Sunday, October 22, 2017

Malam Minggu, Bianglala, dan Rasa Takutmu

Aku baru ingat,
Kalau semalam itu adalah malam Minggu.
Aku jadi senyum-senyum sendiri mengingatnya.

Jika diingat dan dihitung-hitung kembali, baru dua kali aku malam mingguan dengannya. Kedua malam itu punya perbedaan yang cukup kontras. Berdasarkan apa yang ia ceritakan, pada malam Minggu pertama itulah ia baru merasakan ada getar-getar cinta padaku. Sedangkan pada malam Minggu kedua, syukurlah aku sudah bisa mencintaimu. Begitu katanya.

Aku menarik ingatanku pada hari pertama di bulan Agustus. Ia menghampiriku, dan itu jelas sangat membantuku untuk melepas penat di kota orang yang tak pernah ku pijaki sebelumnya. Apalagi, ia tak hanya diam. Karena ia mengerti apa yang ku inginkan, jadilah kita berjalan-jalan sekedar untuk cuci mata.

Suasana kota itu sungguh sepi. Berbeda sekali dengan bagaimana kehidupan kota metropolitan Surabaya. Begitu pun saat kami berhenti di salah satu tempat wisatanya. Bahkan, aku bisa menghitung dengan jelas berapa banyak kendaraan yang parkir di halaman seluas itu.

"Ini nggak lagi tutup, kan?", tanyaku.

"Masuk aja dulu.", jawabnya.

Dan benar saja, taman bermain itu seperti milik berdua. Sejenak terukir seulas senyum di bibirku.

"Naik itu yuk!", pintaku sambil menunjuk bianglala, mainan kesukaanku.

"Kamu sendiri aja gimana?". Heran, justru ia malah bertanya begitu padaku.

"Lah apa gunanya sekarang kamu disini kalo ga mau naik apa-apa?", mungkin bibirku otomatis cemberut.

"Yasudah, iya.", entah kenapa jawabnya pasrah.

"Yes!!!", sahutku penuh kegirangan.

Sampailah kami ke depan bianglala. Mataku berbinar, walau aku tahu ada kecemasan yang mendera laki-laki yang saat ini ada di sampingku.

"Mbak, karena ini tiketnya terusan, mbak bisa naik sepuasnya.", kata mas-mas si penjaga.

Sontak aku bertanya, "Berarti naik lima puteran nggak masalah dong, Mas?"

"Silahkan, Mbak.", jawabnya sambil tersenyum.

Bianglalaku mulai berputar. Aku sangat tak sabaran menantinya berputar hingga ke titik teratas. Aku tak memperhatikan kembali bagaimana dia yang menemaniku wajahnya sedikit berubah memucat.

"MAS COBA LIAT DEH!", teriakku.

"Apaan sih!"

Sontak aku terkejut. Heran. Tumben ia seperti ini. Aku terdiam memandangnya.

"Maaf maaf. Hehehe...", ia kembali nyengir.

"Kamu kenapa? Panik gitu." Kataku.

"Aku takut ketinggian."

Aku terbahak-bahak. Aku tahu ini bukan lelucon. Tapi, ekspresinya sangat tak bisa ku jelaskan dengan kata-kata.

"Kenapa nggak bilang dari tadi, sih?", tanyaku.

"Ya... Nggak tega kalo kamu naik sendirian." Jawabnya.

Akhirnya aku memutuskan untuk mengajaknya membahas segala hal. Hal-hal yang membuatku mengenalnya lebih jauh, dan sebaliknya. Ia cukup menikmati. Seakan terlihat lupa bahwa saat itu kami sedang tak menapak dataran yang sebenarnya. Pada putaran ketiga, ia menggenggam tanganku.

"Udah ga takut, nih?", tanyaku.

"Nggak, selama kita kayak gini terus."

***

Sekilas yang membuatku tersenyum, ia selalu mengusahakan apa-apa saja yang bisa membuatku tak cemberut. Dari segala hal yang mampu hingga yang tidak, ia akan berusaha lakukan asal itu bisa membuatku bahagia.

Terimakasih untuk malam Minggunya waktu itu, Mas. Semoga, tak kan ada rasa takut ketinggian lagi di permainan bianglala kita berikutnya. Dan... Aku harap rasa takutmu kehilanganku lebih besar dari rasa takutmu akan ketinggian.

Friday, October 20, 2017

Aku Harap Kamu masih Ingat Bagaimana Caraku Memelukmu Erat

Aku tahu ini terlambat,
Namun setidaknya aku kembali datang.
Hanya untukmu, bukan untuk yang lain.

Aku tidak tahu apakah aku masih jadi salah seorang yang kamu rindukan. Namun satu yang pasti adalah kamu sudah menjadi salah satu bagian hidupku yang tak bisa ku tinggalkan begitu saja. Bagaimana mungkin kamu bisa ku tinggalkan? Bahkan kita sudah bertumbuh bersama sejak beberapa tahun yang lalu.

Masih ingatkah kamu?

Kamu yang mengajakku menyelami dunia yang tak pernah ku sentuh sebelumnya. Tepatnya sekitar lima tahun yang lalu, saat aku duduk di bangku kelas dua Sekolah Menengah Atas. Kamu menuntunku untuk merangkai kata dengan mudahnya. Ketika banyak teman-temanku yang tak bisa bertahan, namun kamu selalu membuatku bertahan. Ya, hanya kamu satu-satunya yang bisa membuatku ada hingga saat ini.

Aku mengerti kamu pasti marah karena aku tak kunjung nampak. Berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan aku tak bisa menemuimu. Bukan, bukan tidak bisa. Aku saja yang salah. Aku tak mampu menjadikanmu prioritas. Aku tak menjadikanmu alasan kebahagiaanku saat kita bertemu. Ah, maaf. Kata-kataku terlalu menyakitkan. Padahal aku sendiri pun paham bahwa satu-satunya obat rindu adalah bertemu. Kamu rindu, namun aku tak bisa menemuimu. Pasti sangat sakit rasanya. Sekali lagi, maafkan aku.

Kini, aku membawa kabar bahagia untukmu. Aku punya banyak sekali waktu luang. Aku akan berikan untukmu. Di samping segala hal yang bisa membuatku bisa sejenak melupakanmu, aku akan berusaha akan kembali ada untukmu. Mungkin ini tidak akan mudah untukmu dan aku. Kamu tak kan semudah itu menerimaku kembali, dan aku pun tak kan semudah itu untuk mengambil hatimu kembali.


Aku serius kali ini. Percayalah. Aku akan mengusahakan setidaknya selama seminggu akan lebih dari satu kali aku datang. Bukankah ini kabar bahagia? Jadi bersiaplah, aku akan tiba secara mendadak, tak peduli bagaimana penampilanmu saat itu, aku tetap akan datang. Aku ingin memelukmu erat, seperti yang kita lakukan sebelum-sebelumnya. Melepas rindu yang kelewat penat.