Monday, April 2, 2018

Our Last Magic Hour (Part 1)

Bertemu dengan dia untuk pertama kalinya adalah pertemuan kami yang sangat wajar, bahkan biasa saja. Dulu kami satu sekolah, dan tidak ada istimewa-istimewanya sama sekali. Bahkan kalau bisa dibilang biasa saja. Dia mengenalku, dan aku mengenalnya. Sesederhana itu saja.

Namun bertemu dengan dia untuk saat ini—aku namakan pertemuan yang kedua kalinya—terasa cukup istimewa. Kami bisa dibilang lebih dari sekedar ‘mengenal’ biasa saja. Ada beberapa hal yang bisa membuat kami menjadi lebih dekat dari sekedar teman. Dari beberapa hal tersebut, di antaranya mampu membuatku sering senyum-senyum sendiri. Ah tidak, bukan hanya tersenyum, tapi juga tertawa lepas. Dia lucu, dan mungkin aku juga.

Beberapa bulan belakangan ini, beberapa hari di antaranya ku lalui dengannya. Entahlah, bagiku dia selalu hadir dengan salah satu hal yang aku suka. Dan itu selalu terjadi hingga menjelang waktu perpisahan kami di stasiun sekitar dua bulan yang lalu. Iya, dua kota tempat kami melanjutkan pendidikan cukup membuat kami bisa dikatakan ‘dipisahkan’ oleh jarak. Bukan puluhan, namun sudah ratusan kilometer.

Dari sekian banyak pertemuan kami, tentunya yang paling sedih adalah cerita saat-saat dimana stasiun menjadi perantara perpisahan kami. Iya, sebuah cerita perpisahan antara Surabaya dan Jakarta.

***

Malam ini kami memutuskan untuk makan malam bersama. Destinasinya adalah kedai sushi kesukaan kami.

“Aku tidak mungkin menangis disini.”, batinku. Aku tak berkata apa-apa padanya.

Setelah makanan kami habis, ia mengajakku ngobrol sejenak.

“Hey.”, sapanya padaku, sambil memandang langsung ke mataku.

“Ya?”

“Sedih, nggak?”, tanyanya.

Entah, pertanyaan macam apa itu.

“Tentu.”, jawabku singkat. Aku masih berusaha tidak meruntuhkan pertahananku. Ini masih terlalu awal untuk menangisi segalanya.

“Sedihnya kenapa?”

“Banyak.”

“Apa?”

“Duh, aku nggak suka.”, aku tidak menjelaskannya secara langsung. Aku takut menangis di hadapannya.

Tell me, baby.”, katanya lembut sambil menggenggam jemariku.

“Ya…nanti nggak akan ada yang bisa diajakin jalan-jalan, walau cuman sekedar makan bakso. Nggak ada yang…”, aku mencoba menjelaskan, namun pertahananku gagal. Aku tidak bisa sekuat yang aku inginkan.

Dia mencoba memandang mataku semakin dalam. Tentu kalian pasti tahu apa yang terjadi selanjutnya. Tangisku makin menjadi. Dan aku benci itu. Aku benci menangis di tempat umum, apalagi sambil dia melihatku sekacau itu.

My hometown aint gonna be the same again without you. Kalau aku mau jalan-jalan liat yang ijo-ijo, kalau aku suntuk, aku nggak akan bisa ketemu kamu.”, jelasku terbata-bata sambil mengatur nafas dan derai air yang jatuh dari pelupuk mataku.

“Sayang, look. Coba inget lagi. Akhir kaya apa yang kamu harapin dari aku?”, tanyanya.

“Yang seneng, lah. Yang akhirnya sama kamu. Pokoknya sama kamu.”, jawabku. Terdengar seperti bocah yang tidak ingin berpisah dari boneka kesayangannya. Tapi tidak. Aku bukan bocah, dan dia bukan bonekaku, melainkan kekasihku.

Okay, then. Just remember it, babe. We have the same finish line. Lets consider if we are running on the line that has a finish line, and we are gonna reach it together. Not only you, but also me, us.”, jelasnya. Ini cukup menenangkan, hanya saja tidak meredakan air mataku yang mengalir begitu saja walau aku tak pernah mengizinkan.

Aku masih terdiam menelaah setiap katanya. Walau sedih pada kenyataannya, namun bahagia saat ingat bahwa dia selalu bisa membuatku lebih kuat.

“Just say to yourself.”, katanya.

“Say what?”

“I have to be strong.”

Dengan air mataku yang kembali bergulir, aku mengikuti kata-katanya, “I have to be strong.”

“Good girl, sayang. I love you.”

“Ya, I love you more, babe.”

Senyumku muncul tak lama kemudian. Dia mengikutinya dan matanya berkata seakan, “Gitu, dong… senyum.”

***

To be continue...

No comments:

Post a Comment