga ikut terbawa suasana ketika nonton film ini ya, Dear? Tiba-tiba ingat bagaimana doi yang kita sayang meninggalkan kita. Apalagi jika kamu ditinggalkan saat sedang berada pada fase “sayang-sayangnya”.

Patah hati sangat identik dengan frustasi. Rasa frustasi tersebut timbul karena seseorang sedang berada pada fase kehilangan. Ternyata ketika patah hati, kamu juga mengalami fase kehilangan ini lho, Dear. Secara nggak sadar, kamu akan melewati setiap fasenya dengan kondisi dan respon yang berbeda-beda hingga kamu dapat merasa “ikhlas” terhadap rasa kehilangan tersebut.

Dalam psikologi, salah satu tokohnya yang bernama Elisabeth Kubler-Ross menulis The Five Stages of Grief untuk menjelaskan fase-fase apa saja yang kamu lalui ketika merasa kehilangan. Lima fase tersebut antara lain: 1. Denial (perasaan penolakan), 2. Anger (marah), 3. Bargaining (tawar menawar), 4. Depression (depresi), 5. Acceptance (penerimaan).

Source: https://id.pinterest.com/pin/572238696388706181/

1. Denial (perasaan penolakan)

Source: https://id.pinterest.com/pin/514043744950425442/

Denial merupakan tahapan pertama yang akan kamu lalui, Dear. Dalam fase ini kamu akan menyangkal bahwa situasi kehilangan tersebut benar-benar terjadi.

“Ini nggak mungkin terjadi.”
“Aku gak apa-apa.”
“Ah, dia lagi bercanda nih.”

Ada kah dari kamu ketika patah hati mengucapkan salah satu kalimat di atas, Dear? Jika iya, berarti kamu mulai memasuki gerbang dari fase kehilangan ini. Hal ini normal terjadi pada saat otakmu masih belum bisa berpikir logis. Kamu seakan-akan menghindari fakta yang ada dengan berbagai respon penolakan.

2. Anger (marah)

Source: https://id.pinterest.com/pin/83527768069682081/

Anger, atau fase marah-marah ini jadi tahapan selanjutnya setelah denial, Dear. Simpelnya, habis denial terbitlah anger. Saat rasa sakit kembali muncul dan kamu belum siap menghadapinya, fase marah ini lah yang akan kamu lakukan sebagai media penyembuhan.

“Ini nggak adil!”
“Tuhan dimana sekarang? Kenapa harus aku yang ada di posisi ini?”
“Harus sesakit ini? Harus aku yang rasain?”

Dear, ketika kamu pernah menyebutkan salah satu dari kalimat di atas atau mungkin kalimat lain yang menunjukkan kemarahan, you definitely on this stage. Pada fase ini, kamu seakan marah pada segalanya tak terkecuali pada Tuhan. Hal ini wajar, karena kamu memang harus melalui fase ini walau kemarahan tampak tidak berujung. Karena semakin kamu mampu merasakannya, kemarahan juga semakin cepat menghilang dengan sendirinya.

3. Bargaining (tawar menawar)

Source: https://id.pinterest.com/pin/464715255285578244/

Sesuai dengan namanya, bargaining atau tawar menawar biasanya akan kamu hadapi setelah kamu marah sejadi-jadinya, Dear. Dalam fase ini, kamu seakan-akan membayangkan kembali sosok doi yang meninggalkanmu sambil memikirkan:

“Kalau aja kita bisa balik, aku janji nggak akan posesif lagi”
“Misalkan suatu saat kita disatuin lagi, aku bakal bisa jadi yang lebih baik...”
“Kenapa kamu ninggalin aku sekarang? Padahal kalau kamu bertahan lebih lama, aku pasti bisa jadi kayak yang kamu mau...”

Secara tidak sadar, pikiran-pikiran tersebut datang dan seakan-akan membuat kesepakatan. Kesepakatan ini tak hanya kamu sampaikan pada diri kamu sendiri, bisa jadi kamu juga membuat kesepakatan ini dengan Tuhan. Perlu kamu ketahui, ini adalah fase rawan, Dear. Bisa jadi kamu akan kembali ke fase sebelumnya, atau lulus menuju fase berikutnya. Semuanya kembali lagi pada bagaimana kamu menghadapi dan mengatasi kesedihan yang kamu alami.

4. Depression (depresi)

Source: http://weheartit.com/entry/277241946/search?context_type=search&context_user=stilinskirhee&query=cry

Depression membawamu pada tahap menyadari bahwa segala sesuatunya memang nyata terjadi, Dear. Pada tahap ini, dimungkinkan kamu akan lebih memilih untuk berdiam diri di kamar dan menangis.

“Aku kangen kamu...”
“Terus kalau aku mati sekarang, apa pedulimu?”
“Kalau detik ini aku terjun ke jurang pun mungkin kamu akan tetap pergi.”

Sangat disarankan kamu menikmati kesendirian ini. Hal ini dikarenakan pada fase ini kamu diberikan kesempatan untuk menyadari bahwa sesuatu yang telah pergi tidak akan kembali lagi. Dan di akhir dari fase depresi ini, kamu mungkin akan membutuhkan pelukan hangat dari orang-orang terdekatmu, Dear.

5. Acceptance (penerimaan)

Source: https://id.pinterest.com/pin/54676582953834464/

Fase acceptance, akan tiba setelah fase-fase sebelumnya telah kamu lalui dengan baik. Dalam tahap ini kamu akan merasa life must go on even without him. Akan ada energi baru yang lebih positif mengisi hati dan pikiranmu. Seakan-akan fase ini benar-benar menunjukkan suatu keadaan dimana habis gelap, terbitlah terang.

“Everything gonna be okay..”
“Jika dia pergi, berarti dia tak baik untukku.”
“Hidup tak harus melulu tentang pacar.”

Jika kamu sudah mulai berpikiran positif seperti itu, it means you truely win the games. Kamu telah bebas dari segala hal yang membelenggu pikiranmu. Bukan berarti kamu sudah move on dari si doi, Dear. Tapi paling tidak kamu sudah bisa belajar untuk menerima kenyataan dan berusaha hidup lebih baik lagi.

Last but not least...

Kamu perlu menggaris bawahi bahwa tahapan ini terkadang tidak selalu dimulai dari fase awal denial, Dear. Bisa jadi kamu langsung menuju ke fase anger, atau bahkan depresi. Pada fase depresi pun, akan ada kemungkinan kamu kembali ke fase sebelumnya apabila tidak berhasil mengontrol emosi dalam dirimu. Waktu yang ditempuh seseorang dalam menempuh serangkaian tahapan ini pun berbeda-beda hingga ia mampu mencapai fase acceptance. Tidak hanya mampu melewati setiap fasenya, namun yang terpenting dari serangkaian tahapan ini adalah bagaimana kamu mampu menyembuhkan diri sendiri serta mengontrol emosi dengan baik agar tidak mengulang tahapan sebelumnya.

“Don't cry because it's over, smile because it happened.”

– Dr. Seuss



Referensi

Axelord J. The 5 Stages of Grief and Loss. Diakses melalui https://psychcentral.com/lib/the-5-stages-of-loss-and-grief/.

Kessler D. The 5 Stages of Grief. Diakses melalui http://grief.com/the-five-stages-of-grief/.

Wikipedia. Model Kubler-Ross. Diakses melalui https://id.wikipedia.org/wiki/Model_K%C3%BCbler-Ross.

No comments:

Post a Comment