Saturday, December 16, 2017

Coco (2017) [Film Review]

Jujur ini kali pertama saya bikin review film. Kemarin-kemarin, bahkan sampai 2x saya nonton film yang menurut saya bagus, saya juga nggak bikin reviewnya. Hehehe.

Jadi, beberapa hari yang lalu saya diajak nonton temen-temen BEM. Nonton “COCO”. Dipenghujung tahun 2017 ini siapa yang nggak tahu film ini, kan.

Coco

Film ini menceritakan tentang seorang anak yang terlahir dari keluarga pembuat sepatu. Bisnis membuat sepatu itu dirintis nenek moyangnya, Mama Imelda karena sakit hati ditinggal suaminya yang lebih memilih musik daripada keluarga. Karena itulah, “musik” dianggap sesuatu yang terkutuk dalam keluarga mereka. Singkat cerita, anak kecil bernama Miguel justru sangat berbakat dalam bermusik. Ia melakukan apa saja agar bisa menjadi musisi. And i know the struggle to be a great musician was real, bruh. Selain perjuangan, film ini juga mengajak penonton buat selalu ingat sama semua orang yang kita cinta. Baik yang masih ada, walaupun yang sudah tiada. Lagu yang jadi soundtrack film ini, judulnya Remember Me, pasti nancep di hati semua orang.

Banyak yang bilang, film ini bagusss banget, bahkan ada yang nonton sampai 2 kali saking bagusnya. But personally, its just good. Pesannya sangat tersampaikan. Apalagi, untuk temen-temen yang berbakat dalam hal musik namun masih terhalang restu orang-orang terdekat, film ini pasti bikin 100% nangis because its sooo related! Buat saya, yang sama-sama berbakat dalam bermusik, tentu film ini samgat relatable. Tapi masih belum terlalu touchy karena alhamdulillah orang-orang terdekat saya masih sangat mendukung.

Karena ini honest review dari saya, jadinya saya mencoba untuk mereview apa adanya, ya. Hehehe. Saya biasanya kasih rating (menurut saya sendiri sih) 1-5

  1. Biasa aja
  2. Okelah
  3. Cukup menarik
  4. Bagus
  5. Bagus banget!!!


Dan untuk Coco, saya kasih 4! Hehehe.

Buat yang belum nonton, buruan!!! Worth to watch banget! :)

Tuesday, December 12, 2017

Hello Job Seekers

Hello, job seekers.
Baru ku sadari, perjuangan kalian sangatlah tertatih.



Tepat hari ini, rasanya salah satu resolusiku di tahun 2017 hampir musnah. Penyebabnya adalah aku masih belum diberikan kesempatan untuk mencicipi dunia kerja. Magang adalah salah satu targetku di tahun ini. Namun sayangnya, hingga detik ini, yang mana sudah masuk akhir Desember 2017, lamaran magangku belum juga ada yang diterima. Sudah ku jalani serangkaian tes yang ada. Namun nihil. Tuhan belum mengatakan "iya" untuk itu.

Ini merupakan yang kedua kalinya aku ditolak. Dulu, yang pertama, aku sudah mengetahui alasannya dan itu masuk akal bagiku. Namun kali ini, belum. Aku tahu itu bukan hak ku untuk tahu. Tapi baiknya, Tuhan tunjukkan sendiri apa penyebabnya. Sudah dua kali aku ditolak, itu berarti sudah kedua kalinya juga mimpiku belum bisa diwujudkan. Menurutku, normal jika aku masih menganggap bahwa segalanya tidak mungkin terjadi. Itu menurutku. Karena tentu, aku masih dalam tahap denial. Dan tiba-tiba.. Terpikirlah di benakku. Bagaimana nasib job seeker di luar sana yang mungkin bernasib lebih kurang beruntung daripada aku? Apakah sebegini susahnya berada di posisi mereka?

Banyak dari mereka yang justru bilang "welcome to the real world, baby.", kepada sesama teman mereka yang baru mengusaikan sidang kelulusannya. Bukan aku tak mengerti artinya, namun sejujurnya aku masih terkesan abu-abu akan maknanya. Ada apa dengan dunia yang sesungguhnya? Apakah dunia memang begitu keras seperti yang dibilang kebanyakan orang? Atau di dunia banyak peperangan yang tak kasat mata? Aku tidak tahu pasti, awalnya. Namun semakin kesini, justru aku semakin merasakan bagaimana makna dari kata demi kata tersebut.

Didukung dengan banyak hal yang menemani hari-hariku saat ini menjalani semester akhir menuju sarjana, seperti sahabat yang mulai jarang bisa ditemui, harus menyelesaikan tugas akhir sendiri, belum lamaran magang yang ditolak kedua kali, membuatku sadar bahwa aku sedang menghadapi pintu masuk dari dunia sesungguhnya. Segala sesuatunya harus ku usahakan sendiri. Sudah tidak bisa bergantung dengan orang lain. Mau tidak mau aku harus melupakan kebencianku akan sendirian. Ya, aku harus berani untuk berjalan sendiri. Aku harus sadar bahwa akulah yang menentukan semuanya di dalam hidupku.



Teman-temanku yang saat ini sedang berjuang di luar sana, aku sedikit demi sedikit memahami bahwa apa yang kalian lakukan saat ini bukanlah hal yang mudah. Aku juga perlahan mengerti bagaimana sulitnya mencari hal bernama pekerjaan. Sehatlah kalian selalu, karena mencari itu butuh kekuatan. Dan semoga.. Allah selalu mendekatkan.

Aamiin.

Friday, December 8, 2017

Kamu Menarik, dan Itu Cukup Untukku

Bagaimana jika kita ternyata bisa jatuh cinta pada pandangan pertama?



Kita serba tidak tahu orang baru mana lagi yang akan kita temui di kemudian hari. Kita juga tidak akan pernah tahu bagaimana orang tersebut akan berperilaku di hadapan kita tepat untuk pertama kalinya. Yang bisa kita ketahui adalah bagaimana kita meunjukkan respon yang sesuai dan tentunya baik untuk mereka.

Terpesona. Itulah yang aku rasakan ketika pertama kali batang hidungnya muncul di hadapanku. Sejak ia membuka pintu kala itu, kedua bola mataku tak lepas mengiringi setiap langkahnya, memperhatikan dari ujung kepala hingga kakinya, sampai akhirnya ia duduk tanpa curiga sedikitpun. Ini baru kali pertama, dan tentu namanya akan menjadi catatan sejarah untuk hidupku.

Berbagai reaksi fisiologis tak beraturan pun muncul. Jika dalam ilmu psikologi, hal itu disebut dengan psikosomatis. Beberapa menit setelah ia mendaratkan dirinya ke posisi duduk ternyaman, giliran ku yang mohon izin untuk meninggalkan ruangan. Alasannya ke toilet, padahal tentunya tidak.

Ini berlebihan, aku tahu. Namun sungguh, aku benar-benar ingin pingsan. Lututku rasanya tak mampu menahan berat tubuhku. Wajahku bersemu merah seperti kepiting rebus ditambah saus asam manis. Telapak tanganku seperti pasca menggengam es batu, begitu dingin. Tapi memang inilah yang terjadi. Aku merasa ada yang berbeda saat melhatnya.

Aku tidak percaya bahwa hal yang semacam ini ada. Jatuh cinta pada pandangan pertama itu nyata adanya. Jangan salah paham. Bukan cinta, namun jatuh cinta. Ia semacam satu-satunya orang yang bisa membuatku percaya akan hal gila semacam itu. Bahkan setelah ia pergi dari tempat kita bertemu saat itu, aku masih tidak bisa lepas dari bayangannya.

Ini kali pertama untukku. Setelah sekian cinta telah ku lewati untuk mengisi beberapa episode drama dalam hidupku, namun ini benar-benar menjadi yang pertama. Aku jatuh cinta dengan gaya yang biasa disebut orang-orang di luar sana. Gila. Buta. Mendadak bodoh. Atau apapun yang lainnya. Aku tidak peduli.



Yang aku tahu kamu sungguh menarik.

Dan aku suka itu.

Wednesday, December 6, 2017

Segalanya Ku Wakilkan dengan Rindu

Tuhan adalah Sang Pembolak-balik hati manusia.
Tidak ada satu manusia pun yang tahu kapan hatinya akan dibalikkan.
Tidak ada satu insan pun yang tahu kapan orang yang disayanginya dibalikkan hatinya.
Iya, manusia memang serba tidak tahu.

Masih lekat dalam ingatan bahwa tepat enam bulan yang lalu, cerita ini dimulai. Aku tidak tahu siapa kamu, mendadak menyerobot masuk dalam kehidupanku. Dan aku pun juga tidak tahu, mengapa aku mempersilahkanmu masuk saat hatiku masih tak berbentuk. Aku baru saja disakiti saat itu dan Tuhan tiba-tiba hadirkan kamu. Itu sesuatu yang patut aku syukuri, bukan?

Namun akhir-akhir ini, aku terlalu sering merindukanmu. Berbeda dari waktu-waktu yang lalu. Terlebih saat kamu tahu apa saja kebiasaan yang ku suka, dan tidak. Kamu sempat mengatakan akan menculikku kalau tidak mau makan. Kamu sempat mengatakan takut aku bosan dengan seseorang sepertimu. Kamu sempat mengatakan apapun asal aku bahagia. Namun kini aku tak makan pun, apa pedulimu. Aku tak sedang bahagia pun, apa kau juga menengok padaku. Iya, secepat itu.

Hujan, genangan, kilat dan petir. Kamu ingat aku selalui ingin menembusnya denganmu, kan? Aku selalu bahagia melihat hujan datang saat aku tengah bersamamu. Namun saat ini tidak. Aku sendiri. Bersama orang-orang asing yang tengah asyik dengan diri mereka masing-masing.

Dari segala hal yang terasa berat, dari segala hal yang menjadi beban, aku hanya mewakili mereka semua dengan satu kata saja. Rindu. Entah apa yang kamu rasakan saat ini, aku tidak peduli. Aku selalu membesarkan hatiku atas apapun yang kamu katakan, yang kamu lakukan. Aku mencoba tersenyum atas segala hal yang sekalipun bisa menyayat hatiku dalam-dalam. Bahagiamu lebih penting, pikirku.

Dalam diam mu, cobalah untuk menjawab jujur.
Pernahkah kamu memikirkan sedikit saja apa yang aku rasakan?
Pernahkah kamu mengira bahwa sebenarnya tidak ada yang baik-baik saja dalam diriku?
Pernahkah kamu merasakan rindu untuk kesekian kalinya melihatku tertawa lepas tanpa beban?

Cukup jawab iya, atau tidak.
Karena sebanyak apapun jawaban tidak darimu, akan tetap aku usahakan yang terbaik untukmu.

Salam dariku,
Salah satu perempuan pereda rasa takut ketinggianmu.